Total Pageviews

Sunday, September 19, 2021

Apa Saja Yang Dibawa Saat Menjenguk Bayi

 

 


Saat ada saudara atau teman yang baru saja melahirkan, sudah menjadi kebiasaan kalau kita akan datang menjenguknya. Saat menjenguk, tentu saja kita tidak akan datang dengan tangan kosong. Kita akan membawa hadiah sebagai bentuk suka cita untuk kehadiran sang bayi.

 

Tapi ada satu hal yang kadang terlewatkan oleh kita. Sebenarnya bukan hanya si bayi saja yang butuh perhatian, si kakak dan ibu si bayi juga perlu perhatian.

 

Kadang tidak terfikirkan oleh kita, jika si bayi punya kakak, bagaimana perasaan si kakak jika adiknya mendapat banyak perhatian dan hadiah, sedangkan dia tidak. Bisa-bisa dia akan merasa terkesampingkan dan terabaikan. Jika si bayi punya kakak, saya biasanya justru memilih memberikan kado untuk sang kakak. Hal itu untuk menghindari perasaan iri yang mungkin terjadi pada si kakak.

 

Dulu saat saya hamil anak kedua, saya menyiapkan beberapa kado untuk si kakak. Rencananya kado tersebut akan saya berikan jika si kakak menanyakan kok tidak ada hadiah untuknya?. Tapi setelah adiknya lahir dan mendapat banyak kado pun, dia tetap tenang-tenang saja. Jadilah kado tersebut saya berikan kepadanya secara berkala.

 

Si Ibu yang sudah kelelahan selama proses melahirkan, tentu juga akan merasa senang jika mendapat sebuah hadiah istimewa untuknya. Ingat ya…ibu melahirkan juga membutuhkan dukungan moral agar spikis dan fisik ibu tetap terjaga. Perhatian berupa pemberian hadiah yang tepat bisa membuat hari-hari bunda menjadi lebih baik.

 

Jadi hadiah apa saja yang bisa kita berikan.  

 

Untuk bayi.

1. Toiletris, set peralatan mandi, diapers, set peralatan gunting kuku, baby mat (alas bayi), termasuk sabun detergen dan pelembutnya.

2. Handuk bayi, pilih yang berkualitas bagus, agak tebal dan lembut agar nyaman saat dipakai bayi. Pilih warna yang soft dan netral. Ada orangtua yang tidak mengklasifikasikan warna biru-pink untuk bayi mereka. Handuk termasuk pilihan yang aman karena jika double pun tetap akan bisa digunakan secara bergantian.

3. Pakaian bayi. Ada baiknya kita memberi pakaian yang bisa dipakai sehari-hari. Piyama atau pakaian berbahan kaos yang lembut sangat disarankan. Memberi pakaian pesta mungkin tampak cantik dan mewah, tapi baju itu mungkin hanya akan terpakai beberapa kali saja. Pakaian bayi bisa termasuk set sarung tangan-kaki dan kupluk bayi, baju hangat, sepatu kain.  

4. Tas dan gendongan bayi. Saat ini ada banyak sekali macam tas dan gendongan bayi. Kita sebaiknya tahu kebiasaan bepergian orangtua agar tahu kira-kira lebih cocok dengan model apa. Apakah sering bepergian ataukan lebih sering di rumah.

5. Peralatan tidur bayi. Set kasur dengan kelambunya, selimut, bedong, sprei anti air ukuran standar kasur, bouncer (ayunan), box bayi. Untuk bouncer dan box bayi, cek apakah kira-kira ukurannya cocok dengan ukuran kamar. Jangan-jangan kita memberikan box bayi, tapi justru tidak ada tempat untuk meletakkannya.

6. Mainan Bayi. Karena masih belum bisa main sendiri pilihlah mainan yang aman. Misalnya hiasan gantung dengan musik, box musik, lampu tidur anak. Bisa juga teether, kerincingan, buku cerita dari bahan kain, mainan yang lembut di pegang dan aman jika digigit.

7. Bottle warmer, sterilizer, mungkin termasuk peralatan yang modern, tapi menurut saya kurang banyak digunakan. Pompa asi dan chiller dipakai saat produksi ASI ibu berlebih, atau ibu-ibu bekerja, tapi tidak semua ibu memerlukannya.

8. Baby seat, stroller mungkin bisa dimasukkan daftar.

 

Baca juga : bagaimana-cara-mengubah-hobi-menjadi cuan

 

Kado untuk Ibu

1. Daster/baju menyusui, termasuk pakaian dalam yang nyaman, cover menyusui, stagen dll.

2. Set perawatan pribadi. Sabun, shampoo, body lotion, pelembab dll. Pilih produk dengan merk yang ekslusif agar bunda juga merasa lebih istimewa.

3. Voucer perawatan, bisa untuk salon rambut, perawatan tubuh, spa dll.

4. Dekorasi rumah yang sudah lama diinginkan bunda. Walldeco, karpet, cermin dll.

5. Makanan kesukaan bunda.

 

Kado untuk kakak

Untuk kakak, kita bisa bertanya sebelumnya kepada ayah bundanya, kira-kira apa yang diinginkan sang kakak agar nanti saat menerima, kakak merasa senang karena mendapatkan barang yang diidamkannya. Misalnya sepatu, tas, baju, handuk, mainan dll.

 

Kita tidak perlu memberi kado untuk ketiga orang tersebut sekaligus. Pilihlah yang menurut kita akan lebih bermanfaat jika diberikan untuk siapa. Walaupun bukan untuk bayi, orangtua akan tetap menghargai kado pemberian untuk si ibu atau kakak.

 

Sekali lagi, jika kita akan memberikan hadiah berupa barang, cek dulu kebutuhan dan selera si orang tua bayi. Kenapa orang tua, karena jika itu berupa barang yang modelnya kurang disukai orangtua, kemungkinan dia tidak akan mengenakannya pada si Bayi.

 

Tidak ada salahnya sebelum beli kado kita bertanya dulu, kira-kira apa yang dibutuhkan. Jangan sampai kita memberikan barang yang hanya dibuka bungkusnya saja kemudian hanya disimpan karena duoble, tidak dibutuhkan atau bahkan kurang disenangi modelnya.

 

Yang paling penting, sesuaikan kado yang akan kita berikan dengan bugjet kita. Jangan sampai hanya karena ingin terlihat wah, tapi justru menguras kantong kita.

 

Jika ingin aman, kita bisa memberi angpau saja. Dengan uang cash, orangtua akan bisa mengelola pemanfaatannya dengan lebih leluasa.

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft :  Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 

Tuesday, September 7, 2021

Rewang - Tradisi Jawa Gotong Royong Membantu (Masak) Orang Yang Punya Hajat

 

Adat Jawa,Jawa,Rewang,Budaya,Adat, Tradisi Jawa Gotong Royong Membantu (Masak) Orang Yang Punya Hajat

 

Di dalam masyarakat Jawa, ada suatu istilah namanya “rewang.” Rewang artinya membantu. Di sini ada dua pengertian. Rewang dalam arti pembantu, yaitu orang yang bekerja membantu orang lain, biasanya membantu dalam urusan kegiatan rumah tangga, istilah sekarang asisten rumah tangga, maid dalam bahasa Inggris.

Pengertian yang ke dua yaitu kegiatan bersama-sama membantu orang yang sedang punya hajat (dalam hal ini lebih ke kegiatan membantu memasak/menyiapkan hidangan hajatan).

 Baca juga : Kirab Siwur 1 Suro, Imogiri

Nah, saya akan membahas “rewang” dalam pengertian ke dua.

 

Rewang adalah salah satu warisan budaya adiluhung yang ada di masyarakat Jawa. Rewang adalah salah satu bukti bahwa masyarakat Jawa adalah masyarakat yang suka menolong dan bergotong royong dalam kehidupan sehari-hari.

 

Rewang sebenarnya bukan hanya acara membantu masak, di sini juga terjadi interaksi dari keluarga, tetangga dan saudara-saudara dari jauh yang biasanya juga datang membantu saat ada hajat keluarga. Di sini akan terjadi pertukaran info, bisa lebih saling mengenal saudara yang mungkin sebelumnya kurang akrab, dan mempererat tali persaudaraan dan keharmonisan bertetangga.

 

Baca juga : Rahasia awet muda

 

Di dalam tradisi Jawa, jika ada sebuah keluarga mengadakan sebuah hajatan, apakah itu pernikahan, sunatan, selamatan atau yang lainnya, maka warga sekitar rumah keluarga tersebut akan datang membantu, akan rewang. Ibu-ibu biasanya membantu dalam urusan masak-memasak menyiapkan hidangan hajatan, bapak-bapak membantu menyiapkan ubo rampe (perlengkapan) untuk hajatan, misalnya menyiapkan tempat, membuat tenda atau mengurusi patehan (tempat untuk membuat minuman, teh), sedangkan muda-mudi biasanya membantu menghias dekorasi (pada hajatan nikah) dan sinoman. Sinoman, enom, muda, yaitu pemuda-pemudi yang bertugas menghidangkan makanan dan minuman untuk tamu. Pada hajatan nikah biasanya mereka akan berpasangan, pemuda yang membawakan baki makanan/minuman, sedangkan pemudi yang mengambil dari baki dan menyajikannya ke meja tamu.

 

Rewang bisa berlangsung hanya sehari dua hari atau bahkan bisa sampai satu minggu. Hal itu tergantung dari macam dan besarnya suatu hajatan. Untuk hajatan pernikahan misalnya, bisa sampai satu minggu bahkan lebih. Memang apa saja yang dilakukan? Hari pertama bapak-bapak  menyiapkan tempat, hari kedua dan ketiga ibu-ibu menyiapkan nasi berkat/bancakan atau punjungan untuk diberikan kepada tetangga dan relasi-relasinya. Semakin banyak relasi tentu akan semakin banyak jumlah “besek” yang dibuat. Besek adalah wadah yang terbuat dari bambu, digunakan sebagai wadah untuk nasi berkat. Nasi berkat/bancakan sebagai ungkapan syukur, diberikan kepada tetangga atau relasi dengan cuma-cuma sebagai tanda tali kasih. Sedangkan punjungan diberikan sebagai isyarat undangan dan harapan agar si penerima punjungan juga akan memberikan sumbangan. Cara membedakan apakah itu bancakan atau punjungan adalah dengan isi dari besek itu. Bancakan isinya disertai dengan gudangan (sayuran rebus dengan bumbu parutan kelapa), sedangkan pada punjungan, tidak ada gudangan. Bisa juga diketahui dari cara si pembawa besek menyampaikan pesan, apaka itu bancakan atau punjungan. Hari keempat menyiapkan sebagian hidangan untuk besok hari H. Hari kelima hari pelaksanaan hajat. Hari ke enam membuat ulih-ulih. Ulih-ulih yaitu nasi berkat yang diberikan kepada tamu yang menyumbang, yang sebelumnya tidak mendapat nasi punjungan. Hari ke tujuh penutupan panitia. Pembukaan panitia biasanya seminggu atau dua minggu sebelum mulai rewang. Rewang biasanya dilakukan dari pagi sampai sore, tapi ada juga yang dari jam dua pagi sudah mulai memasak, tergantung kapan hidangan/berkat itu akan dibagikan.

 

Jaman dulu, setiap orang yang rewang biasanya keluarganya di rumah akan dikirimkan nasi dan lauk pauk satu piring sebagai ganti makan untuk keluarganya, sekarang kadang-kadang si rewang akan diberikan bingkisan berupa sembako pada saat acara sudah selesai, di hari terakhir rewang.

 

Selain rewang, tetangga yang membantu biasanya juga memberi sumbangan. Inilah yang sebenarnya justru memberatkan. Selain membantu tenaga, mereka juga biasanya ikut menyumbang. Bisa berupa uang, bisa juga berupa bahan-bahan makanan pokok. Di beberapa daerah, sumbangan ini dicatat dan saat si pemberi sumbangan mengadakan hajatan, dia akan diberikan sumbangan sesuai dengan apa yang telah diberikannya dulu. Tapi ada juga si empunya hajat hanya meminta bantuan tenaga para tetangga saja dan tidak menerima sumbangan uang atau barang dari tetangga.

 

Pada saat ini, orang-orang sudah mulai meninggalkan budaya rewang. Dengan pertimbangan kesibukan masing-masing individu dan kepraktisan, saat ini orang lebih memilih untuk menggunakan jasa katering. Hal ini juga dengan pertimbangan, untuk mengadakan hajatan di rumah, tentu harus menggunakan ruangan/dapur yang luas. Sedangkan pada saat ini rata-rata rumah dan dapur hanya berukuran kecil. Sedangkan untuk acara yang mengundang banyak tamu, misalnya ulang tahun atau pernikahan, orang akan lebih memilih menyewa gedung jika rumahnya tidak memungkinkan untuk menerima tamu dengan jumlah yang besar.  

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft :  Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik