Total Pageviews

Showing posts with label Jawa. Show all posts
Showing posts with label Jawa. Show all posts

Monday, November 15, 2021

Loro Blonyo - Patung Sepasang Pengantin Jawa Yang Penuh Makna

 

Patung Sepasang Pengantin Jawa Yang Penuh Makna, Adat Jawa,Tradisional,Jawa,Budaya,Adat,Loro Blonyo,Patung Loro Blonyo,Patung Pengantin Jawa,Interior,Budaya Jawa,Patung Pengantin,Asesories,

Loro blonyo adalah patung sepasang pengantin Jawa. Patung ini selalu tampil bersamaan dan tidak bisa dipajang terpisah. Menurut kepercayaan masyarakat Jawa dan Bali sebelum pengaruh Hindu dan Islam, patung Loro Blonyo merupakan simbol dari Dewi Sri dan Raden Sadana yang merupakan penjelmaan dari Dewa Wisnu. Patung ini merupakan simbol dari Kesuburan (keturunan) dan kemakmuran.

Patung loro blonyo mulai ada sejak jaman kerajaan Mataram dalam masa pemerintahan Raja Sultan Agung.  

 

Baca juga : Rewang

 

Dalam versi tradisional, patung laki-laki duduk bersila dengan telapak jari kaki terlihat sebelah, memakai tutup kepala raja (kuluk Kanigara) berwarna hitam dengan garis kuning. Sedangkan patung wanita memakai kemben dengan riasan paes, rambut gelung dengan hiasan rambut sunduk mentul.

Pada jaman dulu patung ini hanya bisa kita jumpai di rumah kaum priyayi, yaitu keturunan bangsawan atau orang kaya. Biasanya diletakkan di rumah joglo di bagian senthong atau bagian tengah rumah sebagai daerah pribadi pasangan suami istri.

 

Patung Sepasang Pengantin Jawa Yang Penuh Makna, Adat Jawa,Tradisional,Jawa,Budaya,Adat,Loro Blonyo,Patung Loro Blonyo,Patung Pengantin Jawa,Interior,Budaya Jawa,Patung Pengantin,Asesories

Saat ini patung ini biasanya bisa kita jumpai di resepsi pernikahan dengan tema Jawa atau di rumah-rumah yang mengusung tema etnik tradisional Jawa. Patung ini tampil sebagai hiasan interior yang menarik bagi penyuka tema etnik. Penempatannya pun sudah tidak lagi di area pribadi, tapi di ruang keluarga atau ruang tamu sebagai bagian dari asesories interior ruangan.

 

Baca juga : Rahasia awet muda

 

Modelnya pun saat ini sudah beragam. Sudah tidak hanya yang berbentuk tradisional, tapi banyak juga yang sudah memakai bentuk moderen kontemporer, dengan posisi yang tidak hanya duduk, tapi ada juga dengan posisi berdiri.

Selain sebagai pajangan atau hiasan interior ruangan, patung loro blonyo juga banyak hadir dalam bentuk souvenir pernikahan. Maknanya tentu saja pengharapan dan doa agar mempelai yang baru saja menikah bisa mendapatkan kemakmuran dan kesuburan, diberi keturunan yang banyak.

Bukan hanya masyarakat lokal, patung Loro Blonyo ternyata juga banyak diminati oleh konsumen manca negara. Pesona Loro Blonyo sudah begitu memikat sampai ke mana-mana. Patung Loro Blonyo milik saya ini contohnya, ini adalah contoh produk untuk dikirim ke luar negeri. 

Patung Sepasang Pengantin Jawa Yang Penuh Makna, Adat Jawa,Tradisional,Jawa,Budaya,Adat,Loro Blonyo,Patung Loro Blonyo,Patung Pengantin Jawa,Interior,Budaya Jawa,Patung Pengantin,Asesories

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik


 

Tuesday, September 7, 2021

Rewang - Tradisi Jawa Gotong Royong Membantu (Masak) Orang Yang Punya Hajat

 

Adat Jawa,Jawa,Rewang,Budaya,Adat, Tradisi Jawa Gotong Royong Membantu (Masak) Orang Yang Punya Hajat

 

Di dalam masyarakat Jawa, ada suatu istilah namanya “rewang.” Rewang artinya membantu. Di sini ada dua pengertian. Rewang dalam arti pembantu, yaitu orang yang bekerja membantu orang lain, biasanya membantu dalam urusan kegiatan rumah tangga, istilah sekarang asisten rumah tangga, maid dalam bahasa Inggris.

Pengertian yang ke dua yaitu kegiatan bersama-sama membantu orang yang sedang punya hajat (dalam hal ini lebih ke kegiatan membantu memasak/menyiapkan hidangan hajatan).

 Baca juga : Kirab Siwur 1 Suro, Imogiri

Nah, saya akan membahas “rewang” dalam pengertian ke dua.

 

Rewang adalah salah satu warisan budaya adiluhung yang ada di masyarakat Jawa. Rewang adalah salah satu bukti bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat yang suka menolong dan bergotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

 

Rewang sebenarnya bukan hanya acara membantu masak, di sini juga terjadi interaksi dari keluarga, tetangga dan saudara-saudara dari jauh yang biasanya juga datang membantu saat ada hajat keluarga. Di sini akan terjadi pertukaran info, bisa lebih saling mengenal saudara yang mungkin sebelumnya kurang akrab, dan mempererat tali persaudaraan dan keharmonisan bertetangga.

 

Baca juga : Rahasia awet muda

 

Di dalam tradisi Jawa, jika ada sebuah keluarga mengadakan sebuah hajatan, apakah itu pernikahan, sunatan, selamatan atau yang lainnya, maka warga sekitar rumah keluarga tersebut akan datang membantu, akan rewang. Ibu-ibu biasanya membantu dalam urusan masak-memasak menyiapkan hidangan hajatan, bapak-bapak membantu menyiapkan ubo rampe (perlengkapan) untuk hajatan, misalnya menyiapkan tempat, membuat tenda atau mengurusi patehan (tempat untuk membuat minuman, teh), sedangkan muda-mudi biasanya membantu menghias dekorasi (pada hajatan nikah) dan sinoman. Sinoman, enom, muda, yaitu pemuda-pemudi yang bertugas menghidangkan makanan dan minuman untuk tamu. Pada hajatan nikah biasanya mereka akan berpasangan, pemuda yang membawakan baki makanan/minuman, sedangkan pemudi yang mengambil dari baki dan menyajikannya ke meja tamu.

 

Rewang bisa berlangsung hanya sehari dua hari atau bahkan bisa sampai satu minggu. Hal itu tergantung dari macam dan besarnya suatu hajatan. Untuk hajatan pernikahan misalnya, bisa sampai satu minggu bahkan lebih. Memang apa saja yang dilakukan? Hari pertama bapak-bapak  menyiapkan tempat, hari kedua dan ketiga ibu-ibu menyiapkan nasi berkat/bancakan atau punjungan untuk diberikan kepada tetangga dan relasi-relasinya. Semakin banyak relasi tentu akan semakin banyak jumlah “besek” yang dibuat. Besek adalah wadah yang terbuat dari bambu, digunakan sebagai wadah untuk nasi berkat. Nasi berkat/bancakan sebagai ungkapan syukur, diberikan kepada tetangga atau relasi dengan cuma-cuma sebagai tanda tali kasih. Sedangkan punjungan diberikan sebagai isyarat undangan dan harapan agar si penerima punjungan juga akan memberikan sumbangan. Cara membedakan apakah itu bancakan atau punjungan adalah dengan isi dari besek itu. Bancakan isinya disertai dengan gudangan (sayuran rebus dengan bumbu parutan kelapa), sedangkan pada punjungan, tidak ada gudangan. Bisa juga diketahui dari cara si pembawa besek menyampaikan pesan, apaka itu bancakan atau punjungan. Hari keempat menyiapkan sebagian hidangan untuk besok hari H. Hari kelima hari pelaksanaan hajat. Hari ke enam membuat ulih-ulih. Ulih-ulih yaitu nasi berkat yang diberikan kepada tamu yang menyumbang, yang sebelumnya tidak mendapat nasi punjungan. Hari ke tujuh penutupan panitia. Pembukaan panitia biasanya seminggu atau dua minggu sebelum mulai rewang. Rewang biasanya dilakukan dari pagi sampai sore, tapi ada juga yang dari jam dua pagi sudah mulai memasak, tergantung kapan hidangan/berkat itu akan dibagikan.

 

Jaman dulu, setiap orang yang rewang biasanya keluarganya di rumah akan dikirimkan nasi dan lauk pauk satu piring sebagai ganti makan untuk keluarganya, sekarang kadang-kadang si rewang akan diberikan bingkisan berupa sembako pada saat acara sudah selesai, di hari terakhir rewang.

 

Selain rewang, tetangga yang membantu biasanya juga memberi sumbangan. Inilah yang sebenarnya justru memberatkan. Selain membantu tenaga, mereka juga biasanya ikut menyumbang. Bisa berupa uang, bisa juga berupa bahan-bahan makanan pokok. Di beberapa daerah, sumbangan ini dicatat dan saat si pemberi sumbangan mengadakan hajatan, dia akan diberikan sumbangan sesuai dengan apa yang telah diberikannya dulu. Tapi ada juga si empunya hajat hanya meminta bantuan tenaga para tetangga saja dan tidak menerima sumbangan uang atau barang dari tetangga.

 

Pada saat ini, orang-orang sudah mulai meninggalkan budaya rewang. Dengan pertimbangan kesibukan masing-masing individu dan kepraktisan, saat ini orang lebih memilih untuk menggunakan jasa katering. Hal ini juga dengan pertimbangan, untuk mengadakan hajatan di rumah, tentu harus menggunakan ruangan/dapur yang luas. Sedangkan pada saat ini rata-rata rumah dan dapur hanya berukuran kecil. Sedangkan untuk acara yang mengundang banyak tamu, misalnya ulang tahun atau pernikahan, orang akan lebih memilih menyewa gedung jika rumahnya tidak memungkinkan untuk menerima tamu dengan jumlah yang besar.  

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 

 

 

 

  

Friday, August 27, 2021

Pernikahan Adat Jawa Tata Cara, Prosesi Sebelum, Saat dan Sesudah

 

 


Pernikahan merupakan suatu prosesi yang sangat sakral. Terutama di Jawa, di mana di setiap prosesnya mempunyai makna dan filosofi yang sangat mendalam. Pernikahan bukan hanya menjadi urusan kedua calon mempelai, tapi juga melibatkan orang tua kedua belah pihak dan juga sanak saudaranya.

 

Dalam tradisi Jawa, ada alur-alur yang biasa dijalani oleh pasangan yang akan menikah.

   

1. Nontoni

Nontoni, nonton, melihat. Kalau dalam ajaran agama Islam, bagian ini sama dengan ta’aruf. Nontoni di sini artinya di mana calon pengantin pria melihat calon pengantin wanitanya. Pada jaman dahulu, calon pengantin pria, biasanya bersama orang tua atau keluarga yang mewakilinya, bertamu di rumah keluarga calon mempelai wanita. Di sana si wanita akan keluar membawakan minuman untuk tamunya. Pada sat itu orang tua mempelai wanita akan memperkenalkan bahwa dia adalah calon yang dimaksud.

 

2. Petung

Petung, perhitungan. Di dalam tradisi Jawa, pasangan yang akan menikah akan dihitung peruntungannya berdasarkan nama, hari lahir dan neptu. Perhitungan ini menggunakan dasar primbon. Perhitungan nama dengan menggunakan gabungan huruf awal nama calon pasangan dengan berdasarkan huruf Jawa, ha-na-ca-ra-ka. Perhitungan hari dan neptu berarti memperhitungkan hari lahir kedua pasangan dan neptunya. Neptu adalah nama hari pasaran Jawa, yaitu pon, wage, kliwon, legi, pahing. Dasar perhitungan yang lain yaitu arah rumah tinggal. Arah rumah mempelai laki-laki terhadap mempelai wanita.

Semua perhitungan ini pada dasarnya untuk memperhitungkan kecocokan watak dari kedua calon pengantin.

Di sini juga diperhitungkan bobot, bibit, bebet dari keduanya. Bobot yaitu kualitas pribadi dari calon mempelai, misalnya fisiknya, keimanan, pendidikan, pekerjaan dan kepribadian. Bibit yaitu dari mana dia berasal, orang tuanua. Asal usul dan cara mendidik orangtuanya akan sangat berpengaruh terhadap pribadi sang anak. Bebet yaitu bebetan, cara berpakaian. Di sini maksudnya status sosial. Cara berpakaian dan cara hidup seseorang akan mencerminkan status sosial orang tersebut.

 

 Baca juga : Kirab Siwur 1 Suro, Imogiri

 

Dalam ajaran Islam, tahap ini serupa dengan memperhitungkan bahwa calon mempelai sebaiknya sekufu. Hal itu bisa dilihat dari hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Hal ini dengan tujuan agar pasangan bisa seimbang, tidak njomplang setelah menikah.

 

3. Nembung

Nembung, nglamar, melamar. Pihak keluarga laki-laki atau utusannya mendatangi pihak keluarga perempuan untuk melamar anak perempuannya. Pihak perempuan bisa menjawab langsung atau boleh juga memberi jawaban dengan tenggang waktu sesuai dengan kesepakatan.

 

4. Paringsetan

Paningsetan atau pengikatan atau tunangan. Apabila lamaran diterima, prosesi selanjutnya yaitu prosesi paningsetan, yaitu pengikatan antara calon mempelai pria dan wanita. Dalam prosesi ini calon pasangan saling menukar cincin sebagai simbol ikatan. Pada prosesi ini biasanya juga ditentukan tanggal pelaksanaan pernikahan.

 

5. Pasang Tarub

Tarub, ditoto ben ketok murub, di tata agar kelihatan menyala. Sebagai simbol agar kehidupan berkeluarga nanti terus murub/menyala. Terus saling mencintai dan menyayangi. Dua atau tiga hari sebelum pelaksanaan pernikahan, rumah keluarga pria dan wanita dipasang tarub, sebagai tanda akan diadakannya acara ewuh mantu, persiapan akan dilangsungkannya sebuah hajat mantu. Tarub yaitu hiasan-hiasan dari janur kuning, daun-daunan, tebu dan daunnya, pisang raja beserta pohonnya, cengkir gading (kelapa gading) dan yang lain-lainnya, sesuai dengan tatacara yang sudah ada.

  

6. Srah-srahan

Srah-srahan, seserahan. Pihak keluarga pengantin pria memberikan barang-barang kepada mempelai wanita sebagai hadiah. Seserahan merupakan simbol pengharapan terhadap Tuhan akan kehidupan yang lebih baik. Seserahan biasanya berupa seperangkat pakaian, bahan-bahan makanan, uang dll. (Jenis dan artinya ada di pembahasan seserahan pada tulisan sebelumnya, @iwitijirahayu.blogspot.com/2021/06/seserahan-pernikahan-arti-dan-tradisi.html).

 

7. Siraman

Siraman, siram, mandi. Yaitu membersihkan diri jasmani dan rohani, pada malam hari sebelum dilangsungkannya ijab kabul. Siraman dilakukan oleh orangtua, kakek, nenek dan kerabat yang semua berjumlah tujuh orang. Tujuh dalam bahasa Jawa pitu, maknanya pitulungan, pertolongan. Semoga kedua calon mempelai akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan untuk kelancaran kehidupan berumah tangga nanti. Setelah selesai acara siraman, akan dilanjutkan dengan prosesi “dodol dawet.” Ibu mempelai wanita menjual dawet dengan didampingi sang ayah dengan membawa payung. Ibu menjual dawet dengan menggunakan mata uang dari kreweng (pecahan genting, gerabah). Semakin banyak kreweng yang terkumpul, diharapkan akan semakin banyak doa dan rejeki yang mereka dapatkan.  

 

8. Midodareni

Calon mempelai wanita didandani cantik bak bidadari. Keluarga mengadakan doa bersama agar ijab kabul esok hari bisa berjalan lancar. Orangtua memberi suapan terakhir (dulangan pungkasan) sebagai lambang orangtua memberi nafkah terakhir kepada putrinya sebelum menikah. Dalam Islam, biasanya malam ini diadakan pengajian dan doa bersama dengan mengundang kerabat dan tetangga sekitar.

 

9. Ijab Kabul

Ijab kabul, akad nikah, ikrar, pengesahan pernikahan pria dan wanita untuk menjadi pasangan suami istri yang sah. Ijab kabul yang dilakukan oleh pengantin pria, penghulu, wali dan saksi. Dalam tradisi keraton, pada saat prosesi ijab kabul, mempelai pengantin wanita berada di ruangan yang terpisah dari tempat prosesi.

 

Setelah ijab kabul selesai,prosesi selanjutnya yaitu panggih. Panggih, bertemu. Dipertemukannya pasangan pengantin pria dan wanita. Keluarga pengantin pria membawa sanggan tebusan yang akan diberikan kepada keluarga mempelai wanita sebagai simbol ditebusnya pengantin wanita untuk pengantin pria.

 

Prosesi selanjutnya yaitu, balang gantal (melempar daun sirih). mempelai pria melempar daun sirih ke arah kening mempelai wanita sebagai simbol agar si istri memakai akal/nalarnya saat memecahkan masalah dalam keluarga. Sedangkan mempelai wanita melempar daun sirih ke arah dada mempelai pria sebagai simbol agar suami memakai hatinya dalam mengambil kebijakan dalam keluarga.

 

Mecah wiji dadi (memecahkan telur), mempelai pria menginjak telur sebagai simbol memecahkan penalaran dan permohonan agar diberikan keturunan.

 

Mijiki, mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria sebagai simbol pengabdian istri terhadap suami, kemudian mempelai pria membimbing mempelai wanita untuk berdiri sebagai simbol bahwa suami membimbing istrinya dalam kehidupan berumahtangga dan mereka akan bersama-sama dalam menjalani kehidupan pernikahan.

 

Sawur kembang (tabur bunga), mempelai disawuri, ditaburi bunga, sebagai simbol agar mempelai memperoleh kebahagiaan dalam pernikahan mereka.

 

Sinduran, ibu mempelai wanita menyelimuti kedua mempelai dengan kain sindur dan membimbing mereka ke pelaminan. Kain sindur berwarna merah putih, sebagai simbol ibu membimbing anak dan menantunya agar bisa menjalani pernikahan dengan baik, tegar dan pantang menyerah dalam menghadapi persoalan rumah tangga.

 

Timbang bobot, ayah mempelai wanita duduk di pelaminan, kedua pengantin duduk di paha sang ayah, sebagai simbol ayah mempelai wanita menerima menantu dengan baik seperti anaknya sendiri.

 

Nanem Jero, ayah pengantin wanita mendudukkan kedua mempelai di pelaminan dan menekan pundak kedua pengantin. Simbol bahwa si ayah memberikan tanggungjawab agar kedua mempelai bisa menjadi orangtua yang baik dan memberikan keturunan yang baik pula.

 

 Baca juga : Rewang

 

Kacar-kucur, simbol pengantin pria memberikan kaya (nafkah) kepada mempelai wanita. Isi dari kaya ini berupa logam, beras kuning, kacang merah, kacang hijau, kacang tanah dan kedelai. Mempelai wanita menerima kucuran ini dengan saputangan dan tidak boleh tercecer, sebagai simbol bahwa istri harus bisa memanfaatkan dan mengelola nafkah yang diberikan suami dengan hemat, cermat dan bijaksana.

 

Klimahan, dulangan. Kedua mempelai saling menyuapi nasi kepal yang dikepal oleh mempelai pria, simbol bahwa mempelai pria sebagai pemimpin, kepala keluarga. Saling menyuapi bermakna keduanya harus saling membantu agar kehidupan mereka bisa berjalan dengan harmonis.

 

Sungkeman. Sungkeman dilakukan kedua mempelai kepada orangtua mempelai wanita dahulu baru kemudian kepada orangtua mempelai laki-laki. Sungkeman sebagai simbol bahwa kedua mempelai meminta doa restu kepada orangtua untuk kebahagiaan kehidupan rumah tangga mereka.

 

 Baca juga : Rahasia awet muda

 

Dalam ajaran Islam, prosesi ijab kabul kemudian disertai walimatul ursy, resepsi, jamuan makan, sebagai ungkapan syukur dan pengumuman bahwa sudah dilaksanakannya sebuah pernikahan dari kedua mempelai agar tidak terjadi fitnah diantara keduanya kelak.

 

10. Ngunduh Mantu/Tilik Besan

Setelah prosesi ijab kabul selesai, prosesi selanjutnya yaitu ngunduh mantu. Prosesi ini biasanya dilaksanakan sore/malam hari setelah prosesi ijab kabul (di hari yang sama) atau sesuai kesepakatan dengan memperhitungkan jarak dan lokasi rumah pengantin pria. Dalam prosesi ini kedua mempelai diantarkan oleh orangtua dan kerabat dari mempelai wanita ke rumah besan (orangtua mempelai pria). Mempelai wanita sungkem kepada orangtua mempelai pria, diikuti oleh mempelai pria sebagai tanda bakti dari menantu. Orangtua mempelai wanita akan ditempatkan di sebelah pelaminan sejajar dengan besan sebagai simbol penghargaan sebagai bagian dari keluarga.

 

11. Sepasaran

Sepasar, berarti 5 hari dalam perhitungan hari Jawa. Lima hari setelah dilaksanakannya pernikahan, dilaksanakan prosesi sepasaran. Prosesi ini sebagai simbol penutupan panitia atas telah terlaksananya acara ewuh mantu. Setelah itu acara tilikan, pasangan pengantin akan tilik, menjenguk, mengunjungi kerabat dekat yang lebih tua, kakek nenek, pak dhe, budhe, paklik, bulik dari pengantin sebagai perkenalan dan penghormatan terhadap kerabat yang lebih tua.  

 

Baca juga : tilik-bayi

 

12. Selapanan

Selapan, 35hari dalam hitungan Jawa. Apabila pasangan pengantin sudah punya rumah yang akan mereka tempati, maka pada hari ke selapan pasangan pengantin baru bisa meninggalkan rumah mertua/orangtua untuk tinggal di rumah mereka sendiri. Orangtua akan memberi bekal berupa perlengkapan dapur sebagai simbol agar pasangan pengantin bisa mandiri dalam mengurus rumah tangga sendiri.

 

Demikian tata cara prosesi pernikahan adat Jawa dengan garis besarnya saja. Untuk lebih mendetail, dukun nikah, orang yang membimbing/membantu jalannya upacara pernikahan, biasanya tahu lebih mendetail tentang seluk beluk dan arti dari setiap langkah dan simbol dari upacara pernikahan tradisional tersebut.

 

Semoga bisa menambah wawasan kita ya…. 

Baca juga : Kembar Mayang

Diambil dari berbagai sumber**

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik