Total Pageviews

Monday, May 12, 2014

Yua Tidak Sekolah (Waspadai Tindak Kekerasan Di Sekolah Anak)

(Waspadai Tindak Kekerasan Di Sekolah Anak) 

Mulai hari ini, Kamis, 8 Mei, Yua tidak sekolah. Sebelumnya yua masih terdaftar sebagai siswa salah satu sekolah PAUD yang ada di lingkungan sekitar Imogiri. Tiga hari sebelumnya Yua tidak masuk sekolah. Jumat, Senin dan Selasa. Selasa siang, suamiku ditelpon pihak sekolah. Katanya Yua dikeluarkan dari sekolah karena tiga hari tidak masuk sekolah tanpa ijin.

Latar Belakang
Kata suamiku, setiap orang tua pasti akan mengatakan bahwa anaknya adalah baik. OK. Mari kita lihat secara global.
Yua adalah anak yang supel, gampang berbaur dengan lingkungan yang baru, baik itu dengan orang dewasa maupun sesama anak.Saat mendaftar masuk sekolah, Yua baru berumur 3th 3bln. Di hari pertama dia masuk sekolah, dia sangat antusias. Di saat anak lain masih ditunggui orang tuanya, Yua sudah mau ditinggal(selama tiga hari pertama masuk sekolah anak boleh ditunggui orang tuanya), bahkan sebelum bel tanda masuk di hari pertama sekolahnyaberbunyi Yua sudah bilang, “Mamah pulang saja, Yua sekolah di sini”.
Yua juga termasuk anak yang mandiri. Saat anak-anak lain diantar sampai masuk sekolah, Yua diantar hanya sampai gerbang sekolah. Di minggu pertama masuk sekolah Yua langsung terkenal karena dia anak yang aktif, mandiri dan berani. Berbeda dengan teman2nya yang masih susah berpisah dengan oranngtuanya. Yua juga mendapat banyak pujian, baik dari guru, orang tua murid yang lain, dan bahkan dari petugas sekolah juga karena kemandiriannya itu. Hanya kadang-kadang saja saat dia sedang rewel, dia minta diantar sampai masuk sekolah.
Dua minggu berikutnya dia bilang, aku nggak mau sekolah mah… kenapa? Teman-teman semuanya nangis. (Awal-awal masuk sekolah memang masih banyak anak yang menangis, bahkan ada yang histeris karena harus ditinggal orangtuanya, tidak boleh ditunggui). Meskipun dia bilang begitu, dia tetap mau masuk sekolah seperti biasa. Yang aku amati adalah, kalau dia saat pulang sekolah dia ceria, berarti dia baik-baik saja. Lama-lama dia sudah terbiasa melihat teman2nya menangis saat mau masuk sekolah, dia tetap melenggang seperti biasa.
Suatu hari dia bilang nggak mau sekolah. Aku tanya kenapa # Bu Gurunya marah-marah # bu guru namanya siapa # Mr. X. Rupanya yang dia maksud itu adalah pak guru X, bukan bu guru (di situ memang ada satu pengajar laki-laki). Selama satu minggu setiap pagi Yua selalu menangis setiap berangkat sekolah, bahkan setelah sampai sekolah. Dia selalu bilang nggak mau sekolah, tapi tetap saja aku antar sampai dalam. Aku bilang Nggak pa2, pak X nggak marah-marah kok. Akhirnya minggu berikutnya dia mau berangkat seperti biasa, walaupun sampai kemarin Yua terkadang masih ngomong, nggak boleh Mah, nanti dimarahin Pak X.
Suatu sore Yua menangis saat dimandikan, katanya, kakinya jangan dibasahin Mah, sakit # kenapa # tadi dicubit si Kuncung (bukan nama sebenarnya) di sekolah. Setelah aku cek memang ada luka yang lumayan besar untuk sebuat cubitan, pantas saja dia bilang sakit. Aku ingat-ingat lagi tadi waktu menjemput Yua. Saat itu ada ibu-ibu yang mengandeng anaknya yang nangis, dia bilang, pantesan takut sekolah, lha wong dinakali temannya… setelah ibu itu pergi, seorang ibu disebelahku mendapat laporan bahwa anaknya tadi jarinya digigit oleh si Kuncung. Sesampainya di rumah aku mendapati kakinya Yua yang terluka. Berarti dalam satu hari si Kuncung ini sudah menyakiti paling tidak 3 anak.
Besoknya aku banyak mendapat informasi bahwasi Kuncung ini memang sudah terkenal suka menakali temannya, banyak yang sudah menjadi korban. Banyak juga yang jadi takut ke sekolah. Banyak ibu-ibu yang geram dengan perilaku si Kuncung ini karena anaknya sering jadi korban, bukan cuma sekali dua kali, tapi sering. Sudah ada yang melapor juga ke Guru, tapi tidak ada tindak lajut yang nyata.
 
Baca juga : Rahasia awet muda
 
Dulu ada yang pernah bercerita, anak ini termasuk golongan berkebutuhan khusus, omongannya segala macam isi kebun binatang dengan mudah meluncur dari mulutnya, perilakunya juga nakal melebihi anak yang lain. Tapi waktu itu aku masih sambil lalu mendengarnya.
Setelah kejadian itu aku semakin intens mencari informasi tentang si Kuncung ini. Bahwa si Kuncung ini ibunya adalah seorang pedagang warung makan yang cukup terkenal di daerahku. Dia dititipkan pagi2 sekali dan baru dijemput larut malam. Menurut informasi bapaknya pernah mengidap sakit jiwa. Di rumahnya sudah terbiasa mendengar dan mengucapkan seisi kebun binatang. Dari orang tuanya sampai teman-teman orang tuanya yang datang ke rumahnya juga sama saja, ditambah lagi lingkungan yang kurang mendukung. Kesibukan orang tua dan kurangnya pendidikan moral dari orangtuanyalah yang semakin membuat si Kuncung ini semakin tidak terkendali.
Aku sebenarnya justru kasihan sama si Kuncung ini. Hitam putihnya untuk anak adalah tergantung dari orangtuanya. Anak sekecil ini sudah mendapat pola yang salah. Sebenarnya dia sendiri adalah juga korban, korban dari kelalaian orang tuanya. Dan sayangnya si korban ini juga menjadikan anak-anak lainnya menjadi korbannya.
Dari waktu ke waktu Yua semakin sering bilang nggak mau sekolah, nanti dinakali si Kuncung. Memang aku terkadang masih melihat bekas luka cubitan. Entah itu di dekat mata, di tangan atau di kaki. Tapi setelah dibujuk, akhirnya Yua mau aku antar sekolah. Aku tidak melapor ke sekolah, karena gurunya seharusnya sudah tahu karena kejadiannya di sekolah, juga karena ada beberapa Ibu yang sudah pernah melapor.
Beberapa minggu yang lalu Ayahnya bilang, Ya sudah, nggak usah sekolah dulu saja nggak papa, berhenti dulu sekolahnya, kasihan juga kalau dipaksa masuk, nanti malah trauma sekolah. Biar besok langsung ke TK saja.Lagipula kalau diperhatikan, mutu pendidiknya tidak sebaik dulu, kata ayahnya. (Yua memang sudah didaftarkan ke TK sejak Januari kemarin untuk tahun ajaran baru besok, dan dia mau sekolah di TK tersebut dan tidak mau ke PAUD lagi).
Ya memang benar kalau dipaksa nanti bisa trauma, tapi selama dia masih mau sekolah ya akan aku antarkan. Yua itu punya potensi, punya kesempatan. Sayang sekali dengan potensi dia, yang hanya karena anak lain jadi mogok sekolah, kataku. Tidak banyak lho anak seperti Yua. Sejak umur 2,5 th sdh familier mengoperasikan computer, sdh hafal doa2, sudah banyak pengetahuan umumnya yang teman seusia dia banyak yg belum tahu. Apalagi sekarang.
Hari Jumat kemarin (2 Mei) Yua tidak mau sekolah, alasannya sama, nanti dinakali Kuncung. Ya sudah jadilah dia tidak masuk sekolah hari Jumat, Senin, Selasa.
Selasa sore Yua dinyatakan dikeluarkan dari sekolah dengan alasan tidak masuk sekolah selama 3 hari berturut-turut tanpa ijin. BY PHONE.



Apa Masalahnya?
Bagi kami, selaku orang tua Yua, tidak masalah Yua berhenti sekolah. Yang kami sayangkan adalah kenapa pihak sekolah langsung membuat keputusan sepihak tanpa mencari tahu dulu pokok permasalahannya.
Sebagai lembaga pendidikan, terutama untuk anak usia dini, semestinyalah selain memperhatikan segi kognitif anak, juga memperhatikan sisi spikologis anak. Anak ini kenapa dan apa apa? Anak usia dini, tidak bisa disamakan dengan sekolah militer, yang jika salah langsung dihukum. Di masa kakaknya (kakak Yua dulu juga sekolah di tempat itu juga), dan mantan bu gurunya di situ pun juga bercerita, kalau dulu ada anak begini-begitu pasti dilaporkan ke orang tua, kalau anak tidak masuk sekolah beberapa hari ada program home visit, guru mendatangi rumah murid menanyakan kabar anak tersebut. Memang sekolah ini tidak seperti dulu. Mungkin karena kebanyakan murid dan kurangnya tenaga pengajar jadi kurang maksimal.
Di sekolah yang tingkatannya lebih tinggi, bahkan di dunia kerja, jika seorang anak melanggar peraturan, masih ada SP 1, SP 2, SP 3. Itupun pasti ditanyai apa alasannya melanggar peraturan.
Di kasus Yua ini, tidak ada peringatan, langsung diambil keputusan. Sekali lagi, By phone.
Hari Rabu aku tetap mengantar Yua masuk sekolah, suamiku ikut mengantar karena akan meminta penjelasan mengenai hal tersebut. Saat itu suamiku bertemu dengan staf TU-nya, dan juga salah satu pengajarnya. Dan memang Yua dikeluarkan dari pihak sekolah dengan alasan tersebut. Itu sudah peraturan sekolah dan jika akan masuk lagi, harus membayar 150rb sebagai daftar ulang (yang ternyata banyak juga dari orangtua murid yang lain yang tidak tahu mengenai hal itu). Suamiku mengatakan bahwa; OK, tidak apa2 anak saya dikeluarkan dari sekolah, kami ikuti aturannya, tapi kenapa pihak sekolah tidak menanyakan apa alasannya Yua tidak masuk sekolah dan langsung memberi keputusan.
Akhirnya aku ikut masuk dengan seorang ibu yang lain yang anaknya juga jadi korban. Anak saya tidak mau sekolah karena takut dengan Mr. X (kejadiannya sudah lama dan saya tidak tahu kenapa, tapi Yua masih sering menyinggungnya), dan yang lebih parah dan lebih sering alasannya takut dibully sama si Kuncung ini, dan korban si Kuncung ini bukan cuma Yua, banyak anak yang lainnya. Bu Guru itu bilang, ya bikin daftar saja siapa nama anak yang dinakali. Lho… lha wong kejadiannya saja di sekolah, masak orang tua yang harus bikin laporan, bukankah seharusnya pihak sekolah yang lebih tahu kejadian di dalam lingkungan sekolah, justru pihak sekolahlah yang seharusnya memberi laporan ke orang tua murid, dan memberi sangsi ke si biang keroknya. Bukan malah sebaliknya, si korban yang dikorbankan. Aku bilang, anak saya dua-duanya perempuan, kami memang mengajari, kalau ada anak lain yang nakalin kamu dan itu sudah keterlaluan, kalau dia mukul, balas pukul, kalau dia nampar, balas nampar. Itu bukan mengajari balas dendam. Tapi mengajari anak untuk membela dirinya. Tapi apa jawaban Yua, kata bu Guru nggak boleh nakal-nakalan. Lha kalau begitu kamu terus yang akan jadi korban si kuncung itu yang nyatanya sampai sekarang juga masih sering membully anak lain dan pihak sekolah tahu betul itu…
Jam 8.30, gerbang sekolah dibuka kembali untuk memberi kesempatan anak yang terlambat sekolah masuk, sedangkan Yua dikeluarkan dari gerbang (disodorkan begitu saja tanpa ada ucapan apa-apa, setelah sempat ikut senam pagi).
Setelah ada kabar Yua diberhentikan sekolahnya karena tidak masuk sekolah tiga hari tanpa mau tahu alasannya, hebohlah ibu-ibu yang mengantarkan anaknya. Semakin banyak ibu-ibu yang menceritakan anaknya juga menjadi korban si Kuncung. Si Kuncung yang bikin masalah, kenapa anak lain yang dikorbankan, begitu kata sebagian ibu-ibu. Saat itu bahkan ada ibu yang menunggu anaknya di luar gerbang karena anaknya kemarin juga nggak mau sekolah karena dibuli si kuncung, bekasnya masih ada di perut. Kalau hari ini si anak nangis nggak mau sekolah dan tidak ada jaminan keamanan dari pihak sekolah dia akan mengeluarkan anaknya.
Lha wong anak di rumah disayang-sayang, dieman-eman, masak masuk sekolah serasa dimasukkan ke kandang macan, orangtua khawatir anaknya dibuli, anaknya takut disakiti. Hanya gara-gara satu anak itu.
Ada juga ibu-ibu yang cerita, bahwa anaknya juga sudah tiga hari nggak masuk sekolah, sama seperti Yua, dan baru masuk hari ini juga. Di hari Selasa siang dia ditelpon pihak sekolah tapi tidak diangkat. Sorenya dia baru SMS ke sekolah, ijin untuk anaknya. Aku bilang, kalau Selasa siang berarti berurutan dengan telp ke ayahnya Yua. Kalau ayahnya diangkat langsung ada pemberitahuan itu, kalau anda tertunda pemberitahuannya, dan keduluan SMS ijin sore harinya, jadi hari ini anak anda masih bisa masuk sekolah, sedangkan Yua tidak. 
Ada ibu lain yang bercerita anaknya pernah 10 hari tidak masuk sekolah, dan waktu masuk lagi disuruh bayar pendaftaran 150rb. Tapi dia tidak mau bayar dan anaknya masih tetap sekolah sampai sekarang.
Jam 11 siang ayah Yua kembali ke sekolah menghadap kepala sekolah (setelah bikin janji dulu). Dia menyampaikan bahwa memang sebagai orangtua kami lalai meminta ijin sekolah untuk Yua, dan dia hanya ingin menyampaikan pokok permasalahannya saja, alasan kenapa Yua tidak mau sekolah. Dan keputusannya juga ngambang, pihak sekolah masih mau berhubungan dengan orang tua Yua dan Yua.
The Point is :
Dengan maraknya kasus kekerasan di sekolah akhir-akhir ini, memang wajar jika para orang tua merasa khawatir tentang keamanan anaknya di sekolah. Apalagi di sekolah Yua ini memang sudah terjadi kekerasan yang mungkin dari pihak sekolah dianggap sepele tapi ternyata berbekas di spikis anak.
Bahwa adalah tanggung jawab orang tua untuk mendidik anaknya, bukan hanya pemenuhan materi, tapi juga kasih sayang, perhatian dan pendidikan terutama moral untuk anak-anaknya. Bahwa akan menjadi apa anaknya kelak itu adalah tanggung jawab orang tua. Jangan dijadikan alasan bekerja mencari nafkah sehingga melalaikan pendidikan moral dan spiritual anaknya.
Mendengarkan anak. Kita sebagai orang tua kadang tidak menghiraukan apa yang dikatakan anak, bisa jadi itu adalah sebuah klu yang sangat penting.
Bahwa pihak sekolah selaku pendidik, aturan memang untuk mengatur, sekolah untuk mendidik, jangan dijadikan sekolah semata-mata untuk mencari untung dengan menerima siswa sebanyak-banyaknya sehingga pendidiknya sendiri kewalahan dalam menangani anak didiknya. Sekolah bukan hanya untuk pintar membaca dan menulis, tapi juga untuk pembelajaran moral dan spiritual.
Komunikasi dua arah, bukan pengetok palu.

==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik




Monday, September 16, 2013

I Know You… No You Not


Suatu hari suamiku pulang dengan muka agak masam. Dia bilang dia baru saja bertemu dengan seseorang, teman dari seorang teman. Orang itu bilang “aku tuh tahu kamu… dan bla… bla… bla…  orang yang sok tahu tentang “something bad of him”. Mungkin yang dia katakan itu ada benarnya. Tapi hanya dari satu sisi, satu sumber.  Dan sumber itu juga belum tentu lebih baik dari dia.

Banyak dari kita yang merasa tahu banyak tentang sesuatu. Tahu tentang seseorang “for our whole life”. Orang tua yang merasa tahu semua tentang anaknya, dari a sampai z, dari ujung rambut sampai ujung kaki. Seorang suami yang mengenal istrinya, seorang istri yang tahu suaminya, seseorang yang tahu tentang orang lain. Semua merasa tahu, merasa mengenal.

Sejak kecil Ran, anakku, kami biasakan berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia, itu kami lakukan karena kami tinggal di perumahan, dimana banyak pendatang yang menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Saat dia mulai sekolah, kami pindah ke rumah orang tuaku karena sekolahnya dekat rumah, sehingga dia bisa aku titipkan neneknya sepulang sekolah saat aku bekerja. Di rumah, neneknya tetap menggunakan bahasa Indonesia jika berbicara dengan Ran, walaupun sehari-hari menggunakan bahasa Jawa. Di lingkungan luar rumah, dengan tetangga dan saudara-saudaranya, dia juga menggunakan bahasa Indonesia, walaupun jika sedang bersamaku, dia diajak ngobrol dengan orang lain, aku selalu mengajarinya menjawab dengan bahasa Jawa halus. Suatu hari, saat masih di Taman Kanak-kanak, teman-temannya datang ke rumah, mereka bermain di ruang depan, sementara aku duduk di ruang sebelah. Tiba-tiba aku mendengar Ran ngobrol dengan teman-temannya dengan menggunakan bahasa Jawa “medhok”. Bahasa yang dia pakai fasih dengan logat yang sangat “ndeso” khas anak-anak kampung yang (maaf) agak kurang mendapat pendidikan sopan santun dari orangtuanya. Walaupun neneknya di rumah juga menggunakan bahasa Jawa, tapi bahasa yang Ran pakai terdengar sangat berbeda. Aku kaget mendengarnya…. Kapan dia belajar bahasa Jawa itu, padahal di rumah dia selalu menggunakan bahasa Indonesia… Yah… mungkin saja di sekolah. Walaupun di sekolah TK, bahasa pengantarnya diselingi Bahasa Jawa, tapi tentu saja bahasa Jawa halus, tapi mungkin tidak demikian dengan teman-temannya yang lain. Aku merasa “tahu” Ran, karena setiap hari aku bersamanya, tapi ternyata tidak. Aku dibuatnya terkejut karena ketidaktahuanku.

Suatu saat suamiku mendapat telepon dari seseorang, sesudah selesai dia tampak marah-marah, aku tanya kenapa? Dia bilang habis ditelepon A, disuruh jangan mengotak-atik barang miliknya, nanti takutnya malah rusak. Aku tanya lagi, memangnya barangnya rusak sehingga harus kamu perbaiki / tidak, tidak rusak, dan aku juga nggak ngapa-ngapain / terus kenapa dia harus berfikir kalau kamu akan mengotak-atiknya / tidak tahu, dia mungkin memang sudah mencap aku sebagai seorang yang suka merusak, padahal kamu tahu sendiri, barangnya masih utuh kan…  

Baca juga : Rahasia awet muda

Seorang istri yang merasa dia mempunyai seorang suami yang sempurna, yang ternyata ada kenyataan lain yang disembunyikan suaminya. Orang tua yang selalu membangga-banggakan anaknya sebagai seorang anak yang “baik”, tapi dia tidak tahu bahwa ternyata di luar sang anak jauh bertolak belakang. Seseorang yang dipandang sebelah mata di kampung, tapi tenyata punya nama besar di luar. Seorang yang kita kenal dahulu buruk, ternyata sekarang menjadi baik, atau yang kita kenal baik, ternyata tidak.


Seseorang yang mungkin kita kenal, mungkin saja tidak seperti yang kita lihat. Orang yang mungkin dulu kita kenal, mungkin sekarang sudah tidak sama lagi. Orang-orang yang ada di sekitar kita, termasuk diri kita sendiri, selalu sedang menjalani sebuah proses. Dari bayi, anak, remaja, dewasa dan tua. Bersekolah, bersosialisasi, bekerja, merantau, menikah, punya anak, punya menantu, punya cucu. Saat sakit, saat sehat, saat kaya, saat miskin, itu semua sebuah proses.

Seperti sekelompok orang buta yang menggambarkan seekor gajah. Ada yang mengatakan bahwa gajah itu kecil dan panjang, karena yang dia raba adalah ekornya. Ada yang bilang bahwa gajah itu tipis dan lebar seperti kipas, karena yang dia pegang adalah telinganya, ada yang bilang gajah itu seperti batang pohon, karena yang dia pegang adalah kakinya. Dia akan tahu gajah itu seperti apa setelah dia mempelajari seluruh bagian dari gajah, dan juga mendengarkan dari banyak orang yang tahu tentang gajah, bukan cuma dari satu sumber, dan bukan cuma dari satu sisi.

So… jangan hanya melihat sebuah buku dari sampulnya, bacalah isi di dalamnya. Jangan hanya melihat seseorang karena masa lampaunya, karena mungkin sekarang dia sudah berubah. Jangan hanya melihat seseorang dengan pandangan sinis kita, karena mungkin orang itu jauh lebih baik dari kita, sedangkan kita tidak tahu. Sebaiknyalah kita tahu, bahwa lingkungan dan waktu, sedikit atau banyak akan membawa seseorang melewati proses-proses yang kita tak akan selalu bisa menduganya.  Fisik, mental, spiritual kita akan selalu berubah. 
 
==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 


Wednesday, July 10, 2013

CARA MURAH MENGHIAS RUMAH SAAT LEBARAN



CARA MURAH MENGHIAS RUMAH SAAT LEBARAN, lebaran, Idul Fitri, kue lebaran, dekor, dekorasi untuk lebaran, lebaran penuh makna, lebaran di kampung, suasana lebaran

 
Bulan Ramadahan sudah di depan mata. Anak-anak, bapak ibu, tua muda muslim, semua bersemangat menyambut puasa. Sebulan puasa kemudian lebaran... “what a perfect time”.  

Dalam rangka menyambut puasa dan lebaran, terutama kaum ibu, biasanya sudah disibukkan dengan sederet jadwal mulai dari menyiapkan menu buka puasa sampai baju lebaran.  Ada beberapa hal yang mungkin bisa saya bagi dalam rangka menyiapkan puasa dan lebaran kita kali ini.

Menu Sahur dan buka puasa
Sudah umum jika saat puasa anggaran makan keluarga membengkak. Ibu-ibu biasanya menyiapkan menu lebih istimewa dibandingkan hari biasa. Biasanya hal itu untuk lebih membuat bersemangat saat sahur, yang notabene males banget waktunya tidur nyenyak kok di suruh makan, jadilah ibu-ibu menyiapkan masakan penggugah selera. Untuk sahur biasanya bahan masakan sudah saya persiapkan siang harinya, jadi menyiapkan bahan untuk buka puasa sekalian untuk sahur, bahan sayuran sudah diracik (sudah dicuci dan dipotong-potong), kemudian disimpan, saat sahur kita tinggal memasaknya. Menu sahur biasanya dibuat masakan yang simple, yang bisa cepat disajikan. 
Pada saat menjelang buka, biasanya banyak penjual jajanan di pinggir jalan yang membuat semua ingin dicicipi. Akan lebih bijak jika kita memilih dua atau tiga item saja, toh pada saat berbuka biasanya perut nggak akan cukup untuk makan semua yang kita inginkan tadi siang.

Baju Lebaran.
Lebaran memang tidak harus mengenakan baju baru. Bagi orang tua, mungkin tidak masalah jika tidak mengenakan baju baru untuk dirinya sendiri, tapi bagi yang sudah mempunyai anak mungkin akan memikirkan untuk anaknya. Ada yang untuk gengsi orang tuanya, ada pula yang karena anaknya yang meminta, atau sekedar mengikuti kebiasaan umum. Sebetulnya anakku tidak meminta dibelikan baju baru untuk lebaran, kebetulan dia juga bukan anak yang suka minta sesuatu karena ikut-ikutan temannya.  Aku membelikan baju baru karena agar pada saat teman-temannya “bercerita” dia juga punya cerita. 
Untuk anak pilih baju yang lebih simple dengan bahan yang nyaman. Kadang demi gengsi orangtua, orangtuanya membelikan baju anak yang “wah” tapi ternyata si anak tidak nyaman karena gerah. Hal ini karena anak biasanya aktif bergerak dan bermain.
Biasanya  aku membeli baju baru jauh sebelum lebaran tiba. Lebih seringnya justru sebelum bulan puasa, atau paling mentok pada awal puasa. Dari sebelum menikah aku selalu begitu. Hal itu aku lakukan karena aku tidak suka terjebak keramaian. Kalau kita beli baju baru pada saat mendekati lebaran, toko-toko biasanya sudah penuh sesak oleh orang-orang yang juga mencari baju baru. Suasana jadi tidak nyaman karena terlalu ramai dan kita sendiri juga serasa diburu waktu. Belum lagi dana yang dipersiapkan bersamaan dengan dana lebaran yang lain. 
Hal lain yang perlu diingat adalah mode dan anggaran, lebih baik memilih baju yang sesuai dan nyaman untuk kita kenakan daripada mengikuti mode yang belum tentu pantas kita pakai. Lebih baik memilih baju dengan harga yang “wajar”, yang bisa kita pakai di berbagai kesempatan. Biasanya baju dengan harga “wah” desainnya juga lebih rumit yang mungkin hanya akan kita pakai tak lebih dari lima kali karena susah dipakai untuk acara lain.   

Ini bagus... tapi tidak cocok untuk ke acara lebaran

Kue Lebaran.
Menjelang puasa dan lebaran, kue kemasan kaleng dan mika memang sangat banyak disediakan di toko-toko dengan desain dan warna yang sangat menarik. Orang banyak membeli kue kaleng juga biasanya karena alasan kepraktisan.
Saat ini ada banyak dijual jenis kue curah yang rasa dan penampilannya tak kalah dengan kue kemasan/toples mika.  Selain mendapat makanan dari THR, aku lebih memilih membeli kue curah/kiloan dari pada kue kemasan kaleng/toples mika. Beli beberapa macam kue curah, simpan dalam toples kaca. Lebih baik membeli toples kaca dari pada toples plastik. Toples kaca akan tahan lebih lama dari pada toples plastik yang mungkin lebih mudah tergores atau warnanya yang memudar. Toples kaca juga membuat penampilan kue lebih menarik dan lebih elegan. Aku pernah meyampaikan kepada suamiku, jika suatu saat kamu punya karyawan, jika akan memberi THR berupa kue, lebih baik membeli kue curah kemudian simpan dalam toples kaca yang cantik. Kue kemasan kaleng atau toples mika, setelah isinya habis, kemasannya biasanya hanya akan dibuang, jika dimasukkan ke toples kaca, setelah isinya habis masih bisa diisi ulang dan masih bisa digunakan untuk lebaran berikutnya. Untuk tampil beda bisa ditambahkan pita cantik yang bisa diganti motif dan warnanya untuk tahun depan. Lagipula dengan menggunakan toples sendiri akan mengurangi sampah dari toples plastik atau kaleng sekali pakai. Mungkin akan sedikit lebih repot, tapi hasilnya akan lebih memuaskan. Lebih mantap lagi jika kita bisa mengisi toples dengan kue buatan sendiri. 

Toples kaca masih bisa digunakan untuk lebaran tahun depan, toples mika hanya sekali pakai saja.


Bersih-bersih rumah.
Setiap hari kita sudah bersih-bersih rumah. Tapi saat lebaran tiba, kita tentunya menginginkan rumah yang lebih bersih dan lebih indah dibandingkan hari-hari biasa. Ada baiknya bersih-bersih rumah jauh-jauh hari  sebelum lebaran.  Sebelum puasa mungkin bisa mencicil membersihkan pagar/tembok rumah dari lumut atau kotoran, kalau ada dana lebih bisa dicat ulang. Awal puasa membersihkan kaca dan mencuci gorden. Hari berikutnya membersihkan rak atau lemari dari debu, berikutnya mengganti sarung batal kursi. Begitu seterusnya. Kita tidak perlu mengerjakan hal itu setiap hari, tapi diselang seling beberapa hari, sehingga kita tidak merasa berat mengerjakannya. Dengan begitu menjelang lebaran kita tinggal mendisplai meja saja. 

Merubah tata letak furniture ruangan
Ada cara yang mudah jika kita ingin membuat perubahan suasana tanpa memerlukan banyak biaya, yaitu dengan merubah tata letak furniture pada ruangan (khususnya ruang tamu saat lebaran). Di rumah, saat ruangan sudah dibersihkan, tapi tetap terlihat berantakan dan membosankan, biasanya aku mengajak suamiku untuk mengatur tata letak ruangan. Tidak perlu barang baru, hanya menggeser letak meja kursi, merubah posisi, mengeluarkan barang-barang yang tidak diperlukan lagi.
Seiring berjalannya waktu, kadang kita tanpa sadar menimbun barang-barang yang mungkin tidak begitu perlu di rumah, tahu-tahu ruangan yang tadinya lega, berubah menjadi penuh sesak. Saat itulah kita perlu menyortir barang, mungkin mainan anak, buang mainan yang sudah rusak (ijin dulu sama anak, beri pengertian bahwa dia tidak memerlukan mainan itu dan masih banyak mainan yang lainnya yang masih layak), perkakas yang dipakai tapi tidak dikembalikan ke tempatnya semula, kipas angin, pajangan, printer, barang yang sebenarnya tidak diperlukan di ruangan itu, bahkan mungkin kertas-kertas promo dari supermarket atau nota yang terselip di sana sini.  
Singkirkan barang-barang yang tidak terpakai, tata ulang furniture. Perhatikan proporsi dan komposisinya, pastikan letak barang tidak mengganggu sirkulasi orang yang mungkin lalu lalang di ruangan itu. Kita akan melihat perubahan yang dramatis tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya. Tidak perlu menunggu lebaran, lakukan jika ruangan sudah terasa penuh dan membosankan.

Baca juga : Rahasia awet muda

Finishing touch
Ada hal lain yang bisa membuat rumah kita terlihat lebih istimewa dibanding hari biasa. Rangkaian bunga atau tanaman. Kita tidak perlu membeli bunga yang harganya mahal. Cukup lihat tanaman yang ada disekitar rumah kita, pilih tanaman yang bagus, potong beberapa batangnya, cuci bersih, susun di dalam vas yang sudah berisi air. Rangkaian sederhana ini bisa mempercantik sudut meja atau sudut ruangan jika berukuran agak besar.  Jika tidak punya vas, kita juga tidak perlu membelinya. Pilih botol bekas atau gelas yang cantik sudah cukup. Mungkin tanaman atau bunga plastik lebih mudah dan lebih awet, tapi tanaman asli akan membuat suasana terlihat lebih natural.  

Toples bekas diisi air, ikan dan tanaman dari halaman sudah cukup untuk mempercantik sudut ruangan.

Semua hal di atas tidak hanya berlaku bagi kaum muslim saja lho... hal ini juga berlaku bagi penganut agama lain yang akan merayakan hari besar agamanya, bisa juga diterapkan saat rumah kita akan dipakai acara tertentu. 

Anyway... tidak ada yang lebih penting dari baju baru dan sajian menawan selain dari bagaimana kita menjalani puasa itu sendiri. 

Selamat menjalankan ibadah puasa dan berlebaran bagi yang menjalaninya....
  
 
 
==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 


Friday, June 1, 2012

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Belajar Membaca?

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Belajar Membaca, Anaknya Sudah Bisa Membaca Bu?, Parenting, belajar,belajar membaca, Pendidikan Anak Usia Dini, PAUD,

 
Anaknya Sudah Bisa Membaca Bu?
Pertanyaan itu seringkali muncul terutama di masa-masa tahun ajaran baru untuk anak-anak yang memasuki usia SD.  

Dulu waktu masih kecil, aku biasa membacakan buku untuk Ranka, biasanya menjelang tidur dia minta dibacakan buku. Buku Favorit yang sering aku bacakan adalah buku bilingual “Don’t Be Affraid My Little Ones, Jangan Takut Anakku,” karya M. Christna Butler & Caroline Pedler. Selain itu aku juga memberi gambar-gambar untuknya. Setelah adiknya lahir, intensitas membaca buku jadi berkurang. Sebagai gantinya, aku juga sering memutarkan video tentang A B C D dan sejenisnya. Walaupun di rumah ada banyak buku dan sering diputarkan video edukasi, tapi secara khusus aku tidak pernah mengajarinya membaca secara langsung.  

Dari buku-buku, majalah ataupun internet yang pernah aku baca, anak usia dini sebaiknya tidak diajarkan untuk membaca dulu. Bahkan setahu saya, TK sekarang lebih sering tidak duduk di kursi, tapi lesehan, dengan anggapan bahwa usia mereka adalah usia bermain, bukan belajar di meja seperti pada umumnya anak belajar. Memaksakan anak belajar membaca terlalu dini ditakutkan anak akan mengalami kejenuhan membaca di saat yang seharusnya dia rajin membaca. Bisa saja anak sudah pintar membaca pada usia dini, tapi mungkin saat kelas 3 atau 4 SD dia mulai mengalami kebosanan. Teman2 lain sedang senang-senangnya membaca, dia sudah jenuh. 

Saat ini Ranka sudah TK B, rencananya tahun ini masuk SD. Dulu, Bu Guru TKnya pernah menanyakan ke kami, RanKa besok masih TK atau mau melanjutkan ke SD? Waktu itu jawaban kami Ranka masih TK saja. Mengingat umurnya yang baru 6th 2bln bulan Juni nanti. Sedangkan standard  masuk SD adalah usia 7th. Suatu saat ada ibu-ibu wali murid lain menanyakan Ranka besok TK atau SD? Saya jawab, masih TK, iya kan Bu Guru, yang kebetulan di dekat situ ada Bu Gurunya. Bu Guru tadi menjawab, iya Ranka, A, B, C, D (dia menyebutkan nama anak yang lain) masih TK, kalau X sudah SD karena sudah bisa membaca. Saya sebenarnya agak kaget mendengar jawaban ibu guru tadi. Bukan masalah Ranka yang masih TK, tapi alasan untuk anak lain yang masuk SD karena sudah bisa membaca, padahal umurnya masih di bawah Ranka.

Baca juga : Rahasia awet muda

Dari berbagai literature, dikatakan bahwa anak usia dini (TK) jangan diajarkan membaca dulu, tapi pada kenyataannya, kebanyakan SD mensyaratkan agar siswa yang baru masuk sudah bisa membaca. Bahkan saat mendaftar masuk SD (terutama SD favorit) diadakan tes membaca. Dari jawaban Bu Guru tadi, dan juga kenyataan di lapangan, tentunya itu membingungkan para orang tua. Bagaimana bisa kalau TK saja tidak boleh diajarkan membaca, tapi masuk SD sudah harus bisa membaca. Padahal dari dulu aku santai-santai saja untuk urusan kemampuan membaca Ranka.

Akhirnya untuk mengejar ketertinggalannya, Ranka kami mintakan les tambahan ke bu Guru. Jadilah Ranka seminggu tiga kali les privat sendiri sepulang sekolah. Setelah dua bulan, kami lihat kemampuan membacanya sudah banyak peningkatan. Memang kalau untuk menulis dia masih agak kesulitan. Dia kalau menulis sering terbalik, baik huruf maupun urutannya. Jadi kalau biasanya orang lain menulis dari kiri ke arah kanan, dia dari kanan ke arah kiri dengan huruf yang juga terbalik. Jadi kalau membaca memakai cermin, maka kita akan bisa membacanya dengan benar.   

Seperti diketahui, Ranka anak kidal, dan kalau aku perhatikan, Ranka juga mengalami kecenderungan apa yang disebut Disleksia. Semacam kesulitan membaca karena kelainan syaraf otaknya. Aku sendiri berfikir, mungkin karena kejang selama setengah jam yang dulu pernah dia alami setelah demam tinggi mungkin telah menyebabkan kerusakan syaraf otaknya. Mengingat simboknya saja SD dari kelas satu sampai kelas enam selalu juara satu, SMP maksimal rangking 6, dan masuk sekolah kejuruan Favorit. Tidak langsung kuliah karena tidak ada biaya, setelah bekerja bisa membiayai kuliah sendiri di dua tempat yang berbeda (walaupun akhirnya yang satu tidak selesai karena keburu nikah... ha..ha...). Jadi agak aneh rasanya kalau Ranka agak lambat beradaptasi dalam belajar. Karena itu pula sekarang Ranka ikut les menari, karena dia lebih interest di seni tari daripada harus belajar membaca dan menulis. (Dia juga sudah beberapa kali ikut pentas tari). Dia lebih betah menari 3 jam terus menerus dari pada belajar selama 15 menit. Kadang untuk mengakalinya belajar baca tulis, nanti dia aku minta menggambar atau menggunting, kemudian ditulis benda apa yang dia gambar itu. 

Apapun itu, aku berharap Ranka bisa mengikuti apa yang menjadi minatnya. Dia les membaca karena memang harus bisa membaca. Untuk selanjutnya terserah dia mau memilih bidang apa yang dia sukai. Kami selaku orang tuanya tidak keberatan kalau ternyata dia memilih sekolah seni atau yang lain dari pada sekolah formal. 

Untuk Yua, adiknya, karena melihat kakaknya belajar, secara otomatis dia juga ikut belajar, walaupun kadang justru menganggu, kalau sudah begitu biasanya belajarnya berhenti, diganti acara menari.... 

Bagi orang tua lain tentu punya gambaran sendiri kapan anaknya akan mulai belajar baca tulis. Setiap anak mempunyai kesiapan yang berbeda. Ada yang tanpa disuruh sudah rajin belajar atas keinginan sendiri, ada juga yang harus diberi semangat lebih agar dia mau belajar. Mungkin di situlah letak tanggung jawab orang tua untuk membimbingnya. 
 
 
==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 

Monday, November 21, 2011

Sumbangan Manten

pernikahan,Sumbangan,Budaya,sumbangan manten,Budaya Jawa,pengantin,tradisi,Tradisi Jawa,menikah,



Musim sumbangan telah tiba....  Jika musim panen, musim buah, musim hujan banyak ditunggu orang dengan gembira, maka musim sumbangan adalah musim yang paling menyedihkan bagi sebagian kaum simbok. Gimana tidak, dalam sebulan bisa tiga bahkan enam kali sumbangan.... kadang-kadang sehari bisa dua atau tiga undangan sekaligus. Wadhuh.....

Di masyarakat kita, terutama di daerah saya, Jogja, “pada umumnya” kalau orang punya hajatan (nikah, sunatan, kelahiran bayi), pasti disertai dengan sumbangan, memberi amplop berisi uang yang diberikan kepada si empunya hajat sebagai tanda “nderek bingah” atau ikut berbahagia atas hajatan tersebut. Ada juga yang sebelum hari H hajatan, si empunya hajatan mengirimkan makanan yang orang jawa biasa menyebutnya “besek”, "caos dhahar" (member makan), kepada kerabat, kerabatnya kerabat, teman, kenalan dan orang-orang yang dianggapnya perlu. Kemudian yang diberi “besek” tadi secara otomatis “wajib” memberi sumbangan kepada si pemberi. Sudah tradisi....

Dari sudut si empunya hajatan, di perkotaan, jika orang punya hajatan, dia menyewa tempat resepsi, semua jamuan sudah disediakan katering. Tamu tinggal datang, masukin amplop, bersalaman, makan, pulang.  Kalau di desa, tetangga dan kerabat dikumpulkan, bila perlu  yang biasa berdagang tutup dulu dagangannya, buruh dan karyawan libur dulu kerjanya, “rewang”, membantu tuan rumah masak dan mempersiapkan “ubo rampe” hajatan. Itu biasanya berlangsung selama dua sampai empat hari. Kalau hajatannya besar-besaran bisa sampai satu minggu. Hari H nyumbang, atau nyumbangnya pada saat hari pertama dia datang membantu “rewang”, setelah selesai ikut beres-beres.... Kadang orang yang punya hajatan dan “nompo”, biasanya dia juga memikirkan sesuatu yang akan diberikan sebagai balasan (ulih-ulih), biasanya berupa kue, nasi beserta lauk pauknya atau makanan lain. Jadi biaya yang akan dikeluarkan akan membengkak, mulai untuk membuat “besek”, hidangan hari H, makan bagi tetangga yang membantunya, ulih-ulih. Itu baru untuk urusan makan. Belum biaya yang lainnya.
  
 
Dari sudut si tetangga, kalau aku melihat, para tetangga itu menjadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Coba dipikir, sudah libur kerja, harusnya dapat uang malah tidak, capek membantu ini itu, masih harus menyumbang, yang kadang-kadang uang yang untuk menyumbang itu juga minjam ke orang lain dulu. Yang ada katanya mau menyumbang (yang notabene menyumbang itu harusnya iklas) tapi malah bersedih hati karena terpaksa dan memaksakan diri harus nyumbang. Yang punya warung, toko, terpaksa harus tutup karena depan toko dipakai untuk hajatan. Libur pendapatan hari itu (itu kalau cuma dipakai sehari, kadang sampai dua hari).
Itu baru nyumbang ke satu orang. Padahal kalau sedang musim nikahan kayak gini.... wah... berapa rupiah yang harus dipersiapkan untuk dana sumbangan. 

Aku sendiri, mencoba menerapkan tradisi baru. Saat aku mengadakan hajatan, saat nikah atau saat kelahiran bayi, tetangga akan menanyakan, “nompo ora?”, maksudnya menerima sumbangan atau tidak. Tradisi di keluargaku, “ora nompo”, artinya tidak menerima sumbangan. Kalau kita niatnya mau bersyukur, bersedekah, tidaklah perlu merepotkan orang lain dengan sumbangan. Kita seharusnya sudah berterima kasih kepada tetangga yang sudah meluangkan waktu dan tenaganya membantu hajatan kita. Tidak perlu dibebani lagi dengan sumbangan. Malah sebaiknya, di akhir acara kita memberikan bingkisan kepada mereka yang telah membantu kita sebagai tanda terimakasih. 

Baca juga : Rahasia awet muda

Kata orang-orang, “wah, sudah tradisi, jika tidak menyumbang tidak enak.” Ada yang bilang, ya gimana lagi.... namanya juga di masyarakat, “ngumumi”, sudah pada umumnya kayak gitu. Yah... kadang-kadang tradisi memang justru merepotkan. Jadi aku memulainya dari diriku sendiri. Jika orang lain yang punya hajatan, nikah atau kelahiran bayi, biasanya aku lebih memilih memberinya kado. Jika ada nikahan, aku akan datang jika ada undangan. Jika ada kelahiran bayi, jika memang tidak terlalu dekat dengan kita, aku nggak akan memaksakan diri ikut tetangga-tetangga lain nyumbang. Yang punya hajatan pun terkadang karena “tradisi” jadi dia terpaksa membuat acara-acara yang sebenarnya tidak diperlukan, yang membuatnya terjebak hutang karena biaya yang harus dikeluarkannya. 

Jika memang niat kita membuat syukuran, seharusnya juga membawa kegembiraan untuk orang-orang di sekitar kita. Bukan justru membuat mereka pusing tujuh keliling karena dana yang harus dia cari untuk orang lain yang sedang bergembira ria.
 
Untuk para pemilik hajatan, tidak usah cemberut kalau tetangga "hanya" menyumbang dengan jumlah yang sedikit. Bisa jadi di musim ini dia harus menyumbang 4 atau 8 kali hajatan. Nggak mungkin sebanyak itu...?! Mungkiiinnn sekali....!!

Merubah tradisi yang sudah nggak relefan ada baiknya juga kok....