Total Pageviews

Friday, November 19, 2021

Rumah Budaya Tembi, Rumah Penginapan Khas Yogyakarta

 

Rumah Budaya Tembi,Penginapan,Penginapan Tradisional,Penginapan di Yogyakarta,Rumah Budaya,Yogyakarta,Budaya,


Jika anda akan berlibur di Yogyakarta untuk beberapa hari, baik sendiri maupun bersama keluarga atau rombongan dan anda berencana mencari tempat penginapan yang asri dengan suasana rumah tradisional Jawa yang adem, maka Rumah Budaya Tembi bisa menjadi bahan pertimbangan anda.

Rumah Budaya Tembi berada di dusun Tembi, desa Timbulharjo, Sewon, Bantul. Dapat ditempuh 20 menit dari pusat Jogja ke arah selatan. Anda bisa lewat Jalan Imogiri Barat atau Jalan Parangtritis jika dari arah kota Jogja. Lokasinya mudah dicapai karena berada di tepi jalan raya.

Rumah Budaya Tembi, seperti halnya namanya merupakan tempat penginapan yang menawarkan konsep rumah tradisional, dengan view sawah dan gunung Merapi yang menjulang. Di sana ada delapan rumah limasan, rumah tradisional Jawa yang terpisah-pisah bangunan yang satu dengan bagunan yang lain sehingga jika menginap di sana kita serasa berada di salah satu rumah di dalam perkampungan Jawa, serasa menginap di rumah nenek.

 

Baca juga : Kopi Panggang

Video : Kopi Panggang

 

Selain menyediakan tempat untuk menginap, di kompleks Rumah Budaya Tembi juga terdapat beberapa fasilitas yang bisa dipakai pengunjung. Misalnya gedung yang bisa dipakai untuk tempat rapat atau seminar, pendopo yang biasa digunakan untuk berbagai macam acara, misalnya pameran kesenian, pentas seni, pembacaan macapat, pagelaran wayang kulit maupun acara lain yang berhubungan dengan budaya.

Di sana juga menyewakan tempat untuk acara resepsi pernikahan, bisa indoor maupun outdoor. Jika anda menginginkan suasana yang “nJawani,” tempat ini cocok dijadikan pilihan.

Di Rumah Budaya Tembi juga ada museum yang berisi koleksi gamelan, museum barang antik, galeri lukisan, perpustakaan buku tentang budaya Jawa dan tempat penyimpanan pusaka/keris.

 


Terdapat juga kolam renang yang berada di area penginapan. Walaupun tidak besar, kolam renang ini cukuplah digunakan untuk sekedar berendam. Jangan khawatir, karena letaknya di dalam kompleks, kolam ini tidak terlalu ramai, biasanya hanya digunakan oleh orang yang menginap di sana. 

 

Baca juga : Kirab Siwur 1 Suro Imogiri

 

Di Rumah Budaya Tembi juga terdapat restoran yang mempunyai menu yang diambil dari serat Centhini. Menu andalan utamanya yaitu burung dara goreng. Selain restoran, juga ada angkringan di area depan jika anda ingin suasana yang lebih ringan.

 


Selain menyediakan tempat, Rumah Budaya Tembi juga membuka kelas untuk belajar tari, biasanya untuk anak-anak dan remaja. Di sana juga ada kelas belajar untuk menjadi “pranoto coro” pembawa acara dalam bahasa Jawa halus. 

 

 

 

 

 

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik


Mitoni - Selamatan Tujuh Bulanan Kehamilan dalam Tradisi Jawa

 



hamil,Mitoni,Adat Jawa,Adat,Selamatan,Selamatan Tujuh Bulanan,Selamatan Tujuh Bulanan Kehamilan,tradisi,Tradisi Jawa,

 

Dalam tradisi budaya Jawa ada istilah namanya “mitoni.” Mitoni berasal dari kata “pitu” yang artinya tujuh. Mitoni adalah upacara selamatan atas kehamilan yang telah memasuki usia tujuh bulan. Menurut perhitungan Jawa, di usia tujuh bulan si jabang bayi dianggap sudah “tua, ”sudah cukup umur dan sudah siap untuk dilahirkan di dunia. Dengan diadakannya selamatan mitoni ini diharapkan calon bayi yang akan lahir dapat lahir dengan lancar dan selamat. Selamatan ini hanya berlaku untuk kehamilan anak pertama, sedangkan untuk kehamilan anak kedua dan seterusnya tidak perlu diadakan selamatan mitoni.

Prosesi mitoni diawali dengan acara sungkeman. Si calon ibu sungkem kepada orangtua, mertua dan juga suaminya sebagai bentuk permohonan doa restu agar diberi kelancaran dan keselamatan sampai pada saat melahirkan nanti.

Prosesi yang kedua yaitu siraman. Siraman merupakan simbolisasi agar si calon ibu membersihkan diri jiwa raganya agar pada saat melahirkan nanti bisa melahirkan anak dalam keadaan bersih dan bisa terhindar dari hal-hal yang buruk.

Siraman biasanya dilakukan di halaman samping rumah (pada jaman dahulu setiap rumah masih memiliki halaman yang luas, pada saat ini lokasinya biasanya dialihkan ke kamar mandi).

Dalam prosesi ini dimulai acara berdoa yang dilakukan oleh kaum bapak yang terdiri dari orang tua, sanak saudara dan tetangga, sementara si calon ibu menjalani prosesi siraman. Pada saat bapak-bapak mulai meng-aaamiiin-kan doa, kaum ibu juga mulai memandikan si calon ibu tersebut dengan air bunga setaman. Prosesi ini biasanya dipimpin oleh dukun atau orang yang dituakan. Siraman pertama dilakukan oleh ibu, kemudian ibu mertua, nenek, bu dhe, bu lik, dan kerabat seterusnya sampai berjumlah tujuh orang, dengan catatan yang memandikan tersebut sudah menjadi ibu. Pada saat memandikan, air harus disiramkan ke seluruh badan dari mulai ujung rambut, badan sampai kaki kemudian disiramkan sampai ke belakang sejauh-jauhnya dalam setiap kali guyuran, sampai tujuh kali. Pada saat menyiramkan air ini si penyiram akan menyiramkan air sambil mengucapkan doa untuk keselamatan si jabang bayi.

Baca juga : Rewang

Setelah prosesi siraman selesai dilanjutkan dengan prosesi brojolan. Si calon ibu memakai kain putih kemudian suaminya meluncurkan telur dari atas kain melewati perutnya sampai jatuh dan pecah. Itu merupakan simbol harapan agar si bayi bisa lahir dengan lancar tanpa adanya hambatan apapun.

Proses selanjutnya yaitu memutus “lawe.” Lawe yaitu tali. Perut si calon ibu dililitkan janur kemudian suaminya memutuskan janur tersebut menggunakan sebilah keris. Maknanya agar si ayah bisa memutuskan semua halangan yang bakal merintangi proses melahirkan nanti.

Setelah itu dilanjutkan acara memasukkan sepasang cengkir gading yang sudah digambari Arjuna-Sembadra atau Kamajaya-Dewi Ratih, dengan memasukkan cengkir gading melewati sarung yang dipakai si calon ibu. Ibu dari si calon Ibu (nenek) yang memasukkan cengkir gadingnya, sedangkan ibu mertua dari si calon ibu yang menerimanya. Maknanya agar proses melahirkan nanti bisa lancar, dan si bayi bisa memiliki wajah yang rupawan seperti Kamajaya-Dewi Ratih atau Arjuna-Dewi Sembadra. Memiliki sifat-sifat wibawa, kebijaksanaan, kecerdasan dan sifat-sifat yang baik lainnya seperti yang dimiliki oleh tokoh wayang tersebut.

Jika sudah kedua cengkir gading tersebut dimasukkan ke dalam gentong dan si ibu mertua akan mengaduk-aduk kemudian mengambilnya secara acak. Menurut kepercayaan, jika yang terambil gambar wayang Arjuna atau Kamajaya, maka anaknya akan lahir laki-laki. Jika yang terambil gambar Sembadra atau Dewi Ratih maka yang akan lahir adalah anak perempuan.  

Prosesi selanjutnya yaitu memakaikan kain jarik kepada si ibu hamil dengan beragam motif yang berbeda. Pada setiap kali memakaikan kain jarik, si pemimpin upacara akan bertanya kepada penonton, ”sudah pantas belum?” nanti penonton akan menjawab “belum,” kemudian berganti-ganti jarik sampai pada jarik yang ke tujuh baru bilang “pantas.”

 Baca juga : kirab-budaya-ulang-tahun-kalurahan karangtalun

Makna tujuh kain jarik yang dipakaikan kepada si calon ibu berbeda-beda. Pertama kain Sidomukti, maknanya agar si bayi yang kelak lahir mendapat “kamukten,” hidup yang mukti, hidup yang makmur dan sejahtera.

Kain yang kedua Wahyu Tumurun, melambangkan wahyu atau anugerah yang diberikan kepada orang tua berupa kehadiran seorang bayi yang akan selalu mendapatkan berkat yang melimpah.

Kain yang ketiga Sido Asih, sebagai lambang cinta kasih dari ibu dan ayah agar si bayi juga memiliki cinta kasih untuk semua orang.

Kain yang keempat Sidodrajat, sebagai lambang pengharapan agar si bayi kelak mempunyai derajat yang tinggi.

Kain yang kelima Sidodadi, sebagai lambang agar si bayi kelak dewasa menjadi orang yang sukses.

Kain keenam Babon Angrem, melambangkan sesuatu yang berjalan secara alami, yaitu agar selama proses melahirkan nanti bisa lahir dengan normal dan alami.

Kain keenam Tumbar Pecah, seperti ketumbar yang menggelinding, diharapkan pada proses nanti juga akan menggelinding lancar tanpa hambatan.

Prosesi mitoni diakhiri dengan acara “Dodol Rujak.” Si calon ibu dan ayah menjual rujak yang dapat ditukar dengan “kreweng,“ atau pecahan genting, saat ini biasanya sudah berupa gerabah yang berbentuk uang-uangan. Rujak yang terbuat dari tujuh macam buah-buahan sebagai lambang agar si bayi bisa membawa kesegaran untuk orang-orang disekitarnya.   

 Baca juga : Rahasia awet muda

Seiring dengan perkembangan jaman yang modern, selamatan mitoni sudah jarang dilakukan. Hanya orang-orang yang masih memegang tradisi dan golongan tertentu saja yang masih melakukan acara ini. Bagi yang beragama Islam acara ini biasanya sudah digantikan dengan selamatan empat bulanan, dengan membacakan doa-doa untuk menyambut ditiupkannya ruh dalam janin yang memasuki usia empat bulan.

Bagi kalangan milenial, upacara mitoni biasanya diganti dengan acara “baby shower” yang terkesan lebih modern. Acara ini pada intinya sama saja dengan mitoni dan empat bulanan, hanya saja dikemas dengan lebih kekinian.

Intinya adalah bahwa apapun jenis selamatan yang dilakukan, tujuannya adalah sama, yaitu untuk mendoakan si jabang bayi agar senantiasa diberi kelancaran, kesehatan dan keselamatan sampai saat waktunya lahir nanti.

 Baca juga : Kirab Siwur 1 Suro, Imogiri

Semoga semua jabang bayi yang akan lahir di dunia ini nanti akan selalu diberi keselamatan, kesehatan dan kelancaran hingga saatnya lahir tiba, dan akan menjadi penyejuk hati dan menjadi pembawa kebahagiaan bagi orangtuanya. Aaamiin… 

 

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 

Monday, November 15, 2021

Loro Blonyo - Patung Sepasang Pengantin Jawa Yang Penuh Makna

 

Patung Sepasang Pengantin Jawa Yang Penuh Makna, Adat Jawa,Tradisional,Jawa,Budaya,Adat,Loro Blonyo,Patung Loro Blonyo,Patung Pengantin Jawa,Interior,Budaya Jawa,Patung Pengantin,Asesories,

Loro blonyo adalah patung sepasang pengantin Jawa. Patung ini selalu tampil bersamaan dan tidak bisa dipajang terpisah. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa dan Bali sebelum pengaruh Hindu dan Islam, patung Loro Blonyo merupakan simbol dari Dewi Sri dan Raden Sadana yang merupakan penjelmaan dari Dewa Wisnu. Patung ini merupakan simbol dari Kesuburan (keturunan) dan kemakmuran.

Patung loro blonyo mulai ada sejak jaman kerajaan Mataram dalam masa pemerintahan Raja Sultan Agung.  

 

Baca juga : Rewang

 

Dalam versi tradisional, patung laki-laki duduk bersila dengan telapak jari kaki terlihat sebelah, memakai tutup kepala raja (kuluk Kanigara) berwarna hitam dengan garis kuning. Sedangkan patung wanita memakai kemben dengan riasan paes, rambut gelung dengan hiasan rambut sunduk mentul.

Pada jaman dulu patung ini hanya bisa kita jumpai di rumah kaum priyayi, yaitu keturunan bangsawan atau orang kaya. Biasanya diletakkan di rumah joglo di bagian senthong atau bagian tengah rumah sebagai daerah pribadi pasangan suami istri.

 

Patung Sepasang Pengantin Jawa Yang Penuh Makna, Adat Jawa,Tradisional,Jawa,Budaya,Adat,Loro Blonyo,Patung Loro Blonyo,Patung Pengantin Jawa,Interior,Budaya Jawa,Patung Pengantin,Asesories

Saat ini patung ini biasanya bisa kita jumpai di resepsi pernikahan dengan tema Jawa atau di rumah-rumah yang mengusung tema etnik tradisional Jawa. Patung ini tampil sebagai hiasan interior yang menarik bagi penyuka tema etnik. Penempatannya pun sudah tidak lagi di area pribadi, tapi di ruang keluarga atau ruang tamu sebagai bagian dari asesories interior ruangan.

 

Baca juga : Rahasia awet muda

 

Modelnya pun saat ini sudah beragam. Sudah tidak hanya yang berbentuk tradisional, tapi banyak juga yang sudah memakai bentuk moderen kontemporer, dengan posisi yang tidak hanya duduk, tapi ada juga dengan posisi berdiri.

Selain sebagai pajangan atau hiasan interior ruangan, patung loro blonyo juga banyak hadir dalam bentuk souvenir pernikahan. Maknanya tentu saja pengharapan dan doa agar mempelai yang baru saja menikah bisa mendapatkan kemakmuran dan kesuburan, diberi keturunan yang banyak.

Bukan hanya masyarakat lokal, patung Loro Blonyo ternyata juga banyak diminati oleh konsumen manca negara. Pesona Loro Blonyo sudah begitu memikat sampai ke mana-mana. Patung Loro Blonyo milik saya ini contohnya, ini adalah contoh produk untuk dikirim ke luar negeri. 

Patung Sepasang Pengantin Jawa Yang Penuh Makna, Adat Jawa,Tradisional,Jawa,Budaya,Adat,Loro Blonyo,Patung Loro Blonyo,Patung Pengantin Jawa,Interior,Budaya Jawa,Patung Pengantin,Asesories

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik