Total Pageviews

Showing posts with label Pendidikan Anak Usia Dini. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan Anak Usia Dini. Show all posts

Tuesday, January 21, 2025

Adab dan Totokromo Anak, Tanggung Jawab Siapa?

 Adab dan Totokromo Anak,Tanggung Jawab Siapa?, parenting, woman talk, adab, sopan santun, woman power, budaya, pendidikan anak usia dini,

 

Suatu sore, saat mengantarkan anakku TPA, seorang anak datang membawa tumpukan buku, menghampiri ibu ustazah (yang sedang dalam posisi duduk lesehan dengan meja pendek), dia berdiri sambil menyodorkan tumpukan buku itu, kemudian berkata, "Buk, iki bukune wis tak urutke, rasah diwalik." 

Artinya dia bilang, "Bu, ini bukunya sudah aku urutkan, nggak usah dibalik. (mengacu untuk urutan antrian baca buku Iqro'/Ummi).

Aku yang melihat dan mendengar, reflek menutup mulutku yang ternganga...hah... 

Bukan hanya karena bahasa dia yang kasar, tapi juga karena posisi dia yang sambil berdiri, dengan satu tangan dan posisinya yang seolah "menantang" bu ustazahnya... Arogan...

Aku heran... ni anak nggak diajari sopan-santun orang tuanya kah?

Mungkin bagi sebagian orang yang ada di tempat itu (ada beberapa orangtua yang sedang mengantar juga), hal itu dianggap biasa. Tapi bagiku, itu sangat menganggu otakku.

Anakku sendiri, Yui, 6th, setiap TPA selalu aku ingatkan, "ngasih bukunya sambil duduk ya, pake tangan kanan. Kalau sudah selesai baca, salim sama semua Bu ustazah." Duduk anteng waktu nunggu giliran (anak-anak lain, main, lari-larian).

Ada temannya Yua, anak SMP, bilang ke ibuknya..."Kowe ki lho Bu...bla..bla..bla... 

Dalam bahasa Jawa, kata Kowe, kamu, itu kasar jika digunakan untuk orang yang lebih tua. Nggak ada sopannya, nggak hormatnya.

Ada anak yang ditegur orang lain, eh malah dia mukulin ibunya...Aku sama suami sudah saling pandang-pandangan.... Kata ibunya... biarin saja... dia memang biasa gitu... Haduh... tepok jidat saja

****

Menurut aku, orang tua adalah pihak pertama yang harus bertanggung jawab atas pendidikan adab dan sopan-santun anak. Jika sejak kecil, dari rumah anak sudah terbiasa berlaku sopan ke orang tua dan saudaranya, dia juga akan lebih mudah berlaku sopan di luar rumah.

Untuk belajar membaca, kita mungkin masih bisa mengandalkan guru di sekolah, atau guru les. Belajar mengaji, walaupun sebenarnya orang tua juga bisa, kita mungkin lebih memilih mengantar anak untuk belajar mengaji kepada ustad/ustazahnya. Tapi untuk belajar budi pekerti, itu tanggung jawab orang tua yang utama.

Kan di sekolah diajarkan juga. Kalau jaman dulu sih, pendidikan moral. Iya... memang di sekolah juga diajarkan budi pekerti, tapi tetap saja peran orang tua di rumah yang harus diutamakan.

Sering bersliweran di sosmed, video tentang seorang ibu yang meminta kursi seorang laki-laki di pesawat karena anaknya minta duduk di dekat jendela milik laki-laki tersebut. tetapi si laki-laki menolak dan dia berkata bahwa anak ibu itu seharusnya belajar bahwa tidak semua keinginannya bisa didapatkan. "Really...???!!!" kata ibunya.

Banyak orang yang menghujat laki-laki itu karena dianggap tidak berempati, karena tidak mau mengalah kepada anak kecil. Kalau aku justru mendukung laki-laki itu. Pertama memang karena kursi di pesawat memang sudah sesuai dengan manifest penumpang, sudah tercatat pemiliknya, dan kalau si ibu menginginkan anaknya duduk di sebelah cendela, dia harusnya pesan tempat itu jauh-jauh hari. Dan yang kedua memang benar katanya bahwa si anak harus belajar bahwa tidak semua keinginannya akan dia dapatkan. Dia harus belajar bahwa semua di dunia ini ada aturan-aturannya.

Sama ketika ada cerita di sosmed juga, tentang seorang anak yang tiba-tiba menghampiri tas seorang wanita dan menginginkan gantungan kunci yang ada di tas tersebut. Dia merengek-rengek dan ibunya juga ikut tantrum karena si embak nggak mau ngasih gantungan kunci itu. Si ibu menyalahkan si embak karena anaknya jadi tantrum gara-gara menginginkan barang miliknya. Sementara si embak kekeuh nggak mau ngasih karena itu barang kesayangan dia dan dia bilang bahwa kebahagiaan anak ibu bukan tanggung jawab saya.

Buat aku benar sekali si embak itu. Bahwa kita harus mempertahankan barang milik kita, kebahagiaan orang lain bukan tanggung jawab kita. Dan si ibu harusnya juga bisa mendidik anaknya (dan juga dirinya sendiri) bahwa setiap orang harus menghormati hak milik orang lain.

Baca juga : Doa-mendapatkan-jodoh-yang-terbaik

Di atas adalah beberapa contoh, bahwa penting bagi orang tua menjadi sumber ilmu yang pertama dan utama untuk anak-anaknya, terutama untuk adab dan sopan santun. 

Apalagi aku sebagai orang Jawa, walaupun tidak selalu menggunakan bahasa Jawa di rumah untuk anak-anakku, tetapi aku tetap berusaha mengajarkan adab dan sopan santun budaya Jawa untuk anak-anakku.


***

Please komen dan share yaa.... Biar aku tahu bagaimana respon kamuuuu....

Monday, May 12, 2014

Yua Tidak Sekolah (Waspadai Tindak Kekerasan Di Sekolah Anak)

(Waspadai Tindak Kekerasan Di Sekolah Anak) 

Mulai hari ini, Kamis, 8 Mei, Yua tidak sekolah. Sebelumnya yua masih terdaftar sebagai siswa salah satu sekolah PAUD yang ada di lingkungan sekitar Imogiri. Tiga hari sebelumnya Yua tidak masuk sekolah. Jumat, Senin dan Selasa. Selasa siang, suamiku ditelpon pihak sekolah. Katanya Yua dikeluarkan dari sekolah karena tiga hari tidak masuk sekolah tanpa ijin.

Latar Belakang
Kata suamiku, setiap orang tua pasti akan mengatakan bahwa anaknya adalah baik. OK. Mari kita lihat secara global.
Yua adalah anak yang supel, gampang berbaur dengan lingkungan yang baru, baik itu dengan orang dewasa maupun sesama anak.Saat mendaftar masuk sekolah, Yua baru berumur 3th 3bln. Di hari pertama dia masuk sekolah, dia sangat antusias. Di saat anak lain masih ditunggui orang tuanya, Yua sudah mau ditinggal(selama tiga hari pertama masuk sekolah anak boleh ditunggui orang tuanya), bahkan sebelum bel tanda masuk di hari pertama sekolahnyaberbunyi Yua sudah bilang, “Mamah pulang saja, Yua sekolah di sini”.
Yua juga termasuk anak yang mandiri. Saat anak-anak lain diantar sampai masuk sekolah, Yua diantar hanya sampai gerbang sekolah. Di minggu pertama masuk sekolah Yua langsung terkenal karena dia anak yang aktif, mandiri dan berani. Berbeda dengan teman2nya yang masih susah berpisah dengan oranngtuanya. Yua juga mendapat banyak pujian, baik dari guru, orang tua murid yang lain, dan bahkan dari petugas sekolah juga karena kemandiriannya itu. Hanya kadang-kadang saja saat dia sedang rewel, dia minta diantar sampai masuk sekolah.
Dua minggu berikutnya dia bilang, aku nggak mau sekolah mah… kenapa? Teman-teman semuanya nangis. (Awal-awal masuk sekolah memang masih banyak anak yang menangis, bahkan ada yang histeris karena harus ditinggal orangtuanya, tidak boleh ditunggui). Meskipun dia bilang begitu, dia tetap mau masuk sekolah seperti biasa. Yang aku amati adalah, kalau dia saat pulang sekolah dia ceria, berarti dia baik-baik saja. Lama-lama dia sudah terbiasa melihat teman2nya menangis saat mau masuk sekolah, dia tetap melenggang seperti biasa.
Suatu hari dia bilang nggak mau sekolah. Aku tanya kenapa # Bu Gurunya marah-marah # bu guru namanya siapa # Mr. X. Rupanya yang dia maksud itu adalah pak guru X, bukan bu guru (di situ memang ada satu pengajar laki-laki). Selama satu minggu setiap pagi Yua selalu menangis setiap berangkat sekolah, bahkan setelah sampai sekolah. Dia selalu bilang nggak mau sekolah, tapi tetap saja aku antar sampai dalam. Aku bilang Nggak pa2, pak X nggak marah-marah kok. Akhirnya minggu berikutnya dia mau berangkat seperti biasa, walaupun sampai kemarin Yua terkadang masih ngomong, nggak boleh Mah, nanti dimarahin Pak X.
Suatu sore Yua menangis saat dimandikan, katanya, kakinya jangan dibasahin Mah, sakit # kenapa # tadi dicubit si Kuncung (bukan nama sebenarnya) di sekolah. Setelah aku cek memang ada luka yang lumayan besar untuk sebuat cubitan, pantas saja dia bilang sakit. Aku ingat-ingat lagi tadi waktu menjemput Yua. Saat itu ada ibu-ibu yang mengandeng anaknya yang nangis, dia bilang, pantesan takut sekolah, lha wong dinakali temannya… setelah ibu itu pergi, seorang ibu disebelahku mendapat laporan bahwa anaknya tadi jarinya digigit oleh si Kuncung. Sesampainya di rumah aku mendapati kakinya Yua yang terluka. Berarti dalam satu hari si Kuncung ini sudah menyakiti paling tidak 3 anak.
Besoknya aku banyak mendapat informasi bahwasi Kuncung ini memang sudah terkenal suka menakali temannya, banyak yang sudah menjadi korban. Banyak juga yang jadi takut ke sekolah. Banyak ibu-ibu yang geram dengan perilaku si Kuncung ini karena anaknya sering jadi korban, bukan cuma sekali dua kali, tapi sering. Sudah ada yang melapor juga ke Guru, tapi tidak ada tindak lajut yang nyata.
 
Baca juga : Rahasia awet muda
 
Dulu ada yang pernah bercerita, anak ini termasuk golongan berkebutuhan khusus, omongannya segala macam isi kebun binatang dengan mudah meluncur dari mulutnya, perilakunya juga nakal melebihi anak yang lain. Tapi waktu itu aku masih sambil lalu mendengarnya.
Setelah kejadian itu aku semakin intens mencari informasi tentang si Kuncung ini. Bahwa si Kuncung ini ibunya adalah seorang pedagang warung makan yang cukup terkenal di daerahku. Dia dititipkan pagi2 sekali dan baru dijemput larut malam. Menurut informasi bapaknya pernah mengidap sakit jiwa. Di rumahnya sudah terbiasa mendengar dan mengucapkan seisi kebun binatang. Dari orang tuanya sampai teman-teman orang tuanya yang datang ke rumahnya juga sama saja, ditambah lagi lingkungan yang kurang mendukung. Kesibukan orang tua dan kurangnya pendidikan moral dari orangtuanyalah yang semakin membuat si Kuncung ini semakin tidak terkendali.
Aku sebenarnya justru kasihan sama si Kuncung ini. Hitam putihnya untuk anak adalah tergantung dari orangtuanya. Anak sekecil ini sudah mendapat pola yang salah. Sebenarnya dia sendiri adalah juga korban, korban dari kelalaian orang tuanya. Dan sayangnya si korban ini juga menjadikan anak-anak lainnya menjadi korbannya.
Dari waktu ke waktu Yua semakin sering bilang nggak mau sekolah, nanti dinakali si Kuncung. Memang aku terkadang masih melihat bekas luka cubitan. Entah itu di dekat mata, di tangan atau di kaki. Tapi setelah dibujuk, akhirnya Yua mau aku antar sekolah. Aku tidak melapor ke sekolah, karena gurunya seharusnya sudah tahu karena kejadiannya di sekolah, juga karena ada beberapa Ibu yang sudah pernah melapor.
Beberapa minggu yang lalu Ayahnya bilang, Ya sudah, nggak usah sekolah dulu saja nggak papa, berhenti dulu sekolahnya, kasihan juga kalau dipaksa masuk, nanti malah trauma sekolah. Biar besok langsung ke TK saja.Lagipula kalau diperhatikan, mutu pendidiknya tidak sebaik dulu, kata ayahnya. (Yua memang sudah didaftarkan ke TK sejak Januari kemarin untuk tahun ajaran baru besok, dan dia mau sekolah di TK tersebut dan tidak mau ke PAUD lagi).
Ya memang benar kalau dipaksa nanti bisa trauma, tapi selama dia masih mau sekolah ya akan aku antarkan. Yua itu punya potensi, punya kesempatan. Sayang sekali dengan potensi dia, yang hanya karena anak lain jadi mogok sekolah, kataku. Tidak banyak lho anak seperti Yua. Sejak umur 2,5 th sdh familier mengoperasikan computer, sdh hafal doa2, sudah banyak pengetahuan umumnya yang teman seusia dia banyak yg belum tahu. Apalagi sekarang.
Hari Jumat kemarin (2 Mei) Yua tidak mau sekolah, alasannya sama, nanti dinakali Kuncung. Ya sudah jadilah dia tidak masuk sekolah hari Jumat, Senin, Selasa.
Selasa sore Yua dinyatakan dikeluarkan dari sekolah dengan alasan tidak masuk sekolah selama 3 hari berturut-turut tanpa ijin. BY PHONE.



Apa Masalahnya?
Bagi kami, selaku orang tua Yua, tidak masalah Yua berhenti sekolah. Yang kami sayangkan adalah kenapa pihak sekolah langsung membuat keputusan sepihak tanpa mencari tahu dulu pokok permasalahannya.
Sebagai lembaga pendidikan, terutama untuk anak usia dini, semestinyalah selain memperhatikan segi kognitif anak, juga memperhatikan sisi spikologis anak. Anak ini kenapa dan apa apa? Anak usia dini, tidak bisa disamakan dengan sekolah militer, yang jika salah langsung dihukum. Di masa kakaknya (kakak Yua dulu juga sekolah di tempat itu juga), dan mantan bu gurunya di situ pun juga bercerita, kalau dulu ada anak begini-begitu pasti dilaporkan ke orang tua, kalau anak tidak masuk sekolah beberapa hari ada program home visit, guru mendatangi rumah murid menanyakan kabar anak tersebut. Memang sekolah ini tidak seperti dulu. Mungkin karena kebanyakan murid dan kurangnya tenaga pengajar jadi kurang maksimal.
Di sekolah yang tingkatannya lebih tinggi, bahkan di dunia kerja, jika seorang anak melanggar peraturan, masih ada SP 1, SP 2, SP 3. Itupun pasti ditanyai apa alasannya melanggar peraturan.
Di kasus Yua ini, tidak ada peringatan, langsung diambil keputusan. Sekali lagi, By phone.
Hari Rabu aku tetap mengantar Yua masuk sekolah, suamiku ikut mengantar karena akan meminta penjelasan mengenai hal tersebut. Saat itu suamiku bertemu dengan staf TU-nya, dan juga salah satu pengajarnya. Dan memang Yua dikeluarkan dari pihak sekolah dengan alasan tersebut. Itu sudah peraturan sekolah dan jika akan masuk lagi, harus membayar 150rb sebagai daftar ulang (yang ternyata banyak juga dari orangtua murid yang lain yang tidak tahu mengenai hal itu). Suamiku mengatakan bahwa; OK, tidak apa2 anak saya dikeluarkan dari sekolah, kami ikuti aturannya, tapi kenapa pihak sekolah tidak menanyakan apa alasannya Yua tidak masuk sekolah dan langsung memberi keputusan.
Akhirnya aku ikut masuk dengan seorang ibu yang lain yang anaknya juga jadi korban. Anak saya tidak mau sekolah karena takut dengan Mr. X (kejadiannya sudah lama dan saya tidak tahu kenapa, tapi Yua masih sering menyinggungnya), dan yang lebih parah dan lebih sering alasannya takut dibully sama si Kuncung ini, dan korban si Kuncung ini bukan cuma Yua, banyak anak yang lainnya. Bu Guru itu bilang, ya bikin daftar saja siapa nama anak yang dinakali. Lho… lha wong kejadiannya saja di sekolah, masak orang tua yang harus bikin laporan, bukankah seharusnya pihak sekolah yang lebih tahu kejadian di dalam lingkungan sekolah, justru pihak sekolahlah yang seharusnya memberi laporan ke orang tua murid, dan memberi sangsi ke si biang keroknya. Bukan malah sebaliknya, si korban yang dikorbankan. Aku bilang, anak saya dua-duanya perempuan, kami memang mengajari, kalau ada anak lain yang nakalin kamu dan itu sudah keterlaluan, kalau dia mukul, balas pukul, kalau dia nampar, balas nampar. Itu bukan mengajari balas dendam. Tapi mengajari anak untuk membela dirinya. Tapi apa jawaban Yua, kata bu Guru nggak boleh nakal-nakalan. Lha kalau begitu kamu terus yang akan jadi korban si kuncung itu yang nyatanya sampai sekarang juga masih sering membully anak lain dan pihak sekolah tahu betul itu…
Jam 8.30, gerbang sekolah dibuka kembali untuk memberi kesempatan anak yang terlambat sekolah masuk, sedangkan Yua dikeluarkan dari gerbang (disodorkan begitu saja tanpa ada ucapan apa-apa, setelah sempat ikut senam pagi).
Setelah ada kabar Yua diberhentikan sekolahnya karena tidak masuk sekolah tiga hari tanpa mau tahu alasannya, hebohlah ibu-ibu yang mengantarkan anaknya. Semakin banyak ibu-ibu yang menceritakan anaknya juga menjadi korban si Kuncung. Si Kuncung yang bikin masalah, kenapa anak lain yang dikorbankan, begitu kata sebagian ibu-ibu. Saat itu bahkan ada ibu yang menunggu anaknya di luar gerbang karena anaknya kemarin juga nggak mau sekolah karena dibuli si kuncung, bekasnya masih ada di perut. Kalau hari ini si anak nangis nggak mau sekolah dan tidak ada jaminan keamanan dari pihak sekolah dia akan mengeluarkan anaknya.
Lha wong anak di rumah disayang-sayang, dieman-eman, masak masuk sekolah serasa dimasukkan ke kandang macan, orangtua khawatir anaknya dibuli, anaknya takut disakiti. Hanya gara-gara satu anak itu.
Ada juga ibu-ibu yang cerita, bahwa anaknya juga sudah tiga hari nggak masuk sekolah, sama seperti Yua, dan baru masuk hari ini juga. Di hari Selasa siang dia ditelpon pihak sekolah tapi tidak diangkat. Sorenya dia baru SMS ke sekolah, ijin untuk anaknya. Aku bilang, kalau Selasa siang berarti berurutan dengan telp ke ayahnya Yua. Kalau ayahnya diangkat langsung ada pemberitahuan itu, kalau anda tertunda pemberitahuannya, dan keduluan SMS ijin sore harinya, jadi hari ini anak anda masih bisa masuk sekolah, sedangkan Yua tidak. 
Ada ibu lain yang bercerita anaknya pernah 10 hari tidak masuk sekolah, dan waktu masuk lagi disuruh bayar pendaftaran 150rb. Tapi dia tidak mau bayar dan anaknya masih tetap sekolah sampai sekarang.
Jam 11 siang ayah Yua kembali ke sekolah menghadap kepala sekolah (setelah bikin janji dulu). Dia menyampaikan bahwa memang sebagai orangtua kami lalai meminta ijin sekolah untuk Yua, dan dia hanya ingin menyampaikan pokok permasalahannya saja, alasan kenapa Yua tidak mau sekolah. Dan keputusannya juga ngambang, pihak sekolah masih mau berhubungan dengan orang tua Yua dan Yua.
The Point is :
Dengan maraknya kasus kekerasan di sekolah akhir-akhir ini, memang wajar jika para orang tua merasa khawatir tentang keamanan anaknya di sekolah. Apalagi di sekolah Yua ini memang sudah terjadi kekerasan yang mungkin dari pihak sekolah dianggap sepele tapi ternyata berbekas di spikis anak.
Bahwa adalah tanggung jawab orang tua untuk mendidik anaknya, bukan hanya pemenuhan materi, tapi juga kasih sayang, perhatian dan pendidikan terutama moral untuk anak-anaknya. Bahwa akan menjadi apa anaknya kelak itu adalah tanggung jawab orang tua. Jangan dijadikan alasan bekerja mencari nafkah sehingga melalaikan pendidikan moral dan spiritual anaknya.
Mendengarkan anak. Kita sebagai orang tua kadang tidak menghiraukan apa yang dikatakan anak, bisa jadi itu adalah sebuah klu yang sangat penting.
Bahwa pihak sekolah selaku pendidik, aturan memang untuk mengatur, sekolah untuk mendidik, jangan dijadikan sekolah semata-mata untuk mencari untung dengan menerima siswa sebanyak-banyaknya sehingga pendidiknya sendiri kewalahan dalam menangani anak didiknya. Sekolah bukan hanya untuk pintar membaca dan menulis, tapi juga untuk pembelajaran moral dan spiritual.
Komunikasi dua arah, bukan pengetok palu.

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft :  Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik




Friday, June 1, 2012

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Belajar Membaca?

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Belajar Membaca, Anaknya Sudah Bisa Membaca Bu?, Parenting, belajar,belajar membaca, Pendidikan Anak Usia Dini, PAUD,

 
Anaknya Sudah Bisa Membaca Bu?
Pertanyaan itu seringkali muncul terutama di masa-masa tahun ajaran baru untuk anak-anak yang memasuki usia SD.  

Dulu waktu masih kecil, aku biasa membacakan buku untuk Ranka, biasanya menjelang tidur dia minta dibacakan buku. Buku Favorit yang sering aku bacakan adalah buku bilingual “Don’t Be Affraid My Little Ones, Jangan Takut Anakku,” karya M. Christna Butler & Caroline Pedler. Selain itu aku juga memberi gambar-gambar untuknya. Setelah adiknya lahir, intensitas membaca buku jadi berkurang. Sebagai gantinya, aku juga sering memutarkan video tentang A B C D dan sejenisnya. Walaupun di rumah ada banyak buku dan sering diputarkan video edukasi, tapi secara khusus aku tidak pernah mengajarinya membaca secara langsung.  

Dari buku-buku, majalah ataupun internet yang pernah aku baca, anak usia dini sebaiknya tidak diajarkan untuk membaca dulu. Bahkan setahu saya, TK sekarang lebih sering tidak duduk di kursi, tapi lesehan, dengan anggapan bahwa usia mereka adalah usia bermain, bukan belajar di meja seperti pada umumnya anak belajar. Memaksakan anak belajar membaca terlalu dini ditakutkan anak akan mengalami kejenuhan membaca di saat yang seharusnya dia rajin membaca. Bisa saja anak sudah pintar membaca pada usia dini, tapi mungkin saat kelas 3 atau 4 SD dia mulai mengalami kebosanan. Teman2 lain sedang senang-senangnya membaca, dia sudah jenuh. 

Saat ini Ranka sudah TK B, rencananya tahun ini masuk SD. Dulu, Bu Guru TKnya pernah menanyakan ke kami, RanKa besok masih TK atau mau melanjutkan ke SD? Waktu itu jawaban kami Ranka masih TK saja. Mengingat umurnya yang baru 6th 2bln bulan Juni nanti. Sedangkan standard  masuk SD adalah usia 7th. Suatu saat ada ibu-ibu wali murid lain menanyakan Ranka besok TK atau SD? Saya jawab, masih TK, iya kan Bu Guru, yang kebetulan di dekat situ ada Bu Gurunya. Bu Guru tadi menjawab, iya Ranka, A, B, C, D (dia menyebutkan nama anak yang lain) masih TK, kalau X sudah SD karena sudah bisa membaca. Saya sebenarnya agak kaget mendengar jawaban ibu guru tadi. Bukan masalah Ranka yang masih TK, tapi alasan untuk anak lain yang masuk SD karena sudah bisa membaca, padahal umurnya masih di bawah Ranka.

Baca juga : Rahasia awet muda

Dari berbagai literature, dikatakan bahwa anak usia dini (TK) jangan diajarkan membaca dulu, tapi pada kenyataannya, kebanyakan SD mensyaratkan agar siswa yang baru masuk sudah bisa membaca. Bahkan saat mendaftar masuk SD (terutama SD favorit) diadakan tes membaca. Dari jawaban Bu Guru tadi, dan juga kenyataan di lapangan, tentunya itu membingungkan para orang tua. Bagaimana bisa kalau TK saja tidak boleh diajarkan membaca, tapi masuk SD sudah harus bisa membaca. Padahal dari dulu aku santai-santai saja untuk urusan kemampuan membaca Ranka.

Akhirnya untuk mengejar ketertinggalannya, Ranka kami mintakan les tambahan ke bu Guru. Jadilah Ranka seminggu tiga kali les privat sendiri sepulang sekolah. Setelah dua bulan, kami lihat kemampuan membacanya sudah banyak peningkatan. Memang kalau untuk menulis dia masih agak kesulitan. Dia kalau menulis sering terbalik, baik huruf maupun urutannya. Jadi kalau biasanya orang lain menulis dari kiri ke arah kanan, dia dari kanan ke arah kiri dengan huruf yang juga terbalik. Jadi kalau membaca memakai cermin, maka kita akan bisa membacanya dengan benar.   

Seperti diketahui, Ranka anak kidal, dan kalau aku perhatikan, Ranka juga mengalami kecenderungan apa yang disebut Disleksia. Semacam kesulitan membaca karena kelainan syaraf otaknya. Aku sendiri berfikir, mungkin karena kejang selama setengah jam yang dulu pernah dia alami setelah demam tinggi mungkin telah menyebabkan kerusakan syaraf otaknya. Mengingat simboknya saja SD dari kelas satu sampai kelas enam selalu juara satu, SMP maksimal rangking 6, dan masuk sekolah kejuruan Favorit. Tidak langsung kuliah karena tidak ada biaya, setelah bekerja bisa membiayai kuliah sendiri di dua tempat yang berbeda (walaupun akhirnya yang satu tidak selesai karena keburu nikah... ha..ha...). Jadi agak aneh rasanya kalau Ranka agak lambat beradaptasi dalam belajar. Karena itu pula sekarang Ranka ikut les menari, karena dia lebih interest di seni tari daripada harus belajar membaca dan menulis. (Dia juga sudah beberapa kali ikut pentas tari). Dia lebih betah menari 3 jam terus menerus dari pada belajar selama 15 menit. Kadang untuk mengakalinya belajar baca tulis, nanti dia aku minta menggambar atau menggunting, kemudian ditulis benda apa yang dia gambar itu. 

Apapun itu, aku berharap Ranka bisa mengikuti apa yang menjadi minatnya. Dia les membaca karena memang harus bisa membaca. Untuk selanjutnya terserah dia mau memilih bidang apa yang dia sukai. Kami selaku orang tuanya tidak keberatan kalau ternyata dia memilih sekolah seni atau yang lain dari pada sekolah formal. 

Untuk Yua, adiknya, karena melihat kakaknya belajar, secara otomatis dia juga ikut belajar, walaupun kadang justru menganggu, kalau sudah begitu biasanya belajarnya berhenti, diganti acara menari.... 

Bagi orang tua lain tentu punya gambaran sendiri kapan anaknya akan mulai belajar baca tulis. Setiap anak mempunyai kesiapan yang berbeda. Ada yang tanpa disuruh sudah rajin belajar atas keinginan sendiri, ada juga yang harus diberi semangat lebih agar dia mau belajar. Mungkin di situlah letak tanggung jawab orang tua untuk membimbingnya. 
 
 
==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft :  Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik