Total Pageviews

Showing posts with label woman support. Show all posts
Showing posts with label woman support. Show all posts

Wednesday, January 8, 2025

Doa Mendapatkan Jodoh yang Terbaik

Doa Mendapatkan Jodoh yang Terbaik, parenting, woaln talk, woman power, empowering,woman empowering,woman support, home sweet home

Dua pacarku yang terdahulu (dengan segala kelebihan dan kekurangannya), maaf yaaa... pelit... ada yang apa-apa dihitung, nota pembelian hadiah dikasihin, satunya jajan bareng, dia cuek saja makan sendiri, sementara aku cuman minum, karena kami bayar sendiri2 dan uangku juga sudah mepet untuk minggu ini... dan perhitungan2 lain yang bikin aku illfeel, geregetan.... Maaf ya mantannnn.... kalian tetap punya kelebihan yang aku kagumi kok.... he..he...

Dari situ aku berfikir... aduh... kalau dia jadi suamiku kelak, aku pasti merana... ha..ha..ha... Masak apa-apa aku harus cari sendiri, padahal sebagai suami seharusnya dia kan jadi provider... ha..ha..ha... Walaupun aku bisa cari uang sendiri, kan tanggung jawab dia menafkahi anak istri kelak... Kalau dia perhitungan, jangan-jangan mau jajan saja aku nggak bisa... 

Serius nih.... Kita, perempuan, kalau mencari suami, jangan yang punya sifat pelit. Kalau suami kita pelit, untuk istrinya saja dia perhitungan, mungkin untuk anak-anaknya dia akan sedikit longgar, tapi bagaimana dengan untuk orang lain. bagaimana kita bisa bersedekah untuk orang lain, atau jika kita ingin membantu orang tua atau keluarga. Kita tahu suami kita bisa membantu, tapi karena dia punya sifat yang pelit, jadi kita kesulitan kalau mau membantu orang lain. Percayalah.... sifat pelit akan membuat kita makan hati....

Terus gimana dong...

Aku berdoa kepada Tuhan... Ya Allah, kalau kelak aku menikah, berikanlah aku suami yang murah hati....

Taa...Daaaaaaa....

Allah mengabulkan permintaanku.... dengan segala kelebihannya....

Suami.... suamiku tercinta ini.... dia benar murah hati... seperti yang kupinta dari Tuhan...

Plus... saking murah hatinya dia... dia bisa memberikan apaaaa sajaaa yang diminta temannya.... 

Awal-awal menikah aku sering terkaget-kaget ... (aku kenal 5 bulan langsung nikah). Aku tanya... barang ini mana...? Sudah aku kasih si A. Barang itu mana...? Tak kasih si B... barang ini kok lama nggak kelihatan... Diminta si C... bla..bla..bla... Hah...hah...hah..?!!!

Bapak mertua sampai beberapa kali bilang ke aku... tolong dijaga suamimu... saking apikannya dia (baik hati) sampai-sampai apa-apa pasti akan dikasih ke orang lain. Mulailah bapak menceritakan deretan barang-barang bagus yang sudah melayang.... he..he...

Tapi aku juga bersyukur kepada Allah... karena aku telah diberikan suami yang sesuai keinginanku dengan segala kelebihannya...dan bonus-bonus dari Allah.

Mungkin karena dia "apikan" sama orang, insyaallah rejeki kami juga adaaaa saja...


Baca juga :adab-dan-totokromo-anak-tanggung-jawab siapa


Alhamdulillah suami bisa membuatkan aku rumah mewah... (mepet sawah.. he..he..). Rumah yang bahan-bahan bagunannya sebagian besar gratis... ada yang dari bahan-bahan sisa proyek, pemberian dari rekanan-rekanannya dll. Baju-baju yang masih ada labelnya, bahkan ada yang tulisan di labelnya setengan juta lebih dan banyak lagi dikasih temannya yang juragan2 baju. Tas-tas gratis dari teman2nya pemilik pabrik tas. Barang-barang pernak-pernik isi rumah, bahkan handphone, camera dan motor juga tiba-tiba ada di rumah. Gratis... Karena tinggal dikampung di pinggir sawah, telo, beras, sayuran dan buah-buahan juga sering sampai di rumah .... gratis. Tiket ke hotel gratis...jalan-jalan gratis...makan-makan gratis.... Alhamdulillah...

Orang pikir kami "sugih" apa-apa punya... Alhamdulillah.... banyak barang yang ada di rumah ini kami nggak perlu beli... gratis... dikasih orang-orang...

 

Baca juga : adab-dan-totokromo-anak-tanggung-jawab siapa?

 

Kesimpulannya apa...?

Berdoalah kepada Tuhan dengan detail...  Minta suami yang good looking, setia, baik, penyabar, penyayang, murah rejekinya, manjain kamu, apa-apa ngasih...provider yang mumpuni... bla...bla..bla... 

Seandainya kamu lupa berdoa dengan detail... maka percayalah bahwa Allah akan memberikan yang lebih-lebih dari bayanganmu...

(ini diluar tema suami yang sholeh ya... kalau itu sudah pasti... berdoa punya suami yang bisa jadi imam yang terbaik di rumah).


Doa Mendapatkan Jodoh yang Terbaik, parenting, woaln talk, woman power, empowering,woman empowering,woman support, home sweet home


Baca juga : umpulan-kata-kata-mutiara-untuk-hari guru

 

Berikut beberapa doa yang bisa dibaca untuk mendapatkan jodoh yang baik:
  • Robbi hablii milladunka zaujan thoyyiban
    Artinya, "Ya Robb, berikanlah kepadaku suami yang terbaik dari sisi-Mu, suami yang juga menjadi sahabatku dalam urusan agama, urusan dunia dan akhirat".
  • Allahumma fa'tah li hikmataka wa anshur 'alayya min khuzaini rahmatika ya arhamar rahimin
    Artinya, "Ya Allah bukakanlah bagiku hikmah-Mu dan limpahkanlah padaku keberkahan-Mu, wahai Pengasih dan Penyayang".
     
  • Rabbana hab lana min azwajina wa zurriyatina qurrota a'yun
    Artinya, "Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati maupun penyejuk hati". 
     
  • Surat Al-Qasas ayat 24
    Artinya, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku".

 

Please komen dan share yaa.... Biar aku tahu bagaimana respon kamuuuu....

Tuesday, October 29, 2024

Broken Home ... So What Gitu Lho...? Part 2

pernikahan, broken home, parenting, kisah, rumah tangga, keluarga, woman talk,woman empowering,woman power,woman support,

 

Pada suatu masa....datanglah kepadaku seseorang....dia berkata... Mbak, aku seperti ini apakah karena hasil didikan orangtuaku dulu opo yo...? btw usianya sudah hampir 30th.

Dia beberapa kali datang ke rumah, berkeluh kesah tentang drama pecintaannya, yang sebenarnya aku dan suamiku sudah sering memberikan saran yang sama, tetapi dia tetap saja kembali ke jalan itu. 

Ada lagi orang lain, dia berkeluh kesah dia menjadi seperti ini karena dulu ibunya bla..bla..bla... Saat ini dia menjadi single parent dengan satu orang anak. 

***

Saat kamu masih anak-anak, masih remaja, mungkin orang lain bisa menyalahkan orang tuamu karena bagaimana cara dia mendidikmu.

Tapi pada saat orang sudah dewasa, maka kita sudah mempunyai bekal pemikiran dan pengalaman yang cukup untuk membuat kita bisa mengambil keputusan yang lebih bijaksana yang bisa kita pertanggungjawabkan sendiri.

Ketika kamu bilang, "aku seperti ini kan karena didikan orang tuaku dulu..."

Oh tidak sayang.... kamu sudah dewasa, kamu sudah bisa berfikir, kamu sudah bisa membedakan baik buruk, benar salah, kamu sudah harus bertanggung jawab atas semua keputusanmu. Semua keputusanmu adalah tanggung jawabmu sendiri.

Kalau kamu masih menyalahkan orangtuamu atas didikannya kepadamu dahulu, itu sebenarnya adalah egomu yang ingin menang sendiri, ingin melimpahkan kesalahanmu ke orang lain, cuci tangan... 

Terus... aku harus bagaimana....

Saat kamu berasal dari keluarga broken home, perasaan marah dan kecewa dan juga sakit hati kepada orang tua, itu pasti ada. Tapi seiring bertambahnya usiamu, kamu seharusnya juga bisa mawas diri. 

Saat dirimu gagal berumah tangga, bukan berarti kamu juga harus gagal menjadi orang tua.

Saat ini posisimu bukanlah tentang bagaimana aku, tapi bagaimana anak-anakku.

Untuk bisa memikirkan bagaimana anakku, selesaikan dulu "dirimu."

Orang yang telah "selesai" dengan diri sendiri, akan bisa lebih "menyelesaikan" masalahnya dengan anaknya.

Dulu sewaktu aku tahu bapakku menikah lagi, tentu saja hancur hatiku, kecewa. Tapi aku melihat ibuku orang yang kuat, tidak pernah meninggalkan anak-anaknya, selalu berusaha sekuat tenaga untuk bisa memenuhi kebutuhan dasar anak-anaknya, membuat aku juga bisa melalui masa itu.

Seiring bertambahnya usia, aku semakin bisa menerima bahwa, oh iya... setiap keluarga pasti punya permasalahannya sendiri-sendiri. Setiap pasangan pasti punya alasannya sendiri-sendiri kenapa dia begini, kenapa dia begitu. Aku hanya perlu memposisikan diriku di luar mereka, membiarkan mereka mencari jalan keluar mereka sendiri, sedangkan aku bisa mencari jalanku sendiri tanpa merugikan mereka.

Ketika aku sadar berasal dari keluarga broken home, maka yang menjadi tujuanku adalah bagaimana aku bisa berdamai dengan diri sendiri, urusan orang tua biarlah menjadi urusan mereka, aku harus bisa berjuang untuk hidupku sendiri, menjadi pribadi yang positif.

Setelah menjadi orang tua, aku harus bisa menciptakan bagaimana membuat lingkungan yang baik untuk anak-anakku. Menjadikan diriku sebagai sumber ilmu, sumber informasi dan juga guru bagi anak-anakku. 

Kamu sih enak, ada suami yang menanggung kamu, aku kan single parent...

Ok. Maka aku akan melihat bagaimana aku dibesarkan oleh seorang single parent yang pendidikannya hanya sampai kelas 5 SD, yang bisa mendidik anak-anaknya menjadi orang-orang yang "lurus-lurus saja." tidak seperti anak-anak yang ditempeli label produk broken home yang lainnya.

Jika menjadi single parent, bukankah seharusnya kamu justru fokus bagaimana kamu mendidik anakmu. Jika kau memikirkan dirimu sendiri, aku kan butuh hiburan...!

Sesungguhnya anak yang ada di depanmu itulah sebaik-baiknya hiburanmu. Jika kau menjaganya dengan benar, jika kau mendidiknya dengan benar, maka dia akan menjadi pengobat lukamu, dialah yang akan menjadi kekuatanmu. 

Jika kau menjadi single parent, bukankah seharusnya itu menjadi acuanmu untuk bisa membawa energi positif untuknya. Jangan sampai dia menjadi korban keegoisanmu, kemarahanmu. 

Jika kamu beralasan, aku seperti ini karena didikan orang tuaku dulu, maka jangan sampai anakmu mempunyai alasan yang sama terhadapmu.

Broken home boleh saja terjadi, karena itu mungkin jalan terbaik untuk kalian berdua (menurut kalian), tapi jangan sampai kalian menciptakan "broken Kid" karena keegoisan kalian.

Menurutku, selama mantan pasangan kita itu bukan seorang yang ringan tangan, pelaku KDRT, atau bukan seorang pedofil, maka dia tetap berhak terhadap anaknya, berhak bertemu anaknya dan tetap berkewajiban ikut serta mendidik anaknya, jika dia ayahnya, maka dia tetap wajib memberikan nafkahnya. 

Bagiku, jika seorang ibu atau ayah tidak diperbolehkan menemui anaknya, maka sebenarnya itulah adalah keegoisan orang tua. Biarkan anak tetap mengenal masing-masing orangtuanya dengan cara dia sendiri. Toh saat dia besar nanti, dia akan bisa menilai sendiri bagaimana orang tuanya. 

Jika kita berasal dari keluarga broken home atau kita sendiri pelaku broken home, maka jangan sampai kita mewariskan semua kemarahan dan kekecewaan itu ke anak kita.


Bagi aku, istilah broken home itu tidak ada, yang ada adalah "perjalanan"


Part 1 ada di Link berikut yaa...  

https://iwitwijirahayu.blogspot.com/2011/04/broken-home-so-what-gitu-lho.html


Tuesday, November 1, 2022

Cara Mengatasi Stress Paska Orangtua Bercerai

 

Cara Mengatasi Stress Paska Orangtua Bercerai, Broken Home, Broken Heart, Cerai, Pernikahan, Pendidikan Anak, Woman Talk, Woman Power, Woman Support, Strss, Cara Menghadapi Stress, Putus, Healing, Konseling,

 

Di sini saya hanya akan membicarakan dari sisi anak, baik itu remaja maupun menginjak dewasa.

 

Bisa dipahami bahwa saat orangtua bercerai, sebelum, saat proses dan setelah bercerai, bukan hanya orangtua yang merasa stress, anak-anak pun juga akan merasakannya. Perasaan sedih, marah, kecewa bahkan perasaan bersalah mungkin juga ada. Itu adalah perasaan yang manusiawi. Mungkin untuk beberapa lama, mungkin bisa bulanan bahkan tahunan. Itu bisa dimaklumi. Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana selanjutnya kita me-manage perasaan itu agar menjadi lebih baik.

 

Dari sisi aku sebagai anak

 

Pertama yang harus dipahami adalah bahwa itu wajar saja jika kita merasa sedih, marah dan kecewa saat orangtua kita bercerai. Pada tahap-tahap awal kita bisa merasa sangat stress, bahkan mungkin merasa malu saat akan keluar rumah. Malas melewati pandangan tetangga yang melihat kita dengan tatapan yang aneh, atau malas mendengar nasehat yang mengatakan kepada kita kalau kita harus bersabar.

 

Tapi, tahukah kamu, ini adalah saat yang tepat untuk kita “menikmati” perasaan itu. Kenapa menikmati? Gila apa menikmati kesedihan!!! Tanamkan di benak kita bahwa, ini adalah masa yang sulit, aku stress, aku bersedih, aku marah, aku kecewa. Iya… aku berada di masa itu sekarang. Aku meminta waktu dan aku memberi waktu untuk diriku sendiri untuk menjalaninya dan menghadapinya. Tapi aku tahu itu harus segera berakhir.

 

Menanamkan di hati dan pikiran bahwa ini adalah bagian dari perjalanan hidup kita yang harus kita hadapi. Dan bahwa jutaan orang di luar sana banyak mengalami kejadian yang lebih buruk, tapi bisa bertahan, maka kita juga harus bisa. Menghipnotis diri sendiri untuk menerima, menikmati dan melepaskan semua kekacauan di hati.

 

Melihat permasalahan dari sisi orangtua

 

Sebagai anak, kita mungkin tidak tahu atau tidak diberitahu permasalahan seperti apa yang sebenarnya yang membuat mereka memutuskan untuk bercerai. Mungkin masalah ekonomi, perselingkuhan, KDRT atau masalah seksual. Bisa jadi malah semua kategori tersebut masuk jadi satu.

Atau masalah peran dan tanggungjawab suami istri yang kurang. Bisa juga karena peran mertua (orangtua salah satu pihak yaitu kakek/nenek kita) yang terlalu mendominasi rumah tangga anaknya.

 

Saat orangtua kita bercerai, mereka pastinya sudah memikirkan hal itu masak-masak. Mungkin sebenarnya permasalahan itu sudah lama ada, tapi orangtua masih mencoba untuk bertahan, demi apa? Demi anak-anak (katanya).

 

Tapi sebagai anak, pernahkan kita berfikir, jika orangtua kita memaksakan diri untuk terus bersama, pasti ada salah satu pihak yang akan terus merasa tersakiti. Bagaimana bisa kita meminta “permakluman” orangtua agar demi kita, anaknya, salah satu dari mereka harus tersakiti terus-menerus.

 

Sebagai anak, apa iya kita merasa nyaman saat melihat orangtua sering bertengkar di rumah, saling menyalahkan, saling berkata kasar. Bagaimana perasaan kita jika setiap hari melihat salah satu orang tua kita diperlakukan kasar atau bahkan dipukuli.

Atau bahkan justru orang tua kita saling mendiamkan dan sama sekali tidak mau berkomunikasi. Satu datang, satu pergi. Sama-sama dalam satu ruangan tapi tidak mau saling berbicara atau malah tidak mau saling menatap. Sungguh, itu adalah suasanya yang sangat tidak nyaman.

 

Dengan memahami bahwa orangtua juga punya hak untuk mendapat kebahagiaannya sendiri. Jika mereka bercerai, maka mereka mempunyai kesempatan untuk bisa memperbaiki kehidupan mereka selanjutnya.

 

Saat kita sudah menjadi “lebih dewasa,” kita akan melihat oh iya, mereka punya permasalahan sendiri. Kita tidak perlu menyalahkan ibu atau ayah. Mereka punya andil masing-masing. Ayah ada salahnya, ada benarnya. Ibu juga ada salahnya ada benarnya. Hanya saja mereka sudah tidak sepemikiran lagi. Dan kita sebagai anak harus menghormati keputusan mereka tanpa perlu menghakimi mereka. Suatu saat kita akan tahu kebenarannya.

 Baca juga : Rahasia awet muda

Bagimana selanjutnya sikap kita terhadap mereka? Setelah mereka bercerai, beri waktu untuk mereka (dan diri sendiri) untuk melalui masa-masa transisi tanpa menghakimi siapapun. Jika memungkinkan tetaplah berkomunikasi terhadap keduanya. Kita mungkin akan ikut ayah atau ibu. Jika ikut ibu, sekali-sekali cobalah menghubungi ayah untuk sekedar berbincang. Begitu juga sebaliknya. Jika salahsatu pihak mencoba menjelek-jelekkan pihak yang lain, tidak perlu langsung terpancing emosi. Itu mungkin adalah luapan kekecewaan dan kemarahan terhadap pihak yang lain. Cukup kita dengarkan saja. Tetaplah berusaha di pihak netral, karena mereka berdua punya andil masing-masing.

 

Jika kita tahu salah satu pihak merupakan pihak yang dirugikan, kita bisa memberinya dukungan. Misalnya dengan mengatakan bahwa kita menghormati keputusannya, kita tahu bahwa itu untuk kebaikan bersama, dan mari kita sama-sama menjalani ini dengan lebih baik.

 

Gampang ngomong!!! Coba kalau ngerasain sendiri…!!!!

 

Saya juga berasal dari keluarga broken home. Sejak kecil saja tinggal dengan ibu, bapak bekerja di lain kota. Ketika tahu bapak saya menikah lagi, saat itu saya masih SMP akhir, menjelang ujian kelulusan, saya juga sangat kecewa, sampai-sampai tidak mau belajar lagi. Tetapi untunglah masih bisa diterima di STM favorit.

Saat itu yang saya tahu (karena saya selalu dengan ibu) yang salah pasti bapak. Tetapi setelah dewasa akhirnya saya bisa melihat dengan kacamata yang lebih luas. Oh iya, bapak memang salah. Tetapi masing-masing juga punya andil kesalahan.

 

Sekarang menjelang kehidupan masa senja mereka, saya hanya mengatakan kepada ibu (karena saya tinggal dengan ibu) bahwa saya berdoa agar ibu dan bapak bisa menjalani sisa hidup mereka dengan perasaan yang ikhlas, saling memaafkan, tanpa menyimpan amarah untuk satu sama lain. Perasaan marah dan kecewa itu pasti tidak bisa dilupakan, tapi bisa diendapkan sebagai bagian dari masa lalu. Tidak perlu untuk bisa bersama lagi, yang lebih penting adalah saling mengikhlaskan.

 

***********

 

Kalau hal-hal di atas adalah untuk manajemen hati, bagaimana dengan kehidupan “real” sehari-hari? Apa yang bisa kita lakukan?

 

1. Jangan sekali-kali menjerumuskan diri ke dalam lingkungan yang negatif. Jangan “menjadikan bodoh” diri kita sendiri dengan bertindak yang aneh-aneh dengan alasan menenangkan diri. Misalnya minum-minum, drug atau bahkan freeseks. You will regret it!!!

2. Ubah penampilan? Potongan rambut baru? Warna rambut baru? Style berpakaian yang lebih keren? OK…OK… It’s make a sense. Penampilan baru, suasana baru.

Tapi saran saya, jangan sekali-sekali mencoba untuk membuat tato atau membuat tindik (untuk laki-laki). Saya yakin suatu saat anda akan menyesalinya.

Lakukan perubahan penampilan yang itu hanya temporary.

3. Tetap lakukan kegiatan seperti biasa. Sekolah, kuliah, bekerja. Tetap fokus dengan kegiatan anda.

4. Cobalah ubah rute perjalanan anda. Jika biasanya selalu melewati rute A, cobalah untuk melewati rute yang lain. Menelusuri jalan-jalan baru… Get loss… Mungkin kita akan tersesat di jalan, tapi itu akan memberi pengalaman baru untuk kita. Masak sih..??? Coba saja….

5. Beberes kamar, rumah atau berkebun. Ini adalah cara murah dan mudah untuk mendapatkan atmosfer yang baru.

Ubah tata letak kamar, cat warna baru, poster atau wallpapper baru. Lihat Piterest untuk mendapatkan inspirasi.

6. Hang out. Bisa mengajak teman atau bisa sendiri. Saya sendiri lebih senang kalau ke mana-mana sendiri. Duduk di dalam bus di sebelah kaca, menikmati pemandangan di luar, apalagi saat menjelang senja… hmm… syadu. Menyusuri Malioboro serasa berada di “runaway”, (serasa paling cantik karena yang lain cuma penonton… hi..hi…).

7. Masuk ke cafe sendiri, menikmati musik tanpa harus ada interupsi karena harus mengobrol dengan orang lain (teman). Lupakan diet, pesan kudapan manis dan coklat hangat. Enjoy your time…  

8. Cari kegiatan baru, les muaythai misalnya.  

9. Yang pasti, tetaplah berdoa beribadah. Karena hanya kepada Tuhanlah kita berserah diri. Klise? Iya… Tapi akan sangat mujarab ketika kita menangis di hadapannya dan menyadari itu semua akan kembali kepada-Nya.

 

Tips di atas bukan hanya untuk menghilangkan stress paska orangtua bercerai, bisa juga saat kita habis putus dari pacar??? hmm… atau bisa juga saat kita merasa penat dengan rutinitas sehari-hari.

 

Sekian tulisan ini. Yang pasti, kehidupan ini akan selalu berjalan. Tak perlulah mengikuti pepatah “habis gelap terbitlah terang, karena gelap atau terang akan selalu ada. Hanya saja tergantung kepada kita bagaimana cara kita menghadapinya. 

 

Saya selalu mengatakan kepada anak-anak saja, “Jika kamu takut akan sesuatu, hadapi saja, maka setelah hal itu kamu lewati, ketakutanmu akan hilang.

 

Mari kita menjalani kehidupan dengan lebih baik, membahagiakan diri sendiri akan ber-impack baik untuk kehidupan kita selanjutnya dan juga untuk lingkungan sekitar. 


==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 

Tuesday, June 14, 2022

Pinginan - Mendidik Anak Agar Tidak Mudah Merasa Menginginkan dan Harus Memiliki Apa yang Dilihat

 


Suatu pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, ada seorang nenek sedang momong cucunya, duduk di pinggir kolam di depan rumah. Lihat ikan. Si nenek mengajak ngobrol cucunya yang baru berusia sekitar dua tahunan, menceritakan tentang ikan-ikan yang ada di kolam tersebut. Kemudian si nenek bilang, ”Bagus to kolamnya, ikannya warna-warni…. besok minta bapak buatin kolam ya….”

 

Mendengar itu dari dalam rumah, aku hanya tertegun… Itulah salah satu asal muasal kenapa seorang anak menjadi pinginan, selalu ingin memiliki sesuatu yang dilihatnya. Dari mana asalnya… dari neneknya… dari ibunya…. dari orang dewasa di sekitarnya yang memprovokasi dia.

 

Saya beberapa kali mendengar kata-kata provokatif dari orang dewasa terhadap anak-anak. Misalnya suatu saat saya pernah mendengar tetangga satu blok bicara dengan seorang anak tetangga sebelah rumahnya, “Mesin cuci budhe baru, bukaannya di depan, harganya lima jutaan. Besok suruh ibumu beli ya…” Whatttt…????

 

“Eh… ini lho tadi anakmu pengen pijam mainannya anak sebelah, sana kamu ke sana, pinjamin…” “Lho… nggak usah to Bu, itu lho anaknya sudah lupa, sudah asik mainan pake miliknya sendiri…”

 

“Kamu mau po tas kayak punya mbak itu, besok ibuk beliin ya…” padahal anaknya cuek saja, ibunya kali yang pengen…

 Baca juga : Rahasia awet muda

***

  

Pinginan, gampang kepingin, perasaan ingin memiliki sesuatu/barang yang lihat/yang dimiliki orang lain.

 

***

Saat masih anak-anak dia mungkin hanya terprovokasi, saat mulai sekolah mungkin dia sudah tercetak menjadi anak yang pinginan. Temannya punya apa, dia pengen. Minta orangtuanya beliin ini itu yang sama dengan temannya. Saat sudah dewasa, menikah, akan lebih parah lagi.

 

Di masa ini, bukan hanya sekedar pinginan, tetapi kadangkala sudah berubah menjadi perasaan iri. Tetangganya beli kulkas baru, iri, beli motor baru, pengen, beli mesin cuci, nggak mau kalah…walapun terpaksa harus kredit. Paling nanti suaminya yang pusing mikirin tagihan.

 

Mulai dari pinginan, iri, kemudian akan melebar lagi jadi suka pamer. Biasanya orang yang mudah merasa iri, dia akan menutupi keiriannya itu dengan memamerkan sesuatu yang dia punya tapi orang lain nggak punya. Nggak mau kalah.

 

Selain provokasi pada masa kecil, sifat pinginan ini jga bisa muncul akibat pengaruh pergaulan dan lingkungan. Ada seseorang yang saya kenal, sebelumnya dia adalah orang yang sederhana. Setelah menikah, tinggal di rumah asal suami, beberapa tahun kemudian tampak perubahannya.

Saat dia mudik, melihat saudaranya habis beli ini, beli itu, dia curhat, aku nggak beli apa-apa… Dan aku tahu bahwa dia beberapa kali cerita, anaknya pengen sesuatu yang sama dengan temannya, pengen mainan yang dia lihat di rumah tetangga, ribut selama dalam perjalanan agar dibelikan.

Dirinya sendiri, di beberapa kesempatan dia juga berusaha menampakkan sesuatu yang seolah-olah dia ingin menyampaikan, ini lho aku habis beli ini, aku nyumbang ini, aku punya ini, yang menurut aku sebenarnya itu hal yang biasa saja, nggak perlu dipamerkan.

 

Setelah saya lihat ke belakang, ternyata lingkungan tempat tinggal dia sekarang, memang masyarakatnya banyak yang hidupnya saling berlomba berusaha lebih dari yang lain.

Dari situ mungkin juga kebutuhan perasaannya yang ingin dianggap keberadaannya sehingga perlu menampilkan sesuatu sebagai eksistensi diri.  

 

***


 

Jadi…. bagaimana sebaiknya kita mendidik anak-anak kita agar menjadi pribadi yang tidak pinginan.

 

Dari kecil saya membiasakan anak main hanya memakai mainannya sendiri saja, tapi kalau temannya mau pinjam, boleh. Yang penting sebisa mungkin tidak pinjam mainan anak lain.

 

Sudah agar besar, saya selalu mengingatkan agar mensyukuri atas apa yang sudah dimiliki. Tidak perlu kepingin kalau melihat barang orang lain. Masing-masing punya barang pribadinya sendiri. Kalau bukan seragam sekolah atau barang yang diharuskan punya (untuk sekolah misalnya), berarti memang tidak harus sama.

Merasa beruntung karena punya sesuatu mungkin orang lain tidak punya. Dan merasa cukup atas apa yang sudah kita punya.

 

Saya selalu menyarankan untuk memilih barang yang lain dengan temannya. Punya ciri khas sendiri. Memang terkadang susah saat anak menjelang remaja dan ingin yang sama dengan temannya. Itu boleh saja selama itu bukan karena iri dengan temannya, tetapi lebih ke kekompakan bersama bestie… itu masih boleh, dengan catatan yang sewajarnya.

 

Dan sebagai orang dewasa, di lingkungan yang pasti ada sekelompok tetangga yang senang “berlomba,” saya lebih senang menikmati kehidupan saya sendiri tanpa perlu tahu urusan tetangga beli apa, atau punya apa.

 

Menikmati apa yang telah kita punya, merupakan bentuk syukur yang paling sederhana…


Jadi… nikmati saja hidup kita yang sekarang ini…

 

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik