Total Pageviews

Showing posts with label pernikahan tradisional. Show all posts
Showing posts with label pernikahan tradisional. Show all posts

Friday, August 27, 2021

Pernikahan Adat Jawa Tata Cara, Prosesi Sebelum, Saat dan Sesudah

 

 


Pernikahan merupakan suatu prosesi yang sangat sakral. Terutama di Jawa, di mana di setiap prosesnya mempunyai makna dan filosofi yang sangat mendalam. Pernikahan bukan hanya menjadi urusan kedua calon mempelai, tapi juga melibatkan orang tua kedua belah pihak dan juga sanak saudaranya.

 

Dalam tradisi Jawa, ada alur-alur yang biasa dijalani oleh pasangan yang akan menikah.

   

1. Nontoni

Nontoni, nonton, melihat. Kalau dalam ajaran agama Islam, bagian ini sama dengan ta’aruf. Nontoni di sini artinya di mana calon pengantin pria melihat calon pengantin wanitanya. Pada jaman dahulu, calon pengantin pria, biasanya bersama orang tua atau keluarga yang mewakilinya, bertamu di rumah keluarga calon mempelai wanita. Di sana si wanita akan keluar membawakan minuman untuk tamunya. Pada sat itu orang tua mempelai wanita akan memperkenalkan bahwa dia adalah calon yang dimaksud.

 

2. Petung

Petung, perhitungan. Di dalam tradisi Jawa, pasangan yang akan menikah akan dihitung peruntungannya berdasarkan nama, hari lahir dan neptu. Perhitungan ini menggunakan dasar primbon. Perhitungan nama dengan menggunakan gabungan huruf awal nama calon pasangan dengan berdasarkan huruf Jawa, ha-na-ca-ra-ka. Perhitungan hari dan neptu berarti memperhitungkan hari lahir kedua pasangan dan neptunya. Neptu adalah nama hari pasaran Jawa, yaitu pon, wage, kliwon, legi, pahing. Dasar perhitungan yang lain yaitu arah rumah tinggal. Arah rumah mempelai laki-laki terhadap mempelai wanita.

Semua perhitungan ini pada dasarnya untuk memperhitungkan kecocokan watak dari kedua calon pengantin.

Di sini juga diperhitungkan bobot, bibit, bebet dari keduanya. Bobot yaitu kualitas pribadi dari calon mempelai, misalnya fisiknya, keimanan, pendidikan, pekerjaan dan kepribadian. Bibit yaitu dari mana dia berasal, orang tuanua. Asal usul dan cara mendidik orangtuanya akan sangat berpengaruh terhadap pribadi sang anak. Bebet yaitu bebetan, cara berpakaian. Di sini maksudnya status sosial. Cara berpakaian dan cara hidup seseorang akan mencerminkan status sosial orang tersebut.

 

 Baca juga : Kirab Siwur 1 Suro, Imogiri

 

Dalam ajaran Islam, tahap ini serupa dengan memperhitungkan bahwa calon mempelai sebaiknya sekufu. Hal itu bisa dilihat dari hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Hal ini dengan tujuan agar pasangan bisa seimbang, tidak njomplang setelah menikah.

 

3. Nembung

Nembung, nglamar, melamar. Pihak keluarga laki-laki atau utusannya mendatangi pihak keluarga perempuan untuk melamar anak perempuannya. Pihak perempuan bisa menjawab langsung atau boleh juga memberi jawaban dengan tenggang waktu sesuai dengan kesepakatan.

 

4. Paringsetan

Paningsetan atau pengikatan atau tunangan. Apabila lamaran diterima, prosesi selanjutnya yaitu prosesi paningsetan, yaitu pengikatan antara calon mempelai pria dan wanita. Dalam prosesi ini calon pasangan saling menukar cincin sebagai simbol ikatan. Pada prosesi ini biasanya juga ditentukan tanggal pelaksanaan pernikahan.

 

5. Pasang Tarub

Tarub, ditoto ben ketok murub, di tata agar kelihatan menyala. Sebagai simbol agar kehidupan berkeluarga nanti terus murub/menyala. Terus saling mencintai dan menyayangi. Dua atau tiga hari sebelum pelaksanaan pernikahan, rumah keluarga pria dan wanita dipasang tarub, sebagai tanda akan diadakannya acara ewuh mantu, persiapan akan dilangsungkannya sebuah hajat mantu. Tarub yaitu hiasan-hiasan dari janur kuning, daun-daunan, tebu dan daunnya, pisang raja beserta pohonnya, cengkir gading (kelapa gading) dan yang lain-lainnya, sesuai dengan tatacara yang sudah ada.

  

6. Srah-srahan

Srah-srahan, seserahan. Pihak keluarga pengantin pria memberikan barang-barang kepada mempelai wanita sebagai hadiah. Seserahan merupakan simbol pengharapan terhadap Tuhan akan kehidupan yang lebih baik. Seserahan biasanya berupa seperangkat pakaian, bahan-bahan makanan, uang dll. (Jenis dan artinya ada di pembahasan seserahan pada tulisan sebelumnya, @iwitijirahayu.blogspot.com/2021/06/seserahan-pernikahan-arti-dan-tradisi.html).

 

7. Siraman

Siraman, siram, mandi. Yaitu membersihkan diri jasmani dan rohani, pada malam hari sebelum dilangsungkannya ijab kabul. Siraman dilakukan oleh orangtua, kakek, nenek dan kerabat yang semua berjumlah tujuh orang. Tujuh dalam bahasa Jawa pitu, maknanya pitulungan, pertolongan. Semoga kedua calon mempelai akan mendapatkan pertolongan dari Tuhan untuk kelancaran kehidupan berumah tangga nanti. Setelah selesai acara siraman, akan dilanjutkan dengan prosesi “dodol dawet.” Ibu mempelai wanita menjual dawet dengan didampingi sang ayah dengan membawa payung. Ibu menjual dawet dengan menggunakan mata uang dari kreweng (pecahan genting, gerabah). Semakin banyak kreweng yang terkumpul, diharapkan akan semakin banyak doa dan rejeki yang mereka dapatkan.  

 

8. Midodareni

Calon mempelai wanita didandani cantik bak bidadari. Keluarga mengadakan doa bersama agar ijab kabul esok hari bisa berjalan lancar. Orangtua memberi suapan terakhir (dulangan pungkasan) sebagai lambang orangtua memberi nafkah terakhir kepada putrinya sebelum menikah. Dalam Islam, biasanya malam ini diadakan pengajian dan doa bersama dengan mengundang kerabat dan tetangga sekitar.

 

9. Ijab Kabul

Ijab kabul, akad nikah, ikrar, pengesahan pernikahan pria dan wanita untuk menjadi pasangan suami istri yang sah. Ijab kabul yang dilakukan oleh pengantin pria, penghulu, wali dan saksi. Dalam tradisi keraton, pada saat prosesi ijab kabul, mempelai pengantin wanita berada di ruangan yang terpisah dari tempat prosesi.

 

Setelah ijab kabul selesai,prosesi selanjutnya yaitu panggih. Panggih, bertemu. Dipertemukannya pasangan pengantin pria dan wanita. Keluarga pengantin pria membawa sanggan tebusan yang akan diberikan kepada keluarga mempelai wanita sebagai simbol ditebusnya pengantin wanita untuk pengantin pria.

 

Prosesi selanjutnya yaitu, balang gantal (melempar daun sirih). mempelai pria melempar daun sirih ke arah kening mempelai wanita sebagai simbol agar si istri memakai akal/nalarnya saat memecahkan masalah dalam keluarga. Sedangkan mempelai wanita melempar daun sirih ke arah dada mempelai pria sebagai simbol agar suami memakai hatinya dalam mengambil kebijakan dalam keluarga.

 

Mecah wiji dadi (memecahkan telur), mempelai pria menginjak telur sebagai simbol memecahkan penalaran dan permohonan agar diberikan keturunan.

 

Mijiki, mempelai wanita mencuci kaki mempelai pria sebagai simbol pengabdian istri terhadap suami, kemudian mempelai pria membimbing mempelai wanita untuk berdiri sebagai simbol bahwa suami membimbing istrinya dalam kehidupan berumahtangga dan mereka akan bersama-sama dalam menjalani kehidupan pernikahan.

 

Sawur kembang (tabur bunga), mempelai disawuri, ditaburi bunga, sebagai simbol agar mempelai memperoleh kebahagiaan dalam pernikahan mereka.

 

Sinduran, ibu mempelai wanita menyelimuti kedua mempelai dengan kain sindur dan membimbing mereka ke pelaminan. Kain sindur berwarna merah putih, sebagai simbol ibu membimbing anak dan menantunya agar bisa menjalani pernikahan dengan baik, tegar dan pantang menyerah dalam menghadapi persoalan rumah tangga.

 

Timbang bobot, ayah mempelai wanita duduk di pelaminan, kedua pengantin duduk di paha sang ayah, sebagai simbol ayah mempelai wanita menerima menantu dengan baik seperti anaknya sendiri.

 

Nanem Jero, ayah pengantin wanita mendudukkan kedua mempelai di pelaminan dan menekan pundak kedua pengantin. Simbol bahwa si ayah memberikan tanggungjawab agar kedua mempelai bisa menjadi orangtua yang baik dan memberikan keturunan yang baik pula.

 

 Baca juga : Rewang

 

Kacar-kucur, simbol pengantin pria memberikan kaya (nafkah) kepada mempelai wanita. Isi dari kaya ini berupa logam, beras kuning, kacang merah, kacang hijau, kacang tanah dan kedelai. Mempelai wanita menerima kucuran ini dengan saputangan dan tidak boleh tercecer, sebagai simbol bahwa istri harus bisa memanfaatkan dan mengelola nafkah yang diberikan suami dengan hemat, cermat dan bijaksana.

 

Klimahan, dulangan. Kedua mempelai saling menyuapi nasi kepal yang dikepal oleh mempelai pria, simbol bahwa mempelai pria sebagai pemimpin, kepala keluarga. Saling menyuapi bermakna keduanya harus saling membantu agar kehidupan mereka bisa berjalan dengan harmonis.

 

Sungkeman. Sungkeman dilakukan kedua mempelai kepada orangtua mempelai wanita dahulu baru kemudian kepada orangtua mempelai laki-laki. Sungkeman sebagai simbol bahwa kedua mempelai meminta doa restu kepada orangtua untuk kebahagiaan kehidupan rumah tangga mereka.

 

 Baca juga : Rahasia awet muda

 

Dalam ajaran Islam, prosesi ijab kabul kemudian disertai walimatul ursy, resepsi, jamuan makan, sebagai ungkapan syukur dan pengumuman bahwa sudah dilaksanakannya sebuah pernikahan dari kedua mempelai agar tidak terjadi fitnah diantara keduanya kelak.

 

10. Ngunduh Mantu/Tilik Besan

Setelah prosesi ijab kabul selesai, prosesi selanjutnya yaitu ngunduh mantu. Prosesi ini biasanya dilaksanakan sore/malam hari setelah prosesi ijab kabul (di hari yang sama) atau sesuai kesepakatan dengan memperhitungkan jarak dan lokasi rumah pengantin pria. Dalam prosesi ini kedua mempelai diantarkan oleh orangtua dan kerabat dari mempelai wanita ke rumah besan (orangtua mempelai pria). Mempelai wanita sungkem kepada orangtua mempelai pria, diikuti oleh mempelai pria sebagai tanda bakti dari menantu. Orangtua mempelai wanita akan ditempatkan di sebelah pelaminan sejajar dengan besan sebagai simbol penghargaan sebagai bagian dari keluarga.

 

11. Sepasaran

Sepasar, berarti 5 hari dalam perhitungan hari Jawa. Lima hari setelah dilaksanakannya pernikahan, dilaksanakan prosesi sepasaran. Prosesi ini sebagai simbol penutupan panitia atas telah terlaksananya acara ewuh mantu. Setelah itu acara tilikan, pasangan pengantin akan tilik, menjenguk, mengunjungi kerabat dekat yang lebih tua, kakek nenek, pak dhe, budhe, paklik, bulik dari pengantin sebagai perkenalan dan penghormatan terhadap kerabat yang lebih tua.  

 

Baca juga : tilik-bayi

 

12. Selapanan

Selapan, 35hari dalam hitungan Jawa. Apabila pasangan pengantin sudah punya rumah yang akan mereka tempati, maka pada hari ke selapan pasangan pengantin baru bisa meninggalkan rumah mertua/orangtua untuk tinggal di rumah mereka sendiri. Orangtua akan memberi bekal berupa perlengkapan dapur sebagai simbol agar pasangan pengantin bisa mandiri dalam mengurus rumah tangga sendiri.

 

Demikian tata cara prosesi pernikahan adat Jawa dengan garis besarnya saja. Untuk lebih mendetail, dukun nikah, orang yang membimbing/membantu jalannya upacara pernikahan, biasanya tahu lebih mendetail tentang seluk beluk dan arti dari setiap langkah dan simbol dari upacara pernikahan tradisional tersebut.

 

Semoga bisa menambah wawasan kita ya…. 

Baca juga : Kembar Mayang

Diambil dari berbagai sumber**

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 

Monday, June 28, 2021

Seserahan Pernikahan, Arti dan Tradisi

 
Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,

 

Setiap daerah tentunya mempunyai adat dan kebiasaan tersendiri dalam melangsungkan upacara pernikahan. Ada yang menggunakan tata cara modern, tradisional atau bahkan menggabungkan antara keduanya. Dalam upacara tradisional pun bila masing-masing calon mempelai berasal dari daerah yang berbeda, kadang-kadang mereka akan menggabungkan kedua budaya daerah mereka menjadi satu, atau bahkan memakai kedua adat secara bergantian.

 

Menurut tradisi Jawa yang penuh filosofi, ada urutan-urutan yang harus dijalani pasangan calon pengantin dan keluarga dalam pelaksanaan prosesi pernikahan, yaitu : 1. Nontoni (melihat), 2. Petung (perhitungan), 3. Nakokke/nembung/nglamar (lamaran) dilanjutkan paningsetan (ikatan/tunangan), 4. Pasang tarub, 5. Srah-srahan (seserahan), 6. Siraman, 7. Midodareni (malam sebelum akad nikah), 8. Ijab Kabul (akad, prosesi dan resepsi), 9. Tilik Besan (ngunduh mantu), 10. Sepasaran/tilikan (sepasar=lima hari, kedua mempelai berkunjung ke sanak saudara yang lebih tua), 11. Selapanan (selapan=35 hari, mempelai pria memboyong istrinya dari rumah orangtua ke rumah sendiri).

 

Di sini saya hanya akan membicarakan tentang salah satu bagian dari upacara pernikahan, yaitu seserahan, menurut tradisi Jawa.

 

Menurut tradisi, calon mempelai pria biasanya membawakan barang-barang untuk mempelai wanita. Barang-barang itu biasa disebut seserahan. Berbeda dengan mahar ya… mahar adalah salah satu syarat untuk menikah, masuk ke dalam syarat sahnya nikah, dicatat di buku nikah ya…. Paningset berupa sepasang cincin sebagai tanda pengikat antara kedua mempelai, bisa diberikan pada saat lamaran. Pasok tukon adalah uang tunai yang diberikan dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan sebagai penunjang biaya pernikahan, sedangkan seserahan adalah pemberian dari pihak laki-laki kepada kepada calon mempelai wanita berupa barang-barang kebutuhan pribadi wanita sebagai hadiah sekaligus simbol bahwa calon mempelai pria sudah mampu memberikan nafkah kepada calon mempelai wanita, juga sebagai ungkapan rasa syukur, doa dan harapan kepada calon mempelai berdua dalam menjalani kehidupan yang baru.

 

Baca juga : Kirab Siwur 1 Suro, Imogiri

 

Paningset, pasok tukon dan seserahan bisa diberikan pada saat acara lamaran sekaligus pada malam hari sebelum akad, biasanya juga disertai pengajian. Bisa juga seserahan dan mahar dibawa pada saat ijab kabul atau resepsi.

 

Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,
Mahar

 

Seserahan itu sendiri ada beberapa macam barang yang masing-masing barang mempunyai arti.

 

Adapun macam dan arti dari seserahan dalam tradisi Jawa yaitu:

 

1. Suruh ayu dan pisang ayu

Suruh ayu terdiri dari buah jambe dan kapur sirih (Buah jambe atau buah pinang yang pohonnya biasa untuk lomba panjat pinang itu lho…). Kapur sirih dan jambe sebagai lambang supaya pernikahan bisa langgeng, bertahan lama. Pisang ayu yaitu pisang raja, menjadi lambang kesuburan, diharapkan kedua mempelai menjadi pasangan yang subur yang bisa mendapatkan banyak keturunan yang baik. Suruh ayu dan pisang ayu juga sebagai simbol setyo rahayu, harapan dan doa atas keselamatan kedua mempelai dalam menempuh hidup baru.

 

2. Jeruk Gulung (jeruk bali)

Jeruk gulung sebagai simbol dari tekat bulat, tekat bulat dari kedua mempelai bahwa mereka akan mengarungi hidup berumah tangga bersama.

 

3. Cengkir gading (kelapa muda, kelapa gading)

Cengkir, kencenging pikir. Pikiran yang mantap dari kedua mempelai dalam memulai hidup baru.

 

4. Tebu wulung (pohon tebu yang berwarna hitam)

Tebu, antebing kalbu, kemantapan hati kedua mempelai untuk bersama-sama berumah tangga.

 

5. Jarik, kain batik.

Kain batik melambangkan cita-cita luhur. Kain batik sidomukti melambangkan tercapainya hidup senang. Kain batik sidomulyo melambangkan tercapainya hidup dihormati. Kain truntum sebagai lambang sandang.

 

6. Kain Stagen putih.

Kain stagen adalah kain panjang, lebarnya kira-kira hanya satu jengkal, dengan panjang bisa mulai dari 3 meter atau lebih panjang lagi. Kain stagen dipakai sebagai sabuk (ikat pinggang) yang dipakai di atas kain jarik pada saat memakai pakaian adat jawa. Kain stagen sebagai simbol kekuatan tekat dan niat pasangan suami istri dalam mengarungi kehidupan rumah tangga nantinya, agar tidak mudah goyah dalam menghadapi cobaan dan rintangan dalam rumah tangga.

 

7. Seikat padi, lambang pangan. Agar kehidupan mempelai nanti tercukupi kebutuhan pangannya.

 

8. Bunga

Bunga yang dipakai di sini bukan sembarang bunga, bunga yang dipakai adalah bunga kenanga dan melati. Bunga ditempatkan dalam wadah dalam jumlah ganjil. Bunga yang wangi melambangkan bahwa calon mempelai akan menjalani kehidupan pernikahan yang indah dan bahagia.

 

9. Jajan Pasar.

Jajan pasar adalah jajanan makanan tradisional yang biasanya terbuat dari beras ketan yang sifatnya lengket, misalnya jadah, wajik dan madu mongso. Jadah rasanya gurih dan wajik rasanya manis. Ini sebagai simbol dan harapan agar kehidupan rumah tangga mereka nantinya akan senantiasa lengket, selalu bersama mengarungi rumah tangga dengan rasa yang gurih dan manis.

 

10. Buah-buahan

Berbagai macam buah-buahan yang menyimbolkan harapan agar kehidupan cinta kasih suami istri yang selalu segar dan manis, dan juga membawa manfaat untuk orang-orang di sekitarnya.

 

11. Hasil Bumi dan ternak

Hasil bumi biasanya berupa beras, sayur-sayuran, kelapa, umbi-umbian dan ternak (bisa sepasang ayam) sebagai simbol kemakmuran. Diharapkan kehidupan rumah tangga mereka nanti selalu dilimpahi dengan kemakmuran.

Baca juga :  contoh-berbagai-macam-seserahanhantaran

12. Perhiasan

Biasanya perhiasan yang diberikan terbuat dari emas atau permata. Emas dan permata adalah material yang berkilau, kuat, tahan lama, tidak mudah pudar dimakan waktu. Dengan adanya perhiasan emas atau permata, diharapkan mempelai wanita bisa bersinar dan berkilau sepanjang hidupnya. Memberi arti bagi kehidupan berumah tangga kelak.

 

Barang-barang di atas adalah seserahan yang biasa di berikan kepada mempelai wanita sesuai dengan adat Jawa pada jaman dahulu.

 

Seiring dengan perkembangan jaman, dengan alasan kepraktisan serta manfaat, saat ini ada beberapa macam dari seserahan tersebut (kain stagen, suruh ayu, bunga, jajan pasar, atau hasil bumi dan yang lainnya) yang tidak disertakan dalam prosesi seserahan.

 

Saat ini barang-barang yang diberikan lebih mengutamakan fungsi, manfaat dan kepraktisan.

 

 Baca juga : Rahasia awet muda

 

Barang-barang tersebut di antaranya :

 

1. Seperangkat alat sholat (alat ibadah)

Seperangkat alat sholat biasanya dijadikan sebagai mahar, bisa juga dimasukkan ke dalam bagian seserahan. Seperangkat alat sholat mengandung arti sebagai alat untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Diharapkan mempelai pria kelak akan menjadi imam yang akan memimpin mempelai wanita untuk bisa sama-sama beribadah mendekatkan diri kepada Tuhan, menjadikan agama sebagai tumpuan dalam menjalani bahtera perkawinan.

 

Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,
Seperangkat alat sholat, bisa untuk mahar, bisa juga untuk seserahan

2. Perhiasan

Makna dari perhiasan sama dengan yang di atas, sebagai lambang harapan bersinarnya mempelai wanita. Perhiasan selain untuk seserahan, sering juga dipakai sebagai mahar.

 

3. Pakaian

Di masyarakat Jawa pada jaman dahulu pakaian yang diberikan berupa kebaya dan kain jarik. Pada saat ini pakaian bisa menyesuaikan dengan keinginan mempelai. Bisa baju, gamis, atau pakaian dalam. Pakaian memiliki simbol bahwa diharapkan mempelai wanita kelak bisa menutup kekurangan-kekurangan dari diri sendiri dan pasangan, bisa menjaga agar rahasia rumah tangga dapat disimpan dengan baik, agar rumah tangga tetap tenteram dan damai. 

 

Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,

 

 

Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,

4. Peralatan Mandi

Diharapkan setelah menikah nanti mempelai wanita bisa menjaga kebersihan diri dan keluarga agar tercipta keluarga yang sehat sejahtera.

 

Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,

 

5. Peralatan kosmetik.

Peralatan kosmetik merupakan simbol pria bersedia bertanggung jawab untuk bisa memenuhi kebutuhan berdandan istri. Agar mempelai wanita bisa menjaga penampilan untuk selalu indah dipandang suami.

 

Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,

 

6. Alas Kaki

Alas kaki biasanya berupa sepatu. Alas kaki merupakan simbol agar pasangan bisa berjalan bersama beriringan, bisa menjalani kehidupan bersama dengan mantap.

 

7. Tas

Sebagai simbol bahwa suami mampu menafkahi istri, mampu memenuhi kebutuhan istri.

 

Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,
Sepatu dan tas biasanya dijadikan satu wadah

Selain dari barang-barang tersebut di atas, daftar barang bisa disesuaikan dengan kemampuan pihak mempelai pria. Bisa juga disesuaikan dengan keinginan mempelai wanita agar barang-barang tersebut bisa benar-benar dimanfaatkan dan digunakan. Macam dan jumlahnya bisa sesuai dengan kesepakatan bersama. Biasanya seserahan tersebut berjumlah ganjil. 

 

Jawa,pernikahan,resepsi,pernikahan tradisional,Budaya,mahar,seserahan,seserahan nikah,
Sprei dan selimut sebagai pilihan tambahan

 

 

Demikian berbagai macam isi seserahan dengan berbagai macam arti dan maknanya. Semoga bisa menambah wawasan kita ya…

 

BTW… saya juga menerima jasa pembuatan hantaran pernikahan lho… Suami yang membuat dekorasi pernikahannya. Biasanya kami membuat dekorasi pernikahan bertema natural, etnik, outdoor garden party.  

 

Baca juga Kembar Mayang

Baca juga : Contoh seserahan/hantaran part 1

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik