Total Pageviews

Showing posts with label konseling. Show all posts
Showing posts with label konseling. Show all posts

Tuesday, November 1, 2022

Cara Mengatasi Stress Paska Orangtua Bercerai

 

Cara Mengatasi Stress Paska Orangtua Bercerai, Broken Home, Broken Heart, Cerai, Pernikahan, Pendidikan Anak, Woman Talk, Woman Power, Woman Support, Strss, Cara Menghadapi Stress, Putus, Healing, Konseling,

 

Di sini saya hanya akan membicarakan dari sisi anak, baik itu remaja maupun menginjak dewasa.

 

Bisa dipahami bahwa saat orangtua bercerai, sebelum, saat proses dan setelah bercerai, bukan hanya orangtua yang merasa stress, anak-anak pun juga akan merasakannya. Perasaan sedih, marah, kecewa bahkan perasaan bersalah mungkin juga ada. Itu adalah perasaan yang manusiawi. Mungkin untuk beberapa lama, mungkin bisa bulanan bahkan tahunan. Itu bisa dimaklumi. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana selanjutnya kita me-manage perasaan itu agar menjadi lebih baik.

 

Dari sisi aku sebagai anak

 

Pertama yang harus dipahami adalah bahwa itu wajar saja jika kita merasa sedih, marah dan kecewa saat orangtua kita bercerai. Pada tahap-tahap awal kita bisa merasa sangat stress, bahkan mungkin merasa malu saat akan keluar rumah. Malas melewati pandangan tetangga yang melihat kita dengan tatapan yang aneh, atau malas mendengar nasehat yang mengatakan kepada kita kalau kita harus bersabar.

 

Tapi, tahukah kamu, ini adalah saat yang tepat untuk kita “menikmati” perasaan itu. Kenapa menikmati? Gila apa menikmati kesedihan!!! Tanamkan di benak kita bahwa, ini adalah masa yang sulit, aku stress, aku bersedih, aku marah, aku kecewa. Iya… aku berada di masa itu sekarang. Aku meminta waktu dan aku memberi waktu untuk diriku sendiri untuk menjalaninya dan menghadapinya. Tapi aku tahu itu harus segera berakhir.

 

Menanamkan di hati dan pikiran bahwa ini adalah bagian dari perjalanan hidup kita yang harus kita hadapi. Dan bahwa jutaan orang di luar sana banyak mengalami kejadian yang lebih buruk, tapi bisa bertahan, maka kita juga harus bisa. Menghipnotis diri sendiri untuk menerima, menikmati dan melepaskan semua kekacauan di hati.

 

Melihat permasalahan dari sisi orangtua

 

Sebagai anak, kita mungkin tidak tahu atau tidak diberitahu permasalahan seperti apa yang sebenarnya yang membuat mereka memutuskan untuk bercerai. Mungkin masalah ekonomi, perselingkuhan, KDRT atau masalah seksual. Bisa jadi malah semua kategori tersebut masuk jadi satu.

Atau masalah peran dan tanggungjawab suami istri yang kurang. Bisa juga karena peran mertua (orangtua salah satu pihak yaitu kakek/nenek kita) yang terlalu mendominasi rumah tangga anaknya.

 

Saat orangtua kita bercerai, mereka pastinya sudah memikirkan hal itu masak-masak. Mungkin sebenarnya permasalahan itu sudah lama ada, tapi orangtua masih mencoba untuk bertahan, demi apa? Demi anak-anak (katanya).

 

Tapi sebagai anak, pernahkan kita berfikir, jika orangtua kita memaksakan diri untuk terus bersama, pasti ada salah satu pihak yang akan terus merasa tersakiti. Bagaimana bisa kita meminta “permakluman” orangtua agar demi kita, anaknya, salah satu dari mereka harus tersakiti terus-menerus.

 

Sebagai anak, apa iya kita merasa nyaman saat melihat orangtua sering bertengkar di rumah, saling menyalahkan, saling berkata kasar. Bagaimana perasaan kita jika setiap hari melihat salah satu orang tua kita diperlakukan kasar atau bahkan dipukuli.

Atau bahkan justru orang tua kita saling mendiamkan dan sama sekali tidak mau berkomunikasi. Satu datang, satu pergi. Sama-sama dalam satu ruangan tapi tidak mau saling berbicara atau malah tidak mau saling menatap. Sungguh, itu adalah suasanya yang sangat tidak nyaman.

 

Dengan memahami bahwa orangtua juga punya hak untuk mendapat kebahagiaannya sendiri. Jika mereka bercerai, maka mereka mempunyai kesempatan untuk bisa memperbaiki kehidupan mereka selanjutnya.

 

Saat kita sudah menjadi “lebih dewasa,” kita akan melihat oh iya, mereka punya permasalahan sendiri. Kita tidak perlu menyalahkan ibu atau ayah. Mereka punya andil masing-masing. Ayah ada salahnya, ada benarnya. Ibu juga ada salahnya ada benarnya. Hanya saja mereka sudah tidak sepemikiran lagi. Dan kita sebagai anak harus menghormati keputusan mereka tanpa perlu menghakimi mereka. Suatu saat kita akan tahu kebenarannya.

 Baca juga : Rahasia awet muda

Bagimana selanjutnya sikap kita terhadap mereka? Setelah mereka bercerai, beri waktu untuk mereka (dan diri sendiri) untuk melalui masa-masa transisi tanpa menghakimi siapapun. Jika memungkinkan tetaplah berkomunikasi terhadap keduanya. Kita mungkin akan ikut ayah atau ibu. Jika ikut ibu, sekali-sekali cobalah menghubungi ayah untuk sekedar berbincang. Begitu juga sebaliknya. Jika salahsatu pihak mencoba menjelek-jelekkan pihak yang lain, tidak perlu langsung terpancing emosi. Itu mungkin adalah luapan kekecewaan dan kemarahan terhadap pihak yang lain. Cukup kita dengarkan saja. Tetaplah berusaha di pihak netral, karena mereka berdua punya andil masing-masing.

 

Jika kita tahu salah satu pihak merupakan pihak yang dirugikan, kita bisa memberinya dukungan. Misalnya dengan mengatakan bahwa kita menghormati keputusannya, kita tahu bahwa itu untuk kebaikan bersama, dan mari kita sama-sama menjalani ini dengan lebih baik.

 

Gampang ngomong!!! Coba kalau ngerasain sendiri…!!!!

 

Saya juga berasal dari keluarga broken home. Sejak kecil saja tinggal dengan ibu, bapak bekerja di lain kota. Ketika tahu bapak saya menikah lagi, saat itu saya masih SMP akhir, menjelang ujian kelulusan, saya juga sangat kecewa, sampai-sampai tidak mau belajar lagi. Tetapi untunglah masih bisa diterima di STM favorit.

Saat itu yang saya tahu (karena saya selalu dengan ibu) yang salah pasti bapak. Tetapi setelah dewasa akhirnya saya bisa melihat dengan kacamata yang lebih luas. Oh iya, bapak memang salah. Tetapi masing-masing juga punya andil kesalahan.

 

Sekarang menjelang kehidupan masa senja mereka, saya hanya mengatakan kepada ibu (karena saya tinggal dengan ibu) bahwa saya berdoa agar ibu dan bapak bisa menjalani sisa hidup mereka dengan perasaan yang ikhlas, saling memaafkan, tanpa menyimpan amarah untuk satu sama lain. Perasaan marah dan kecewa itu pasti tidak bisa dilupakan, tapi bisa diendapkan sebagai bagian dari masa lalu. Tidak perlu untuk bisa bersama lagi, yang lebih penting adalah saling mengikhlaskan.

 

***********

 

Kalau hal-hal di atas adalah untuk manajemen hati, bagaimana dengan kehidupan “real” sehari-hari? Apa yang bisa kita lakukan?

 

1. Jangan sekali-kali menjerumuskan diri ke dalam lingkungan yang negatif. Jangan “menjadikan bodoh” diri kita sendiri dengan bertindak yang aneh-aneh dengan alasan menenangkan diri. Misalnya minum-minum, drug atau bahkan freeseks. You will regret it!!!

2. Ubah penampilan? Potongan rambut baru? Warna rambut baru? Style berpakaian yang lebih keren? OK…OK… It’s make a sense. Penampilan baru, suasana baru.

Tapi saran saya, jangan sekali-sekali mencoba untuk membuat tato atau membuat tindik (untuk laki-laki). Saya yakin suatu saat anda akan menyesalinya.

Lakukan perubahan penampilan yang itu hanya temporary.

3. Tetap lakukan kegiatan seperti biasa. Sekolah, kuliah, bekerja. Tetap fokus dengan kegiatan anda.

4. Cobalah ubah rute perjalanan anda. Jika biasanya selalu melewati rute A, cobalah untuk melewati rute yang lain. Menelusuri jalan-jalan baru… Get loss… Mungkin kita akan tersesat di jalan, tapi itu akan memberi pengalaman baru untuk kita. Masak sih..??? Coba saja….

5. Beberes kamar, rumah atau berkebun. Ini adalah cara murah dan mudah untuk mendapatkan atmosfer yang baru.

Ubah tata letak kamar, cat warna baru, poster atau wallpapper baru. Lihat Piterest untuk mendapatkan inspirasi.

6. Hang out. Bisa mengajak teman atau bisa sendiri. Saya sendiri lebih senang kalau ke mana-mana sendiri. Duduk di dalam bus di sebelah kaca, menikmati pemandangan di luar, apalagi saat menjelang senja… hmm… syadu. Menyusuri Malioboro serasa berada di “runaway”, (serasa paling cantik karena yang lain cuma penonton… hi..hi…).

7. Masuk ke cafe sendiri, menikmati musik tanpa harus ada interupsi karena harus mengobrol dengan orang lain (teman). Lupakan diet, pesan kudapan manis dan coklat hangat. Enjoy your time…  

8. Cari kegiatan baru, les muaythai misalnya.  

9. Yang pasti, tetaplah berdoa beribadah. Karena hanya kepada Tuhanlah kita berserah diri. Klise? Iya… Tapi akan sangat mujarab ketika kita menangis di hadapannya dan menyadari itu semua akan kembali kepada-Nya.

 

Tips di atas bukan hanya untuk menghilangkan stress paska orangtua bercerai, bisa juga saat kita habis putus dari pacar??? hmm… atau bisa juga saat kita merasa penat dengan rutinitas sehari-hari.

 

Sekian tulisan ini. Yang pasti, kehidupan ini akan selalu berjalan. Tak perlulah mengikuti pepatah “habis gelap terbitlah terang, karena gelap atau terang akan selalu ada. Hanya saja tergantung kepada kita bagaimana cara kita menghadapinya. 

 

Saya selalu mengatakan kepada anak-anak saja, “Jika kamu takut akan sesuatu, hadapi saja, maka setelah hal itu kamu lewati, ketakutanmu akan hilang.

 

Mari kita menjalani kehidupan dengan lebih baik, membahagiakan diri sendiri akan ber-impack baik untuk kehidupan kita selanjutnya dan juga untuk lingkungan sekitar. 


==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 

Saturday, April 16, 2011

Broken Home... So What Gitu lho...

Saat kita bertemu dengan anak, remaja atau bahkan orang yang telah menginjak usia dewasa, yang menurut kita hidupnya berantakan, urakan, amburadul, hidup dari jalan ke jalan dan perilaku yang dianggap buruk sejenisnya, maka akan banyak orang yang bilang, “Maklum saja, dia kan dari keluarga broken home? Saya mengernyitkan dahi, “hmm, gitu ya…
 
Saya bertemu dengan banyak orang. Mulai dari orang yang kaya raya sampai yang kere, orang-orang kantoran sampai pengamen perempatan jalan, mahasiswa sampai yang SD saja tidak lulus. Dan sebagian dari mereka adalah teman-teman saya. Dan teman-teman saya ada yang alim, pemabuk, pemakai narkoba dan bahkan pelacur dan sebagainya. Dari mereka saya mendapat banyak cerita. Dari yang alim, saking alimnya, atau mungkin karena masih lugu (atau naïf), sampai dia tidak tahu,”curhat itu apa sih?” atau, “kondom itu apa?” Pertanyaan yang membuat kami tertawa untuk orang seusianya. Cerita si pemabuk karena bapaknya seperti itu, dan dia tidak perlu merasa takut akan dilarang ibunya, toh ibunya juga tidak perduli. Si pemakai narkoba yang katanya terjebak salah pergaulan. Dan si pelacur yang mengharapkan perhatian dan kasih sayang yang tidak dapatkan dari bapaknya. Yang kesemuanya itu garis besarnya karena broken home.  
 
Saya lahir dari keluarga yang sederhana. Sejak bapak dan ibu saya berpisah (bukan bercerai, tapi pisah rumah, ibu tinggal di Jogja, sementara bapak tinggal di Jakarta dan menikah lagi) kami 3 anak-anaknya yang saat itu masih kecil ikut ibu. Keadaan tambah parah saat bapak tidak lagi memberi nafkah kepada kami. Ibu harus bekerja keras banting tulang untuk membiayai sekolah kami. Dan kami pun jadi terbiasa membantu ibu menyiapkan dagangan, sampai mengantarkannya ke warung-warung. Status ibu yang janda bukan, bersuami juga bukan, membuat banyak orang yang berfikiran negatif. Banyak godaan untuk ibu, mulai dari yang merayu secara halus, sampai terang-terangan mengatakan,”asal mau sama aku, anakmu aku biayai.” Beruntung walaupun keadaan ekonomi morat-marit, ibu bukan orang yang selemah itu. Keadaan ibu yang seperti itu berdampak pula pada kami, anak-anaknya. Mulai yang tidak dipercaya membawa uang arisan anak-anak kampung, karena takut ditilep, sampai di dalam bus umum, di depan orang-orang yang tak dikenal ada tetangga yang nyelentuk, bicara dengan keras, “Eh, ini lho anak yang ditinggal bapaknya kawin lagi.” Wow….
 
Setelah lulus SMP saya masuk STM yang jaraknya jauh dari rumah. Untuk menghemat biaya transportasi, atas tawaran seorang guru, saya tinggal di rumah mertuanya yang jaraknya dekat dari sekolah. Bisa dibilang saya jadi pembantu di situ, karena saya harus membersihkan rumah dan memasak setiap hari. Sampai lulus saya tinggal di situ. Hampir 4 tahun (waktu itu STM tempat saya belajar berjenjang 4 tahun). Waktu naik ke kelas 4, adikku seharusnya masuk SMA, tapi karena tidak ada biaya, teman-teman seangkatannya hari pertama masuk sekolah, dia hari pertama masuk kerja jadi buruh di pabrik plastik bekas. Beruntung sore harinya ibuku diberi tahu bahwa ada sekolah yang baru buka, gratis. Jadilah adiknya tidak jadi putus sekolah. 
 
Baca juga : Rahasia awet muda
 
Lulus STM saya sebenarnya ingin kuliah, tapi karena tidak ada biaya saya langsung bekerja di Batam. Yang kata orang banyak sekali godaan di sana. Apalagi untuk anak-anak seusia kami yang baru saja lulus sekolah, menghirup kebebasan, jauh dari orang tua. Ya. Memang benar.  
 
Saya merasa beruntung dulu masuk sekolah STM yang notabene mayoritas cowok dan tinggal di rumah mertua guru saya yang kebetulan juga adalah tempat kos mahasiswi. Jadi saya tidak perlu merasa canggung berada seasrama dengan teman-teman perempuan yang lain, dan saya juga tidak merasa perlu berebut perhatian dari kaum lelaki yang memang hanya seperlimanya di Batam (bahkan mungkin kurang). 
 
Tapi di luar teman-teman seasrama dan teman-teman kerja, teman-teman saya dari luar memang kebanyakan laki-laki.  Mungkin karena saya berasal dari STM, jadi saya mudah berbaur dengan mereka tanpa merasa salah tingkah atau sok jaga imej.. Jadi mereka juga enjoy saja berteman dengan saya. (Padahal sampai SMP saya termasuk anak yang pendiam dan jarang keluar rumah).
 
Di Batam semua bisa saja terjadi. Mulai dari pergaulan bebas, sampai narkoba. Saat baru datang, teman-teman saya bertaruh kalau saya nanti pasti gonta-ganti pacar, apalagi didukung wajah saya yang yah…lumayan cantik  kalau kata saya … (Saya sempat ikut berbagai lomba modeling di Batam). Tapi sampai habis kontrak saya tidak punya pacar, semua hanya teman, karena waktu itu saya sudah punya pacar di kampung. Begitu juga saat teman-teman perempuan saya mengajak saya merokok, ke diskotik, dan sebagainya. Saya tetap pada pendirian saya. Sampai ada yang bilang,”Ah, nanti lama-lama juga ikut-ikutan.”  Saya orangnya asik diajak berteman. Tapi saya juga punya batasan untuk diri saya sendiri. Saya menghormati mereka, dan mereka juga menghormati saya. 
 
Habis kontrak kerja saya melanjutkan kuliah profesi satu tahun dengan biaya gaji terakhir saya di Batam. (Gaji sebelumnya sebagian saya kirimkan dan sebagian saya gunakan untuk mengikuti berbagai kursus dan kegiatan modeling). Lulus kuliah saya langsung bekerja, dan tinggal di kos. Otomatis sejak lulus SMP saya jarang ada di rumah. Hanya seminggu sekali saya pulang. Dan saat pulang adalah hari “rumpi nasional” buat saya. Sebab saat itu saya bisa berbagi cerita bersama ibu. Mulai dari pindah kerja, putus pacaran, sampai pacar saya saat ini dua. Makanya walaupun jarang pulang, saya tetap dekat dengan ibu, termasuk kakak dan adik saya. 
 
Suatu hari saya bertemu dengan sebuah keluarga. Keluarga itu terlihat harmonis. Bapak dan ibu tampak mesra. Say I Love you saat di telfon, cipika-cipiki saat si bapak pergi, sering bepergian bersama. Saya berfikir, bahagianya keluarga ini. Sayang bapak ibuku tidak seperti itu. 
 
Sampai suatu hari, setelah beberapa lama berinteraksi dengan keluarga tersebut, saya baru tahu, mungkin bapak ibunya memang terlihat  romantis. Tapi bagaimana dengan anak-anaknya? Ada yang beberapa kali pindah kuliah sampai akhirnya DO dan hidup di jalanan.  
 
Ada yang tidak menyelesaikan sekolahnya, ada pula yang pada awalnya dibanggakan karena bisa masuk universitas negeri  favorit, ternyata kemudian diketahui bahwa ada perbuatannya yang sangat memalukan hingga merasa perlu dirahasiakan dari keluarga yang lain. Semakin saya banyak tahu tentang keluarga itu, semakin membuat saya pusing. Saya heran. Dari keluarga yang “baik-baik saja,” berpendidikan dan ekonomi yang bercukupan. Apanya yang salah.  
 
Banyak pasangan menikah, meskipun katanya sudah tidak akur lagi…. “Tidak ada kecocokan lagi” kalau kata para selebritis, tapi mereka tetap terus mempertahankan pernikahannya… katanya demi anak….  Kalau saya kok nggak gitu ya…. 
 
Kalau kita sudah tidak bisa sejalan dengan pasangan kita, kalau kita paksakan untuk tetap terus bersama, maka yang akan terjadi adalah saling menyakiti hati satu sama lain, bukan hanya pasangan yang merasa tersiksa, anak-anak pun akan merasakan dampaknya, walaupun mungkin mereka tidak bicara. Kalau memang sudah tidak bisa bersama, untuk apa terus memaksakan diri untuk tetap bersama.
 
Kalau menurut saya, bukan masalah pasangan bercerai atau tidak, mungkin lebih kepada gaiaimana orangtua membekali anak-anaknya, dan bagaimana anak membentengi diri sendiri dan bukan mencari alasan yang sia-sia.
 
Saya merasa bangga dengan keadaan saya saat ini. Walaupun kata orang saya berasal dari keluarga yang “Broken Home” toh saya dan saudara-saudara saya masih berada “di jalan yang benar.” Saya bangga dengan ibu saya (yang tidak berpendidikan) yang telah mendidik saya menjadi orang yang “kuat.” Dan saya juga berterimakasih kepada bapak saya, walaupun telah mentelantarkan kami, tapi dari bapaklah kami dipaksa untuk berjuang. 
 
Dari sini saya banyak mengambil pelajaran. Bukan tentang kamu berasal dari mana, bagaimana keluargamu. Tetapi tentang bagaimana kamu menghadapinya. Jangan mencari alasan untuk menyalahkan orang tuamu.  Dan jangan pula merasa bersalah atas keputusan mereka. Tapi carilah alasan untukmu berjuang.
So.... Broken Home?! So What Gitu Lho!!!  
 
==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik