Total Pageviews

Wednesday, July 10, 2013

CARA MURAH MENGHIAS RUMAH SAAT LEBARAN



CARA MURAH MENGHIAS RUMAH SAAT LEBARAN, lebaran, Idul Fitri, kue lebaran, dekor, dekorasi untuk lebaran, lebaran penuh makna, lebaran di kampung, suasana lebaran

 
Bulan Ramadahan sudah di depan mata. Anak-anak, bapak ibu, tua muda muslim, semua bersemangat menyambut puasa. Sebulan puasa kemudian lebaran... “what a perfect time”.  

Dalam rangka menyambut puasa dan lebaran, terutama kaum ibu, biasanya sudah disibukkan dengan sederet jadwal mulai dari menyiapkan menu buka puasa sampai baju lebaran.  Ada beberapa hal yang mungkin bisa saya bagi dalam rangka menyiapkan puasa dan lebaran kita kali ini.

Menu Sahur dan buka puasa
Sudah umum jika saat puasa anggaran makan keluarga membengkak. Ibu-ibu biasanya menyiapkan menu lebih istimewa dibandingkan hari biasa. Biasanya hal itu untuk lebih membuat bersemangat saat sahur, yang notabene males banget waktunya tidur nyenyak kok di suruh makan, jadilah ibu-ibu menyiapkan masakan penggugah selera. Untuk sahur biasanya bahan masakan sudah saya persiapkan siang harinya, jadi menyiapkan bahan untuk buka puasa sekalian untuk sahur, bahan sayuran sudah diracik (sudah dicuci dan dipotong-potong), kemudian disimpan, saat sahur kita tinggal memasaknya. Menu sahur biasanya dibuat masakan yang simple, yang bisa cepat disajikan. 
Pada saat menjelang buka, biasanya banyak penjual jajanan di pinggir jalan yang membuat semua ingin dicicipi. Akan lebih bijak jika kita memilih dua atau tiga item saja, toh pada saat berbuka biasanya perut nggak akan cukup untuk makan semua yang kita inginkan tadi siang.

Baju Lebaran.
Lebaran memang tidak harus mengenakan baju baru. Bagi orang tua, mungkin tidak masalah jika tidak mengenakan baju baru untuk dirinya sendiri, tapi bagi yang sudah mempunyai anak mungkin akan memikirkan untuk anaknya. Ada yang untuk gengsi orang tuanya, ada pula yang karena anaknya yang meminta, atau sekedar mengikuti kebiasaan umum. Sebetulnya anakku tidak meminta dibelikan baju baru untuk lebaran, kebetulan dia juga bukan anak yang suka minta sesuatu karena ikut-ikutan temannya.  Aku membelikan baju baru karena agar pada saat teman-temannya “bercerita” dia juga punya cerita. 
Untuk anak pilih baju yang lebih simple dengan bahan yang nyaman. Kadang demi gengsi orangtua, orangtuanya membelikan baju anak yang “wah” tapi ternyata si anak tidak nyaman karena gerah. Hal ini karena anak biasanya aktif bergerak dan bermain.
Biasanya  aku membeli baju baru jauh sebelum lebaran tiba. Lebih seringnya justru sebelum bulan puasa, atau paling mentok pada awal puasa. Dari sebelum menikah aku selalu begitu. Hal itu aku lakukan karena aku tidak suka terjebak keramaian. Kalau kita beli baju baru pada saat mendekati lebaran, toko-toko biasanya sudah penuh sesak oleh orang-orang yang juga mencari baju baru. Suasana jadi tidak nyaman karena terlalu ramai dan kita sendiri juga serasa diburu waktu. Belum lagi dana yang dipersiapkan bersamaan dengan dana lebaran yang lain. 
Hal lain yang perlu diingat adalah mode dan anggaran, lebih baik memilih baju yang sesuai dan nyaman untuk kita kenakan daripada mengikuti mode yang belum tentu pantas kita pakai. Lebih baik memilih baju dengan harga yang “wajar”, yang bisa kita pakai di berbagai kesempatan. Biasanya baju dengan harga “wah” desainnya juga lebih rumit yang mungkin hanya akan kita pakai tak lebih dari lima kali karena susah dipakai untuk acara lain.   

Ini bagus... tapi tidak cocok untuk ke acara lebaran

Kue Lebaran.
Menjelang puasa dan lebaran, kue kemasan kaleng dan mika memang sangat banyak disediakan di toko-toko dengan desain dan warna yang sangat menarik. Orang banyak membeli kue kaleng juga biasanya karena alasan kepraktisan.
Saat ini ada banyak dijual jenis kue curah yang rasa dan penampilannya tak kalah dengan kue kemasan/toples mika.  Selain mendapat makanan dari THR, aku lebih memilih membeli kue curah/kiloan dari pada kue kemasan kaleng/toples mika. Beli beberapa macam kue curah, simpan dalam toples kaca. Lebih baik membeli toples kaca dari pada toples plastik. Toples kaca akan tahan lebih lama dari pada toples plastik yang mungkin lebih mudah tergores atau warnanya yang memudar. Toples kaca juga membuat penampilan kue lebih menarik dan lebih elegan. Aku pernah meyampaikan kepada suamiku, jika suatu saat kamu punya karyawan, jika akan memberi THR berupa kue, lebih baik membeli kue curah kemudian simpan dalam toples kaca yang cantik. Kue kemasan kaleng atau toples mika, setelah isinya habis, kemasannya biasanya hanya akan dibuang, jika dimasukkan ke toples kaca, setelah isinya habis masih bisa diisi ulang dan masih bisa digunakan untuk lebaran berikutnya. Untuk tampil beda bisa ditambahkan pita cantik yang bisa diganti motif dan warnanya untuk tahun depan. Lagipula dengan menggunakan toples sendiri akan mengurangi sampah dari toples plastik atau kaleng sekali pakai. Mungkin akan sedikit lebih repot, tapi hasilnya akan lebih memuaskan. Lebih mantap lagi jika kita bisa mengisi toples dengan kue buatan sendiri. 

Toples kaca masih bisa digunakan untuk lebaran tahun depan, toples mika hanya sekali pakai saja.


Bersih-bersih rumah.
Setiap hari kita sudah bersih-bersih rumah. Tapi saat lebaran tiba, kita tentunya menginginkan rumah yang lebih bersih dan lebih indah dibandingkan hari-hari biasa. Ada baiknya bersih-bersih rumah jauh-jauh hari  sebelum lebaran.  Sebelum puasa mungkin bisa mencicil membersihkan pagar/tembok rumah dari lumut atau kotoran, kalau ada dana lebih bisa dicat ulang. Awal puasa membersihkan kaca dan mencuci gorden. Hari berikutnya membersihkan rak atau lemari dari debu, berikutnya mengganti sarung batal kursi. Begitu seterusnya. Kita tidak perlu mengerjakan hal itu setiap hari, tapi diselang seling beberapa hari, sehingga kita tidak merasa berat mengerjakannya. Dengan begitu menjelang lebaran kita tinggal mendisplai meja saja. 

Merubah tata letak furniture ruangan
Ada cara yang mudah jika kita ingin membuat perubahan suasana tanpa memerlukan banyak biaya, yaitu dengan merubah tata letak furniture pada ruangan (khususnya ruang tamu saat lebaran). Di rumah, saat ruangan sudah dibersihkan, tapi tetap terlihat berantakan dan membosankan, biasanya aku mengajak suamiku untuk mengatur tata letak ruangan. Tidak perlu barang baru, hanya menggeser letak meja kursi, merubah posisi, mengeluarkan barang-barang yang tidak diperlukan lagi.
Seiring berjalannya waktu, kadang kita tanpa sadar menimbun barang-barang yang mungkin tidak begitu perlu di rumah, tahu-tahu ruangan yang tadinya lega, berubah menjadi penuh sesak. Saat itulah kita perlu menyortir barang, mungkin mainan anak, buang mainan yang sudah rusak (ijin dulu sama anak, beri pengertian bahwa dia tidak memerlukan mainan itu dan masih banyak mainan yang lainnya yang masih layak), perkakas yang dipakai tapi tidak dikembalikan ke tempatnya semula, kipas angin, pajangan, printer, barang yang sebenarnya tidak diperlukan di ruangan itu, bahkan mungkin kertas-kertas promo dari supermarket atau nota yang terselip di sana sini.  
Singkirkan barang-barang yang tidak terpakai, tata ulang furniture. Perhatikan proporsi dan komposisinya, pastikan letak barang tidak mengganggu sirkulasi orang yang mungkin lalu lalang di ruangan itu. Kita akan melihat perubahan yang dramatis tanpa perlu mengeluarkan banyak biaya. Tidak perlu menunggu lebaran, lakukan jika ruangan sudah terasa penuh dan membosankan.

Baca juga : Rahasia awet muda

Finishing touch
Ada hal lain yang bisa membuat rumah kita terlihat lebih istimewa dibanding hari biasa. Rangkaian bunga atau tanaman. Kita tidak perlu membeli bunga yang harganya mahal. Cukup lihat tanaman yang ada disekitar rumah kita, pilih tanaman yang bagus, potong beberapa batangnya, cuci bersih, susun di dalam vas yang sudah berisi air. Rangkaian sederhana ini bisa mempercantik sudut meja atau sudut ruangan jika berukuran agak besar.  Jika tidak punya vas, kita juga tidak perlu membelinya. Pilih botol bekas atau gelas yang cantik sudah cukup. Mungkin tanaman atau bunga plastik lebih mudah dan lebih awet, tapi tanaman asli akan membuat suasana terlihat lebih natural.  

Toples bekas diisi air, ikan dan tanaman dari halaman sudah cukup untuk mempercantik sudut ruangan.

Semua hal di atas tidak hanya berlaku bagi kaum muslim saja lho... hal ini juga berlaku bagi penganut agama lain yang akan merayakan hari besar agamanya, bisa juga diterapkan saat rumah kita akan dipakai acara tertentu. 

Anyway... tidak ada yang lebih penting dari baju baru dan sajian menawan selain dari bagaimana kita menjalani puasa itu sendiri. 

Selamat menjalankan ibadah puasa dan berlebaran bagi yang menjalaninya....
  
 
 
==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 


Friday, June 1, 2012

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Belajar Membaca?

Kapan Sebaiknya Anak Mulai Belajar Membaca, Anaknya Sudah Bisa Membaca Bu?, Parenting, belajar,belajar membaca, Pendidikan Anak Usia Dini, PAUD,

 
Anaknya Sudah Bisa Membaca Bu?
Pertanyaan itu seringkali muncul terutama di masa-masa tahun ajaran baru untuk anak-anak yang memasuki usia SD.  

Dulu waktu masih kecil, aku biasa membacakan buku untuk Ranka, biasanya menjelang tidur dia minta dibacakan buku. Buku Favorit yang sering aku bacakan adalah buku bilingual “Don’t Be Affraid My Little Ones, Jangan Takut Anakku,” karya M. Christna Butler & Caroline Pedler. Selain itu aku juga memberi gambar-gambar untuknya. Setelah adiknya lahir, intensitas membaca buku jadi berkurang. Sebagai gantinya, aku juga sering memutarkan video tentang A B C D dan sejenisnya. Walaupun di rumah ada banyak buku dan sering diputarkan video edukasi, tapi secara khusus aku tidak pernah mengajarinya membaca secara langsung.  

Dari buku-buku, majalah ataupun internet yang pernah aku baca, anak usia dini sebaiknya tidak diajarkan untuk membaca dulu. Bahkan setahu saya, TK sekarang lebih sering tidak duduk di kursi, tapi lesehan, dengan anggapan bahwa usia mereka adalah usia bermain, bukan belajar di meja seperti pada umumnya anak belajar. Memaksakan anak belajar membaca terlalu dini ditakutkan anak akan mengalami kejenuhan membaca di saat yang seharusnya dia rajin membaca. Bisa saja anak sudah pintar membaca pada usia dini, tapi mungkin saat kelas 3 atau 4 SD dia mulai mengalami kebosanan. Teman2 lain sedang senang-senangnya membaca, dia sudah jenuh. 

Saat ini Ranka sudah TK B, rencananya tahun ini masuk SD. Dulu, Bu Guru TKnya pernah menanyakan ke kami, RanKa besok masih TK atau mau melanjutkan ke SD? Waktu itu jawaban kami Ranka masih TK saja. Mengingat umurnya yang baru 6th 2bln bulan Juni nanti. Sedangkan standard  masuk SD adalah usia 7th. Suatu saat ada ibu-ibu wali murid lain menanyakan Ranka besok TK atau SD? Saya jawab, masih TK, iya kan Bu Guru, yang kebetulan di dekat situ ada Bu Gurunya. Bu Guru tadi menjawab, iya Ranka, A, B, C, D (dia menyebutkan nama anak yang lain) masih TK, kalau X sudah SD karena sudah bisa membaca. Saya sebenarnya agak kaget mendengar jawaban ibu guru tadi. Bukan masalah Ranka yang masih TK, tapi alasan untuk anak lain yang masuk SD karena sudah bisa membaca, padahal umurnya masih di bawah Ranka.

Baca juga : Rahasia awet muda

Dari berbagai literature, dikatakan bahwa anak usia dini (TK) jangan diajarkan membaca dulu, tapi pada kenyataannya, kebanyakan SD mensyaratkan agar siswa yang baru masuk sudah bisa membaca. Bahkan saat mendaftar masuk SD (terutama SD favorit) diadakan tes membaca. Dari jawaban Bu Guru tadi, dan juga kenyataan di lapangan, tentunya itu membingungkan para orang tua. Bagaimana bisa kalau TK saja tidak boleh diajarkan membaca, tapi masuk SD sudah harus bisa membaca. Padahal dari dulu aku santai-santai saja untuk urusan kemampuan membaca Ranka.

Akhirnya untuk mengejar ketertinggalannya, Ranka kami mintakan les tambahan ke bu Guru. Jadilah Ranka seminggu tiga kali les privat sendiri sepulang sekolah. Setelah dua bulan, kami lihat kemampuan membacanya sudah banyak peningkatan. Memang kalau untuk menulis dia masih agak kesulitan. Dia kalau menulis sering terbalik, baik huruf maupun urutannya. Jadi kalau biasanya orang lain menulis dari kiri ke arah kanan, dia dari kanan ke arah kiri dengan huruf yang juga terbalik. Jadi kalau membaca memakai cermin, maka kita akan bisa membacanya dengan benar.   

Seperti diketahui, Ranka anak kidal, dan kalau aku perhatikan, Ranka juga mengalami kecenderungan apa yang disebut Disleksia. Semacam kesulitan membaca karena kelainan syaraf otaknya. Aku sendiri berfikir, mungkin karena kejang selama setengah jam yang dulu pernah dia alami setelah demam tinggi mungkin telah menyebabkan kerusakan syaraf otaknya. Mengingat simboknya saja SD dari kelas satu sampai kelas enam selalu juara satu, SMP maksimal rangking 6, dan masuk sekolah kejuruan Favorit. Tidak langsung kuliah karena tidak ada biaya, setelah bekerja bisa membiayai kuliah sendiri di dua tempat yang berbeda (walaupun akhirnya yang satu tidak selesai karena keburu nikah... ha..ha...). Jadi agak aneh rasanya kalau Ranka agak lambat beradaptasi dalam belajar. Karena itu pula sekarang Ranka ikut les menari, karena dia lebih interest di seni tari daripada harus belajar membaca dan menulis. (Dia juga sudah beberapa kali ikut pentas tari). Dia lebih betah menari 3 jam terus menerus dari pada belajar selama 15 menit. Kadang untuk mengakalinya belajar baca tulis, nanti dia aku minta menggambar atau menggunting, kemudian ditulis benda apa yang dia gambar itu. 

Apapun itu, aku berharap Ranka bisa mengikuti apa yang menjadi minatnya. Dia les membaca karena memang harus bisa membaca. Untuk selanjutnya terserah dia mau memilih bidang apa yang dia sukai. Kami selaku orang tuanya tidak keberatan kalau ternyata dia memilih sekolah seni atau yang lain dari pada sekolah formal. 

Untuk Yua, adiknya, karena melihat kakaknya belajar, secara otomatis dia juga ikut belajar, walaupun kadang justru menganggu, kalau sudah begitu biasanya belajarnya berhenti, diganti acara menari.... 

Bagi orang tua lain tentu punya gambaran sendiri kapan anaknya akan mulai belajar baca tulis. Setiap anak mempunyai kesiapan yang berbeda. Ada yang tanpa disuruh sudah rajin belajar atas keinginan sendiri, ada juga yang harus diberi semangat lebih agar dia mau belajar. Mungkin di situlah letak tanggung jawab orang tua untuk membimbingnya. 
 
 
==============================================

Cek juga tutorial menghias tumpeng : https://youtu.be/8YAUsn770A8

Baca juga : Buket Wisuda

Baca juga : Buket Uang  

Baca juga : contoh-berbagai-macam-mahar-pernikahan

Baca juga : Contoh seserahan/mahar part 1

 

===========================================

Cek ig saya yang berisi tentang buket dan craft yang lainnya : Gabah Craft & Creative

Youtube Tutorial Craft Syua Mada Craft & Creative

Youtube tentang perjalanan, budaya dan wisata : Syua Mada

Youtube tentang lirik lagu barat : Syua Mada Lirik

 

Monday, November 21, 2011

Sumbangan Manten

pernikahan,Sumbangan,Budaya,sumbangan manten,Budaya Jawa,pengantin,tradisi,Tradisi Jawa,menikah,



Musim sumbangan telah tiba....  Jika musim panen, musim buah, musim hujan banyak ditunggu orang dengan gembira, maka musim sumbangan adalah musim yang paling menyedihkan bagi sebagian kaum simbok. Gimana tidak, dalam sebulan bisa tiga bahkan enam kali sumbangan.... kadang-kadang sehari bisa dua atau tiga undangan sekaligus. Wadhuh.....

Di masyarakat kita, terutama di daerah saya, Jogja, “pada umumnya” kalau orang punya hajatan (nikah, sunatan, kelahiran bayi), pasti disertai dengan sumbangan, memberi amplop berisi uang yang diberikan kepada si empunya hajat sebagai tanda “nderek bingah” atau ikut berbahagia atas hajatan tersebut. Ada juga yang sebelum hari H hajatan, si empunya hajatan mengirimkan makanan yang orang jawa biasa menyebutnya “besek”, "caos dhahar" (member makan), kepada kerabat, kerabatnya kerabat, teman, kenalan dan orang-orang yang dianggapnya perlu. Kemudian yang diberi “besek” tadi secara otomatis “wajib” memberi sumbangan kepada si pemberi. Sudah tradisi....

Dari sudut si empunya hajatan, di perkotaan, jika orang punya hajatan, dia menyewa tempat resepsi, semua jamuan sudah disediakan katering. Tamu tinggal datang, masukin amplop, bersalaman, makan, pulang.  Kalau di desa, tetangga dan kerabat dikumpulkan, bila perlu  yang biasa berdagang tutup dulu dagangannya, buruh dan karyawan libur dulu kerjanya, “rewang”, membantu tuan rumah masak dan mempersiapkan “ubo rampe” hajatan. Itu biasanya berlangsung selama dua sampai empat hari. Kalau hajatannya besar-besaran bisa sampai satu minggu. Hari H nyumbang, atau nyumbangnya pada saat hari pertama dia datang membantu “rewang”, setelah selesai ikut beres-beres.... Kadang orang yang punya hajatan dan “nompo”, biasanya dia juga memikirkan sesuatu yang akan diberikan sebagai balasan (ulih-ulih), biasanya berupa kue, nasi beserta lauk pauknya atau makanan lain. Jadi biaya yang akan dikeluarkan akan membengkak, mulai untuk membuat “besek”, hidangan hari H, makan bagi tetangga yang membantunya, ulih-ulih. Itu baru untuk urusan makan. Belum biaya yang lainnya.
  
 
Dari sudut si tetangga, kalau aku melihat, para tetangga itu menjadi seperti sudah jatuh tertimpa tangga. Coba dipikir, sudah libur kerja, harusnya dapat uang malah tidak, capek membantu ini itu, masih harus menyumbang, yang kadang-kadang uang yang untuk menyumbang itu juga minjam ke orang lain dulu. Yang ada katanya mau menyumbang (yang notabene menyumbang itu harusnya iklas) tapi malah bersedih hati karena terpaksa dan memaksakan diri harus nyumbang. Yang punya warung, toko, terpaksa harus tutup karena depan toko dipakai untuk hajatan. Libur pendapatan hari itu (itu kalau cuma dipakai sehari, kadang sampai dua hari).
Itu baru nyumbang ke satu orang. Padahal kalau sedang musim nikahan kayak gini.... wah... berapa rupiah yang harus dipersiapkan untuk dana sumbangan. 

Aku sendiri, mencoba menerapkan tradisi baru. Saat aku mengadakan hajatan, saat nikah atau saat kelahiran bayi, tetangga akan menanyakan, “nompo ora?”, maksudnya menerima sumbangan atau tidak. Tradisi di keluargaku, “ora nompo”, artinya tidak menerima sumbangan. Kalau kita niatnya mau bersyukur, bersedekah, tidaklah perlu merepotkan orang lain dengan sumbangan. Kita seharusnya sudah berterima kasih kepada tetangga yang sudah meluangkan waktu dan tenaganya membantu hajatan kita. Tidak perlu dibebani lagi dengan sumbangan. Malah sebaiknya, di akhir acara kita memberikan bingkisan kepada mereka yang telah membantu kita sebagai tanda terimakasih. 

Baca juga : Rahasia awet muda

Kata orang-orang, “wah, sudah tradisi, jika tidak menyumbang tidak enak.” Ada yang bilang, ya gimana lagi.... namanya juga di masyarakat, “ngumumi”, sudah pada umumnya kayak gitu. Yah... kadang-kadang tradisi memang justru merepotkan. Jadi aku memulainya dari diriku sendiri. Jika orang lain yang punya hajatan, nikah atau kelahiran bayi, biasanya aku lebih memilih memberinya kado. Jika ada nikahan, aku akan datang jika ada undangan. Jika ada kelahiran bayi, jika memang tidak terlalu dekat dengan kita, aku nggak akan memaksakan diri ikut tetangga-tetangga lain nyumbang. Yang punya hajatan pun terkadang karena “tradisi” jadi dia terpaksa membuat acara-acara yang sebenarnya tidak diperlukan, yang membuatnya terjebak hutang karena biaya yang harus dikeluarkannya. 

Jika memang niat kita membuat syukuran, seharusnya juga membawa kegembiraan untuk orang-orang di sekitar kita. Bukan justru membuat mereka pusing tujuh keliling karena dana yang harus dia cari untuk orang lain yang sedang bergembira ria.
 
Untuk para pemilik hajatan, tidak usah cemberut kalau tetangga "hanya" menyumbang dengan jumlah yang sedikit. Bisa jadi di musim ini dia harus menyumbang 4 atau 8 kali hajatan. Nggak mungkin sebanyak itu...?! Mungkiiinnn sekali....!!

Merubah tradisi yang sudah nggak relefan ada baiknya juga kok....

Thursday, November 3, 2011

What Should I do...?


Malam-malem... mendengarkan deretan lagu soundtrack film New Moon, Twillight Saga. Hmmm... jadi terbawa suasana... nggak tau kenapa, jika mendengarkan lagu-lagu ini serasa sedang jatuh cinta saja... atau bahkan seperti sedang patah hati....  “Menikmati indahnya patah hati” kataku. “Patah hati kok dinikmati” kata suamiku.

***
Yah... setiap orang mempunyai cara-cara tersendiri saat menghadapi suatu situasi. Aku...? Yup ... its me....

** Jatuh Cinta.
Saat masih ABG, wow.... jatuh cinta sejuta rasanya.... Tapi jatuh cinta pada saat kita sudah punya pasangan ??? Wah....!!!!  Aku termasuk orang yang senang merasakan jatuh cinta. Jatuh cinta itu nggak harus dengan seseorang. Saat sedang merasa jatuh cinta, akan lebih indah jika kita memfokuskan perasaan kita terhadap suasananya... bukan sosok orangnya. Nikmati saja perasaan jatuh cinta kita. Perasaan itu bisa kita sampaikan melalui nyamannya saat menghirup udara pagi, memasukkannya dalam-dalam ke paru-paru, merasakan, dan menghembuskannya perlahan, menikmati alunan musik, menjauhkan diri dari TV sambil menikmati indahnya malam.... atau seperti perasaan kita saat menghirup bau tanah yang pertama kali tertimpa hujan...  Hmmm.... bukankah jatuh cinta itu indah.... 

** Patah Hati.
Ada jatuh cinta pasti juga ada patah hati. Dan siapa bilang patah hati itu tidak bisa dinikmati. Beberapa kali jatuh cinta... beberapa kali juga patah hati. Saat patah hati, perasaan seperti diiris-iris... nyeriiiii sekali....  Tapi ada saatnya kita bisa menikmatinya.... bukan untuk mencari kesalahan orang lain atau diri sendiri, bukan pula untuk menghujat. Tapi mendalami setiap sakit yang kita rasakan, merasakan setiap degub jantung... mendengarkannya.... menangis... hiks..

** Marah
Look at my face... Saat pertama kali bertemu, ada sebagian orang berpendapat, aku ini orang yang ramah dan banyak senyum. Tapi ada juga orang yang berpendapat kalau aku ini orang yang judes...   Yup.... memang benar semuanya. Aku memang senang dengan “sisi baikku”, itu membuat aku merasa lebih “cantik”. Tapi aku juga galak, karena memang itulah aku. Seingatku, aku pernah beberapa kali “berdebat” dengan orang (laki-laki, nggak pernah sama cewek). Kebetulan orang-orang itu adalah orang yang menurut orang lain, angkuh, sombong, sok berkuasa sewenang-wenang dan punya jabatan, dan pada umumnya jauh lebih tua, atau ada juga yang punya “kelainan”.  Aku memang lebih banyak diam. Tapi saat ada sesuatu yang menganggu, dan aku tahu pasti aku tidak bersalah, tentu aku akan menghandriknya. Kata orang, “Kok berani, dia kan ditakuti di sini..” Whalah... kenapa enggak... justru orang2 macem itu perlu sekali-sekali disyok terapi sama orang yang dianggapnya remeh.  Bukan masalah marahnya. Tapi agar dia tahu bahwa tidak semua orang bisa diremehkannya, bahwa agar dia juga belajar bahwa kekuasaan bukanlah senjata yang ampuh untuk melemahkan, bahwa agar dia sadar bahwa dia bisa jatuh tersungkur hanya karena kerikil kecil, agar dia belajar melihat dirinya sendiri. 
 
Baca juga : Rahasia awet muda

**Bertemu dengan pacar dan pacarnya yang lain.
Kebanyakan orang, terutama cewek, biasanya akan menghindar jika kebetulan melihat pacarnya jalan dengan orang lain, kemudian menangis tersedu-sedu di kamar atau marah2 dengan pacarnya itu di lain waktu. Atau ada juga yang begitu melihat langsung dilabrak habis-habisan tuh rivalnya.... Tapi... ada lho cara yang lebih asyik.  Misalnya saja kalau kebetulan mereka sedang makan, ikut aja bergabung makan, duduk di meja yang sama, santai saja, perkenalkan ke si rival kalau kamu pacarnya dia, jaga emosi agar tetap stabil, trus ngobrol deh biasa aja. Kalau aku sih lebih memilih melihat reaksi mereka berdua bagaimana dari pada harus membuang energi untuk marah-marah.  Toh kalau mereka berdua memang pacaran, berarti pacarmu itu memang nggak worthed untuk dipertahankan.

Bagaimana kalau yang selingkuh itu teman dan yang dia selingkuhi itu adalah temanmu juga? Pernah suatu ketika aku menelphon seorang teman, ternyata yang mengangkat seorang wanita, aku bertanya apakah ini mbak X, dia jawab bukan, kemudian saya bilang maaf salah sambung, saya  pikir mbak X, istrinya Y. Eh.. Y sudah punya istri ya? Tanya dia sambil tergagap. Sudah, ini saya mau mengucapkan selamat, istrinya baru saja melahirkan.  Kita memang nggak perlu ikut campur terhadap urusan orang lain, tetapi ketika keduanya adalah sahabatmu, aku pikir cukup adil jika orang ketiga itu tahu di mana posisi dia. Apakah ternyata dia merasa dibohongi karena berkencan dengan orang yang ternyata sudah menikah, atau memang dia sudah tahu sebelumnya tapi dia tetap bersikeras... itu adalah urusan dia. 




Kalau kamu ... ??? Gimana...????